
"Cal! Turunkan aku!" jerit Avera panik.
"Seperti permintaanmu," balas Cal seraya melepaskan tangannya dari tubuh Avera dan membiarkan gadis itu jatuh.
Avera segera berdiri dan mencipratkan air ke arah Cal, lalu berusaha mendorongnya lagi. Pergulatan itu terus berlangsung dan baik Avera maupun Cal tidak sadar bahwa suara tawa mereka menarik perhatian separuh tamu undangan. Para fotografer bahkan sudah sibuk mengabadikan momen mereka itu dari berbagai angle yang berbeda. Namun Avera dan Cal masih berada dalam gelembung suka cita mereka, karena mereka sama sekali tidak menyadarinya.
Hari itu, kala matahari terbenam dengan diiringi derai tawa juga deburan ombak yang menenangkan, sebuah kenangan telah terbekukan dengan sempurna.
Kenangan tentang Avera Daelan yang tertawa lepas dalam pelukan Calvert Ellegra di hari pernikahan mereka.
Suara gaduh yang berasal dari dapur berhasil menyentak Cal keluar dari keseriusannya bermain game. Cal mematikan iPad-nya, bersiap menyaksikan pertunjukan rutin yang selalu dilakukan Avera sepulangnya dari kantor.
Hari ini genap tiga minggu mereka menikah-bukan berarti Cal menghitungnya, Cal hanya mengingatnya-dan setiap hari sejak mereka menikah Avera selalu menghabiskan waktunya di kantor. Setelah malam berubah larut, gadis itu akan pulang dengan wajah lelah juga tubuh yang nyaris ambruk. Karena itu tidak mengherankan setiap kali bergerak Avera akan menimbulkan keributan.
Dan Cal sangat suka melihatnya. Dalam diam. Bersama senyum yang tak mampu diukir wajahnya, namun perlahan mewarnai binar matanya.
Kembali terdengar suara benda yang jatuh, disusul pekik kesal Avera. Tak lama kemudian ponsel Avera berdering dan gadis itu mengatur napas sebelum menjawabnya.
Cal berusaha tidak mendengar percakapan Avera, namun pada akhirnya Cal mengerti inti percakapan itu. Tidak sulit mengingat Avera sudah berurusan dengan hal yang sama; masalah pembangunan sebuah perumahan elit dengan taman rekreasi eksklusif di dalamnya. Proyek itu adalah proyek terbesar Avera yang pertama dengan jabatannya sebagai CEO, sehingga bebannya menjadi dua kali lipat lebih berat.
Avera menaiki tangga, yang Cal asumsikan menuju kamarnya, namun tak lama kemudian gadis itu kembali turun. Kini dengan tangan yang dipenuhi berbagai berkas. Cal mengerutkan kening, lalu membuka suara tanpa berpikir lagi.
"Kau akan pergi?" tanya Cal.
"Ya. Aku harus kembali ke kantor," jawab Avera tanpa menghentikan kesibukannya memeriksa isi tas.
"Ini sudah larut malam," sahut Cal.
"Beritahu aku sesuatu yang tidak aku tahu," balas Avera. Suaranya keluar lebih tajam dari yang diinginkannya, namun Avera tidak peduli. Ia sudah memiliki cukup banyak masalah.
"Mungkin kau tidak tahu bahwa manusia memiliki batas. Kau tidak bisa bekerja dua puluh empat jam sehari. Ini sudah larut. Kau bisa kembali ke kantor besok pagi."
Keheningan merebak setelahnya. Avera tetap berdiri dengan tatapan tajam, sementara Cal masih duduk di sofa dengan sebelah alis terangkat. Bertentangan dengan Avera yang memasang ekspresi kaku, Cal justru menunjukkan wajah heran. Cal menolak menjadi yang pertama memecah keheningan, namun ia sama sekali tidak menyangka ucapan Avera selanjutnya akan membuatnya kehilangan ketenangan.
Avera berkata, "Kau tidak akan pernah mengerti tentang tanggung jawab. Kau tidak tahu beban yang berada di bahuku. Karena kau hanya sibuk membuat dunia impian di layar kaca. Kau tidak tahu seperti apa hidup sesungguhnya."
Tidak tahu?
Seketika ingatan Cal terlempar pada keluarganya. Pada segala sesuatu yang ia kira akan ia miliki selamanya. Segala sesuatu yang paling berharga baginya, namun terpaksa harus ia lepaskan atas satu alasan tak terbantahkan. Dan itulah hidup sesungguhnya.
Dalam satu gerakan cepat Cal berdiri dan menghampiri Avera. Berbagai emosi melintasi wajahnya, namun Cal tidak membiarkan Avera membacanya, karena Cal membalas ucapan Avera dengan telak.
"Setidaknya aku mampu hidup dengan menjual impian itu. Aku tidak perlu mengorbankan segalanya. Karena pada intinya, kita berdua sama saja. Sama-sama seorang pelayan yang selalu mengikuti keinginan klien. Perbedaan antara kau dan aku hanya setipis benang; aku merasa bahagia, tidak tersiksa selama prosesnya. Sedangkan kau harus hidup dalam neraka yang kau ciptakan sendiri."
Avera terpaku. Tak lagi mampu memikirkan sesuatu untuk membalas Cal. Karena jauh di lubuk hatinya yang terdalam, Avera menyadari kebenaran ucapan Cal itu.
Hanya saja Avera tidak mengira perasaan yang mengikuti kesadaran itu akan begitu menyakitkan.
Enam hari berlalu dengan ketegangan maksimal antara Cal dan Avera. Jika sebelumnya interaksi mereka terbatas pada tatapan mata dan anggukan kepala yang singkat, kini mereka menguranginya hingga ke tahap tidak memedulikan satu sama lain.
Pernah sekali waktu, Avera menjatuhkan berkas-berkas setinggi gunung yang dibawanya ketika menuruni tangga, namun Cal hanya terus melangkah tanpa melirik Avera sedikit pun. Dan kemarahan Avera yang berada di puncak semakin memaksa Avera untuk menambah ketinggiannya hingga menjadi super marah. Avera tahu tindakannya kekanakan, namun Avera tidak bisa melupakan perkataan Cal saat itu.
Avera enggan untuk mengakuinya, karena Avera tahu Cal benar. Itulah tepatnya yang membuat Avera menjadi seorang pengecut, dan hanya semakin menambah rasa pahit dalam hati Avera.
Sejak perdebatan itu, Avera merasa hidupnya semakin berat dan tidak menyenangkan.
Sungguh lucu, bukan? Seseorang yang hampir tidak dikenalnya berhasil memengaruhi hidupnya hingga sedemikian rupa. Dirinya, Avera Daelan, yang selalu memegang kendali penuh atas hidupnya kini mulai mempertanyakan banyak hal hanya karena kehadiran seorang Calvert Ellegra.
Hal serupa juga dirasakan oleh Cal. Ia berusaha mempertahankan aksi diamnya, namun kebiasaannya untuk memperhatikan Avera tidak bersedia absen. Cal mendapati dirinya semakin khawatir, karena Avera semakin sibuk dan terlihat semakin tertekan belakangan ini.