Theatrical Love

Theatrical Love
Episode 10



Cal melirik gadis di sampingnya. Gadis itu tak memperlihatkan ekspresi apa pun di wajahnya yang dipulas dengan make-up natural. Bahkan sejak Cal menjemputnya di lobby apartemennya, gadis itu sama sekali belum membuka suara. Cal harus mengakui bahwa gadis itu cantik. Apalagi dengan gaun yang kini dikenakannya. Cal menemukan dirinya kembali terpesona. Jika saja hubungan mereka bukan sandiwara, dengan senang hati Cal akan mengerahkan segenap daya upayanya untuk mendapatkan ciuman dari bibir Avera di setiap menit kebersamaan mereka.


Cal segera menggelengkan kepalanya. Belakangan ini otaknya mulai melantur memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya dipikirkan.


"Kau ingin aku bersikap seperti apa pada keluargamu?" tanya Cal. "Seperti dirimu sendiri. Aku tidak ingin kau berpura-pura. Kau tidak


harus membuat mereka menyukaimu. Cukup yakinkan mereka bahwa kau benar-benar mencintaiku. Aku tidak ingin terlalu banyak kebohongan, karena akan sulit untuk menjaganya," jawab Avera.


Cal mengangguk. Mereka sudah sampai di rumah Avera. Setelah mobil berhenti, Cal melangkah keluar dan membukakan pintu untuk Avera. Cal mengulurkan tangannya seraya menatap kedua mata segelap langit malam milik Avera. Selama sesaat Cal melihat keraguan, namun akhirnya Avera menyambut uluran tangannya dan mereka berjalan memasuki rumah besar bercat putih itu.


Suara-suara mulai terdengar jelas ketika mereka melewati ruang tamu dan berjalan menuju ruang keluarga. Cal dapat merasakan kegugupan yang menguar dari Avera, namun Cal tidak memiliki waktu untuk menenangkan gadis itu.


Cal hanya mempererat genggaman tangan kirinya, berharap Avera dapat membuat pembukaan yang bagus untuk mereka berdua. Karena keberhasilan dari semua hal yang akan mereka lakukan bergantung pada satu hal kecil ini.


Setelah memasuki ruang keluarga, Cal merasa Avera mulai bisa menguasai kegugupannya. Hal ini terbukti dari reaksi Avera yang tidak berubah, bahkan setelah seluruh mata di ruangan tertuju padanya dan tak ada lagi suara yang terdengar. Avera berjalan tanpa ragu menuju seorang pria paruh baya yang sedang berdiri berhadapan dengan seorang gadis berambut merah. Mereka terlihat sedang berbicara serius, namun sekali lagi Avera tidak peduli dan melanjutkan niatnya.


"Selamat malam, Ayah. Aku ingin memperkenalkanmu pada Calvert Ellegra," ucap Avera.


Cal mengulurkan tangan kanannya-masih menggenggam tangan Avera di tangan kirinya-dan memperkenalkan dirinya.


Ayah Avera membalas uluran tangan Cal, lalu membalas, "James


Daelan. Dan siapa dirimu, anak muda? Apa hubunganmu dengan anakku hingga ia memperkenalkanmu padaku?"


"Aku adalah kekasih Avera," jawab Cal tanpa keraguan sedikit pun.


Keheningan terdengar semakin jelas setelahnya. Lalu James menggumamkan selamat datang pada Cal dan meminta seluruh anggota keluarganya untuk memasuki ruang makan setelah selesai berkenalan dengan Cal.


Proses perkenalan itu tidak membutuhkan waktu lama. Kedua paman Avera memberikan sambutan yang sama seperti ayah Avera, lalu memberikan kesempatan pada sepupu-sepupu Avera. Seluruh sepupunya sudah mengenal Cal, tentu saja melalui film-filmnya yang selalu merajai box office, dan perkenalan itu berubah menjadi ajang tanya-jawab. Dengan cepat Avera memutuskan untuk berhenti mendengarkan wawancara tak langsung yang dilakukan seluruh sepupunya pada Cal. Karena jujur saja, Avera belum pernah sekalipun menonton film yang disebutkan para sepupunya itu.


"Astaga, kau pasti bercanda, Avera! Bagaimana mungkin kau berkencan dengan Calvert Ellegra dan tidak memberitahuku?" pekik Patricia di telinga Avera.


Avera hanya bisa tersenyum, tak tahu bagaimana harus merespons. Tiba-tiba Avera merasakan sebuah tatapan yang tertuju padanya. Avera menoleh dan langsung bertatapan dengan Jill. Kakaknya itu melemparkan pandangan tak percaya, sementara Avera hanya membalasnya dengan seulas senyum datar.


Karena ini baru permulaan.


