Theatrical Love

Theatrical Love
Episode 9



Avera tidak peduli seberapa tampan pria di hadapannya ini, karena kesabarannya benar-benar sudah menipis. Sejak awal negosiasi, yang melibatkan banyak perdebatan juga sindiran tanpa henti, Avera tahu hidupnya akan semakin rumit. Namun Avera tidak menyangka, menahan kesabaran juga termasuk di dalamnya.


Astaga, bagaimana Avera sanggup melewatkan waktu satu tahun hidup bersama Cal jika beberapa jam saja sudah membuatnya gila?


"Jika kau ingin sesuatu yang istimewa, kau bisa meminta penulis naskahmu untuk mengarang sesuatu. Tentu saja aku tidak keberatan dengan cerita romantis yang tidak realistis," sahut Avera dengan nada mengejek di akhir kalimatnya.


"Tidak semua cerita romantis terdengar tidak realistis. Jika kau memiliki cukup imajinasi, kau bisa membuat sebuah cerita sederhana menjadi tak terlupakan," balas Cal.


"Yah, tidak semua orang bisa hidup hanya dengan imajinasi," sahut


Avera.


Cal mengangkat bahu, lalu mengatakan, "Menjadi kreatif tidak pernah melukai siapapun sebelumnya."


Avera mengatupkan bibirnya kuat-kuat. Selama beberapa saat mereka terlibat kompetisi saling menatap. Membuat sebuah pemikiran muncul di pikiran Cal, bagaimana rasanya mengulum bibir yang terkatup rapat itu? Sikap menantang Avera sungguh menggugah sesuatu yang telah lama tertidur dalam diri Cal.


Menit demi menit terus berlalu, hingga akhirnya Cal menawarkan seulas senyum perdamaian.


Avera tersentak. Bukan karena senyum Cal, namun karena sorot mata Cal yang bahkan sama sekali tidak berubah dengan senyum di wajahnya.


Dan... Avera Daelan baru menyadarinya.


Calvert Ellegra menyimpan duka yang sangat amat pekat.


Avera mengerutkan kening pada lemari pakaiannya. Seakan-akan benda itulah yang paling bersalah karena tidak menyimpan satu pun gaun yang terlihat cocok untuknya. Lebih tepatnya, cocok untuk seorang gadis yang akan mengumumkan pernikahan. Bukan berarti Avera peduli, namun hal yang akan dilakukannya ini merupakan sebuah kebohongan besar. Kesalahan sedikit saja bisa membuatnya gagal. Avera harus mengerahkan segala daya upayanya agar kebohongan ini berhasil dan membuatnya sukses mencapai tujuan.


Karena harga dari kebohongan ini sangat mahal. Avera harus rela menukarnya dengan tempat penuh kenangannya. Resort di Lombok adalah tempat pertama yang dibangun ayahnya bersama ibunya. Resort itu adalah tempat yang merekam jejak bahagia mereka dengan sempurna. Setiap desain diciptakan ayahnya dengan begitu hati-hati, ditemani ibunya yang senantiasa mendukung tanpa henti. Jika saja bisa, Avera tidak akan pernah melepas resort itu. Namun kini, prioritas hidupnya telah berubah dan Avera harus beradaptasi. Dan melepaskan resort itu termasuk dalam prosesnya.


Avera mendesah, lalu menjatuhkan diri di tempat tidurnya dan selama sesaat menghilangkan fokus pandangannya. Pikirannya berkelana pada percakapannya tadi siang dengan Cal di rumah sakit. Selama menunggu giliran mereka untuk tes kesehatan, Avera dan Cal saling bertukar informasi mengenai orang-orang terdekat mereka demi memperkuat pernikahan sandiwara itu.


Cal meminta Avera menjelaskan terlebih dahulu, maka Avera memberikan daftar lengkap anggota keluarganya juga kebiasaan-kebiasaan mereka. Cal hanya diam dan mendengarkan. Avera tidak tahu apakah Cal bisa mengingat semua informasi yang diberikannya, hanya saja dari satu hal kecil itu Avera tahu bahwa Cal adalah seorang pria yang bersungguh- sungguh.


Ketika Avera selesai, Cal tetap terdiam selama beberapa saat. Lalu Cal menatap Avera dan tersenyum, entah apa sesungguhnya arti dari senyum itu, karena kalimat yang mengiringinya sungguh mengiris hati.


"Aku hanya memiliki diriku sendiri. Kau tidak perlu khawatir tentang keluargaku, karena kau tidak akan pernah bertemu dengan mereka.


Anggap saja ini sebuah bonus untukmu."


Avera pun terdiam. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Fakta bahwa Calvert Ellegra sebatang kara di dunia ini bukanlah sebuah rahasia. Hester bahkan sudah memberitahunya sejak awal. Namun entah mengapa, mendengar pernyataan itu langsung dari Cal membuat Avera merasa sesak. Akhirnya, pembicaraan itu ditutup dengan suster yang memanggil nama mereka.


***


"Apa yang sedang kau lakukan?"


