
Betapa menggelikan penilaian itu, mengingat para dewan direksi yang terhormat sama sekali tidak tahu tentang hal yang sebenarnya terjadi. Avera tidak membatalkan pernikahan jutaan dolarnya dengan Dion tanpa alasan. Terima kasih pada Jill untuk kegiatan menjijikkan yang dilakukannya dengan Dion, hingga Avera tidak memiliki keraguan atau penyesalan sedikit pun karena sudah mengambil keputusan yang membuat perusahaannya mengalami kerugian besar.
Jika saja para dewan direksi tahu kepribadian Jill yang sesungguhnya, tak membutuhkan waktu lama hingga mereka menendang Jill keluar dari perusahaan. Namun pada kenyataannya, takdir selalu memihak Jill. Dengan cerita menyedihkannya, ia mengambil hati setiap orang berkedudukan penting di perusahaan dan berhasil mengantongi banyak suara. Sedangkan di sisi lain, Avera justru mendatangkan kerugian besar dengan membatalkan pernikahan dan proyek pentingnya untuk pembangungan perumahan eksklusif itu masih berupa wacana.
Avera tidak bisa membiarkan Jill mengambil posisi itu. Avera tidak akan membiarkan Jill mendapatkan segala hal yang diinginkannya. Avera akan melakukan apa pun, bagaimanapun, agar ia yang terpilih sebagai pimpinan perusahaan.
Pintu kantor Avera terbuka dan Hester melangkah masuk. Tanpa kata, Hester menarik Avera keluar dari kantornya. Setelah berbagai perlawanan yang sia-sia, akhirnya Avera menyerah dan membiarkan Hester membawanya ke coffee shop yang ada di lobby gedung.
"Aku tidak mau mengulang cerita mengerikan itu, Hester," ucap Avera. "Kau tidak harus menceritakannya, aku sudah mendapat laporan lengkap dari Sienna. Termasuk hasil dari rapat dewan direksi hari ini. Aku datang untuk memberikan dukungan moral. Kau tahu aku tidak memiliki pekerjaan apa pun selain mengganggu Javier dan istrinya atau menunggu
Dareson pulang dari kantor," sahut Hester ringan.
Dua jam kemudian, setelah menghabiskan dua gelas kopi juga selusin donat, Avera merasa lebih baik. Mereka membicarakan segala hal yang tidak nampak penting, namun Avera senang karena bebannya seakan menghilang selama sesaat.
"Avera, bagaimana perasaanmu yang sebenarnya? Maksudku, setelah semua rencana pernikahan itu. Aku tahu kau tidak mencintai Dion, sejak awal kalian lebih terlihat seperti rekan bisnis, namun waktu satu tahun bukanlah waktu yang singkat," ucap Hester hati-hati.
Avera menghela napas. "Aku tidak tahu bagaimana seharusnya aku merasa, Hester. Tentu saja aku marah. Namun aku memiliki masalah yang lebih besar di sini. Dengan membatalkan pernikahanku, kesempatanku untuk menang dari Jill semakin kecil."
"Kalau begitu, kau hanya harus menikah. Jika pernikahan begitu penting dan bisa membuatmu menang, maka kau harus melakukannya," sahut Hester.
"Apa kau lupa? Aku baru saja menemukan calon suamiku berselingkuh. Jika aku mencari pria lain, di mana tepatnya aku bisa menemukan seorang pria muda yang belum menikah dengan latar belakang sempurna juga uang yang banyak dan bersedia menikahiku dalam waktu dua bulan?" balas Avera.
Hester membuka mulut, namun terpotong suara dering ponsel yang menyenandungkan intro lagu River Flows in You dari Yiruma. Hester langsung memutar matanya, tak percaya Avera masih menggunakan lagu itu. Sementara Avera yang tak peduli meneruskan percakapannya di ponsel dengan ekspresi serius. Setelah menurunkan ponselnya, Avera mendesah frustrasi.
"Calvert Ellegra sungguh membuatku gila. Bagian mana dari "tidak dijual‟ yang tidak bisa ia mengerti? Aku tidak mengerti mengapa ia begitu gigih ingin membeli resort-ku. Di antara sekian banyak resort yang kutawarkan sebagai gantinya, pria itu tetap saja memilih resort di Lombok.
Apa yang salah dengannya?" gerutu Avera.
"Apa kau baru saja mengatakan Calvert Ellegra?" tanya Hester serius. Begitu Avera mengangguk, Hester melanjutkan, "Kau ingat perjalananku ke
Los Angeles tahun lalu? Aku ke sana untuk menghadiri pemakaman temanku semasa kuliah, Kelly Ellegra. Ia adalah saudara kembar Calvert. Aku mendengar desas-desus bahwa kini Calvert berhenti menjadi sutradara karena memiliki obsesi yang berhubungan dengan kematian Kelly."