***


Avera tidak pernah menyangka Cal dapat berbaur dengan begitu mudah dalam keluarganya. Hanya dalam hitungan menit, Cal sudah mengantongi banyak suara yang berpihak padanya. Dan kini, Cal terlihat seperti bagian dari keluarganya.


Setelah makan malam selesai, mereka semua kembali berkumpul di ruang keluarga dan memulai sesi tanya-jawab mengenai Cal. Tanpa ragu Cal menjawab semua pertanyaan itu, kemudian mengusulkan topik lain. Dimulai dengan olahraga, politik, hingga film Cal sendiri. Avera menyadari usaha Cal untuk menghindari pertanyaan mengenai kehidupan pribadinya. Dan Avera tidak menyalahkan Cal, karena Avera pasti akan melakukan hal yang sama jika seluruh keluarganya telah tiada.


"Di mana pertama kali kalian bertemu?" tanya Patricia dengan semangat yang tidak disembunyikan. Diikuti oleh Sienna yang membulatkan matanya penasaran.


Pasalnya, terakhir kali Sienna berurusan dengan seseorang bernama Calvert Ellegra adalah untuk menyampaikan pesan dari Avera untuk mengatur jadwal pertemuan. Sienna tidak pernah tahu bagaimana kelanjutan dari pertemuan itu, karena Avera sangat sibuk sepulangnya dari Lombok.


Kini, ketika secara tiba-tiba Avera membawa Cal ke makan malam keluarganya dan mengumumkan status hubungan mereka, mau tak mau membuat Sienna bertanya-tanya hal apa yang sudah dilewatkannya.


Cal menoleh pada Avera, memberinya tatapan yang berkata "apa kubilang, mereka pasti menanyakannya‟, lalu mengubah tatapan itu menjadi penuh memuja dan mengecup tangan Avera yang ada dalam genggamannya.


"Resort Lombok. Saat itu Avera berdiri di tepi pantai. Ia tidak melakukan apa pun. Hanya berdiri diam di bawah sinar matahari dan membiarkan ombak bergulung di sekitarnya. Rambutnya tergerai dan aku melihat semburat merah yang mengagumkan. Entah berapa lama aku memandanginya, namun saat itu juga aku merasa telah menemukan sesuatu yang telah lama hilang," jawab Cal.


Cal terdiam sesaat, seolah mengenang penjelasannya itu, hingga membuat semua orang di sekitarnya menahan napas. Cal kembali menatap Avera dan mengulas sebuah senyum


"Aku menemukan sesuatu yang bisa kusebut indah. Avera tidak pernah hanya sekadar cantik bagiku. Ia adalah keindahan yang nyata," lanjut Cal.


Avera merasa jantungnya berhenti berdetak. Ucapan Cal terdengar begitu tulus. Seandainya Avera tidak tahu, ia pasti akan berpikir bahwa Cal benar-benar terpesona padanya. Avera tidak menyangka, selain berbakat sebagai sutradara, Cal pun berbakat dalam bidang akting.


Seluruh keluarga Avera bahkan tidak bisa berkata-kata, hanya menatap mereka dengan pandangan kagum. Yah, tidak semua, karena Jill tetap menatap Avera dengan penuh kebencian.


Tiba-tiba Cal bangkit berdiri, membawa serta Avera yang masih digenggam tangannya, lalu berlutut dengan satu kaki di hadapan Avera. Seulas senyum masih tersungging di wajahnya, sementara tangannya mengambil sebuah kotak cincin dari saku celananya.


Avera terkesiap, berusaha menampilkan ekspresi terkejut penuh haru. Meskipun ia tidak membutuhkan banyak usaha karena jantungnya benar- benar berdebar keras seolah ingin mematahkan rusuknya. Nada-nada terkejut pun terdengar dari keluarganya, dan keheningan sempurna membalut mereka.


"Avera Daelan, kau adalah mimpiku yang menjadi nyata. Kau membuat hidupku menjadi tertanggungkan; membuat segalanya terasa benar. Aku tidak bisa menjanjikan kebahagiaan sempurna untukmu, namun aku berjanji untuk selalu berada di sisimu. Mendukungmu. Melindungimu.


Dan mencintaimu. Menikahlah denganku," ucap Cal dengan kesungguhan di setiap kalimatnya.


Selama sesaat Avera kehilangan kemampuannya untuk berbicara. Matanya tak bisa berpaling dari warna biru-kehijauan yang begitu menenggelamkan di hadapannya. Lalu dengan tangan yang bergetar, Avera menyentuh salah satu sisi wajah Cal dan mengangguk.


"Ya. Aku akan menikah denganmu," sahut Avera.


Cal memasangkan cincin di tangan Avera, lalu bangkit berdiri dan membawa Avera dalam pelukannya.