"Kau tidak bisa menemukan gaun yang cocok?" tanya Hester.


Avera mengangguk, membuat Hester tertawa lalu beranjak menuju lemari Avera dan mulai memilih gaun-gaun yang digantung di dalamnya.


"Untung saja aku sudah sangat mengenal kebiasaanmu ini hingga memutuskan untuk datang membantumu. Aku tahu kau pasti merasa gugup karena akan berbohong. Yah, kau tidak pernah pintar berbohong. Hanya wajah tanpa ekspresimu yang bisa meyakinkan orang-orang. Namun kau tidak bisa melakukannya, bukan? Karena mana ada seorang gadis yang sedang jatuh cinta memasang wajah tanpa ekspresi?" celoteh Hester.


"Aku tidak pernah berpikir bahwa kebohongan semacam ini membutuhkan banyak hal rumit. Dan tentu saja masih ada pernikahan. Lalu parade pasangan berbahagia selama satu tahun penuh. Aku yakin hidupku tidak akan pernah membosankan," balas Avera.


Tiba-tiba Hester membalikkan tubuh, menatap Avera dengan serius.


"Kau tidak akan mundur, bukan?" tanyanya.


Avera menggelengkan kepala dengan tegas. Menyerah sama sekali tidak ada dalam kamus hidupnya. Tidak peduli betapa sulit, jika hal itu menyangkut Jill dan keluarganya, Avera tidak akan pernah menyerah.


"Lalu bagaimana dengan perjanjian kalian?" tanya Hester lagi.


Avera mengangkat bahu, lalu menjawab, "Kami menandatanganinya hari ini sebelum pergi ke rumah sakit. Tidak ada yang istimewa kecuali fakta bahwa Daniel terus menatapku seakan aku sudah gila."


Daniel adalah pengacara Avera. Mereka bertemu sepuluh tahun yang lalu di sebuah pesta yang diselenggarakan keluarga Daelan. Sejak saat itu mereka berteman dan ketika Avera memutuskan untuk bekerja di perusahaan ayahnya, Daniel mengajukan diri untuk menjadi pengacara pribadinya. Selain Hester, satu-satunya teman yang dimiliki Avera dan masih bertahan bahkan setelah tragedi keluarganya tujuh tahun yang lalu adalah Daniel.


"Terkadang aku berpikir Daniel memiliki perasaan lebih untukmu," gumam Hester.


Hester mengeluarkan sebuah gaun berwarna merah dan Avera menggeleng, lalu berkata, "Kau terlalu banyak menganalisis sesuatu yang tidak nyata. Kami hanya berteman. Lagi pula bagaimana kau yakin Daniel memiliki perasaan yang lebih untukku? Kau tahu ia lebih pandai memasang wajah tanpa ekspresi. Atau bisa dikatakan ia hampir tidak pernah memasang ekspresi apa pun di wajahnya."


"Justru karena ia begitu, aku bisa dengan mudah mengetahuinya.


Cara Daniel menatapmu sangat berbeda, Avera. Seakan-akan kau adalah pusat dunianya. Entah bagaimana kau bisa melewatkan hal itu," sahut


Hester.


"Bisakah kau berhenti membahas hal-hal yang tidak nyata? Aku harus makan malam dengan keluargaku dalam waktu dua jam dan aku belum menemukan satu gaun pun," balas Avera.


Sebagai jawaban, Hester mengeluarkan sebuah gaun berwarna oranye dengan gradasi peach. Gaun itu jatuh tepat di atas lutut, tanpa bahu, dan mengembang di bagian pinggang. Serta-merta Avera membeku. Dari sekian banyak gaun yang belum pernah dipakainya, hanya gaun itu satu- satunya yang tidak akan pernah ia pakai. Karena gaun itu adalah hadiah ulang tahun dari ibunya tujuh tahun yang lalu. Gaun yang dirancang khusus oleh ibunya untuk pesta ulang tahun yang tidak pernah Avera rayakan. Ulang tahunnya yang kedelapanbelas.


"Tidak," tolak Avera.


"Avera, kau tidak memiliki banyak waktu. Kita tidak bisa pergi dan membeli gaun lain. Hanya ini satu-satunya gaun yang bisa mendukung sandiwaramu. Aku masih ingat betapa cantik kau dalam gaun ini, selain fakta bahwa warna gaun ini sangat cocok untukmu. Ayolah, Avera. Jika kau ingin berhasil, kau harus memakainya," bujuk Hester sungguh-sungguh.


Avera menghela napas. Memantapkan hatinya. Lalu berdiri dan mengambil gaunnya.


Cal belum pernah merasa segugup ini dalam hidupnya. Berkali-kali ia mengingatkan dirinya sendiri bahwa ini hanya makan malam biasa, dengan tambahan beberapa kalimat yang akan mengubah hidupnya. Jika hal sederhana seperti melamar saja bisa membuat Cal berkeringat dingin, bagaimana dengan pernikahan yang akan dilakukannya dua bulan lagi?