Beberapa menit kembali berlalu dan Avera masih berdiri membeku. Begitu pun Dion dan Jill yang masih sibuk menyerang wajah satu sama lain. Avera merasakan dorongan yang amat besar untuk menyakiti dua orang di hadapannya. Namun alih-alih melempar mereka berdua dengan benda- benda di sekelilingnya, Avera justru menetralkan ekspresinya dan bertepuk tangan.
Dion tersentak kaget hingga menjatuhkan Jill ke lantai begitu saja. Selama sesaat mereka saling bertatapan, lalu Dion melangkah mendekati Avera dan mencoba menjelaskan keadaannya. Sementara penjelasan Dion terus mengalir, Avera memindahkan tatapannya pada Jill. Ketika Dion menyentuh tangannya, Avera segera melangkah mundur dan melemparkan tatapan memperingatkan padanya.
"Aku rasa semua sudah jelas, Dion. Kau mendapatkan calon pengantin baru. Selamat. Aku akan mengirimkan karangan bunga yang besar untuk pesta pernikahan kalian nanti," ucap Avera datar.
"Dan itu adalah kesalahan yang sudah sering terulang," sela Jill dengan senyum penuh kemenangan.
"Tutup mulutmu!" sentak Dion.
Avera membalas senyum Jill, lalu membalas, "Senang mengetahui pekerjaanmu yang sebenarnya, gadis jal*ng."
"Bukan salahku jika calon suamimu lebih tertarik padaku. Mungkin kau terlalu membosankan dan tidak cantik. Ah, satu lagi; tidak seksi."
"Aku sarankan kau membeli kamus perbendaharaan kata yang baru.
Karena sejauh yang aku tahu, seksi memiliki arti yang sama sekali berbeda dengan prostitusi."
Perdebatan itu terhenti dengan kedatangan Ivander di sisi Avera. Avera hampir mendesah lega, tahu bahwa Ivander akan menyelesaikan segalanya tanpa membuat terlalu banyak keributan. Maka Avera kembali memusatkan perhatiannya pada Dion, yang kini semakin memucat di bawah tatapan Ivander, dan mengucapkan salam perpisahannya.
"Hubungan kita sudah berakhir. Jangan pernah muncul di hadapanku lagi. Dan lupakan tentang rencana pernikahan konyolmu. Kau bisa menikah dengan gadis jal*ng di belakangmu. Terima kasih sudah membuang waktu satu tahunku yang berharga untuk seorang pecundang sepertimu," ucap Avera dingin.
Satu detik setelah Avera membalikkan tubuh, Ivander bergerak maju dan menyarangkan sebuah tinju yang telak di wajah Dion. Avera menyadari kerumunan yang berada di belakangnya selama drama itu, namun ia tidak peduli. Avera bahkan mengabaikan tatapan khawatir Sienna dan terus berjalan. Ketika sampai di tangga, langkah Avera terhenti oleh sebuah pertanyaan ayahnya.
"Kau tahu apa yang telah kau lakukan?"
Avera diam.
"Kau akan kehilangan kesempatan besar dengan membatalkan pernikahan itu. Dion dapat memberikan segala hal yang kau inginkan. Selain fakta bahwa kau baru saja menghancurkan kerjasama paling menguntungkan di perusahaan untuk tahun ini.
Para dewan direksi tidak akan suka akan hal ini. Berhenti bersikap kekanakan dan berpikirlah seperti orang dewasa, Avera," lanjut James.
Avera hampir menyemburkan tawa histeris, namun dengan latihan yang sudah dijalaninya selama tujuh tahun, Avera berhasil menahannya dan tetap memasang wajah tanpa ekspresi.
"Tidak perlu khawatir, Ayah. Aku tahu apa yang kulakukan. Terima kasih karena sudah mengingatkanku bahwa ayahku adalah seorang pria tanpa hati. Selamat malam."
James mengiringi kepergian Avera dengan tatapan matanya. Dan ekspresi dingin itu sama sekali tidak berubah.
Avera membanting pintu kantornya dengan napas yang memburu. Hasil rapat dengan dewan direksi sama sekali tidak membuat perasaannya membaik. Faktanya, Avera merasa semakin depresi. Setelah semua hal buruk yang ia alami kemarin, Avera tidak percaya ada hal buruk lain yang menantinya hari ini.
Para dewan direksi mengancam akan mempercepat pemilihan pimpinan perusahaan dan pilihannya tentu saja bukan Avera, melainkan kakaknya yang murahan dan suka merusak segala hal itu. Mereka beranggapan Avera terlalu mementingkan emosi dan kurang kompeten atau dalam kata lain; Avera kurang profesional.