
Sebelum pria di hadapannya lari dan menganggapnya gila, Avera melanjutkan, "Hanya sementara. Kau tidak perlu menikahiku untuk selamanya. Aku hanya membutuhkanmu selama satu tahun. Setelah itu kau bebas pergi dariku dan sebagai imbalannya kau bisa mendapatkan resort ini."
Keheningan kembali merebak. Mereka berdua saling bertatapan. Ketika yakin bahwa Avera benar-benar serius, barulah Cal memecah keheningan.
"Biar kuperjelas. Kau bersedia menjual resort ini dengan syarat aku harus menjadi suamimu selama satu tahun. Apa aku benar?" ucap Cal.
Avera mengangguk.
"Bagaimana jika aku menolak syarat itu?" tanya Cal.
"Maka kau tidak akan pernah mendapatkan resort ini," jawab Avera tenang.
Mereka kembali tenggelam dalam keheningan. Cal sibuk dengan pikirannya, sementara Avera berusaha keras untuk menyembunyikan ekspresinya. Ketika detik demi detik yang menjelma menit terasa semakin mendebarkan, akhirnya Cal menghela napas dan menatap mata Avera.
"Aku akan memenuhi syaratmu," ucap Cal tegas.
Avera menghembuskan napas perlahan. Mata biru-kehijauan yang memerangkapnya dalam tatapan itu seakan tak memberinya celah untuk bernapas. Avera berdeham, mengalihkan pandangan, lalu memberikan salah satu map yang dibawanya. Map itu berisi perjanjian yang telah dibuatnya bersama Daniel, pengacaranya. Tanpa kata Avera mengulurkan map itu pada Cal.
Di dalamnya terdapat kertas berisi perjanjian dasar untuk pernikahan mereka. Hanya menerangkan bahwa kedua belah pihak sepakat untuk menikah, bertahan dalam pernikahan itu dalam waktu satu tahun, dan di akhir masa perjanjian nanti Avera akan memberikan resort-nya pada Cal. Lalu syarat-syarat lainnya yang akan mengatur kehidupan pernikahan mereka akan menyusul, berdasarkan kesepakatan dari kedua belah pihak.
Cal membacanya dengan seksama. Ia sama sekali tidak ragu ketika membubuhkan tanda tangan. Cal memberikan map itu kembali pada Avera, lalu menerima map lain yang berisi salinan kertas perjanjian itu dan menandatanganinya juga. Setelah itu Cal kembali menatap Avera. Cal tidak bisa menebak apa yang ada dalam benak gadis cantik di hadapannya, namun satu hal yang Cal tahu, gadis itu benar-benar tangguh. Meski tidak mengerti alasan dibalik pernikahan palsu ini, Cal mengagumi keberanian gadis itu.
"Mengenai syarat-syarat lain, umm. . . tentang hak dan kewajiban selama pernikahan, apa kau akan menegosiasikannya saat ini atau nanti ketika kau datang bersama pengacaramu?" tanya Avera.
"Aku lebih suka menyelesaikannya saat ini," jawab Cal.
Avera membuka map yang lain, lalu mengeluarkan dua lembar kertas kosong dan memberikan salah satunya pada Cal. Mereka berdua mulai menulis dan tak membutuhkan waktu lama bagi mereka untuk benar-benar larut di dalamnya. Ketika jarum pendek pada jam telah berganti, barulah mereka meletakkan bolpoin, kemudian saling bertukar kertas.
Avera terkejut melihat daftar syarat milik Cal yang berjumlah tujuh, sama persis dengannya. Mengesampingkan jantungnya yang entah mengapa berdebar cepat, Avera membaca satu persatu daftar syarat itu. Ternyata poinnya pun tak jauh berbeda. Satu hal yang membuat kening Avera berkerut hanyalah syarat mengenai pengurusan rumah. Cal tidak ingin memiliki pembantu, atau dengan kata lain Cal ingin mereka berdua yang mengurus rumah secara bergantian.
Sementara di sisi lain, Cal membelalakkan mata demi membaca syarat Avera mengenai ****. Avera menuliskan bahwa mereka tidak boleh mengkonsumsi pernikahan mereka, yang artinya mereka tidak bisa melakukan hubungan intim selayaknya suami-istri. Bukan berarti Cal memiliki niat untuk melakukannya, hanya saja syarat berikutnya sangat mengejutkan Cal. Avera menulis bahwa selama pernikahan berlangsung, mereka berdua dilarang keras melakukan hubungan yang melibatkan fisik dalam bentuk apa pun dengan orang lain. Syarat ini dengan jelas mengatakan bahwa Cal harus hidup selibat selama satu tahun.
Dalam hitungan detik mereka meletakkan kertas dan saling memandang tepat ke mata masing-masing. Avera dengan keningnya yang berkerut, sementara Cal dengan pandangan tak percaya.
"Aku tidak bisa menyetujui syaratmu mengenai kepengurusan rumah. Mungkin kau tidak tahu, tapi aku adalah seorang wanita karier. Tidak mungkin dengan jadwal kerjaku yang padat aku mampu mengurus rumah. Lagi pula tujuanku melakukan pernikahan sandiwara ini bukan untuk menjadi istri yang sesungguhnya, melainkan untuk mengambil alih perusahaan ayahku," ucap Avera.
Cal menaikkan sebelah alisnya demi mendengar nada protes yang keras dalam suara Avera. Selama sesaat Cal terdiam, lalu menyandarkan punggungnya tanpa memutuskan kontak mata dengan Avera. Dalam satu kalimat itu Cal mendapatkan jawaban atas pertanyaannya mengenai tujuan pernikahan sandiwara ini, juga melihat emosi yang benar-benar nyata dari wajah Avera. Meski samar, Cal tahu Avera ternyata tidak setenang yang ditunjukkannya.
"Aku juga tidak bisa menyetujui syaratmu mengenai hidup selibat selama satu tahun. Tujuanku menikahimu bukan untuk menjadi suami sesungguhnya, namun untuk mendapatkan resort ini," balas Cal tenang.
Serta-merta tubuh Avera menegang. Ia berusaha menutupinya, namun mata Cal yang telah terlatih dalam melihat bahasa tubuh sama sekali tidak tertipu. Ada alasan kuat dibalik syarat itu dan Avera menolak menjelaskannya.
"Aku akan membiarkanmu melakukan. . . yah, hal yang ingin kau lakukan. Selama itu tidak mengganggu pernikahan sandiwara ini, aku tidak peduli. Kau bisa tidur dengan wanita mana pun. Pastikan wanita itu menutup mulut. Dan sebagai gantinya kau harus membiarkanku memiliki pembantu rumah tangga," ucap Avera tegas.
Cal mengangguk dan mereka kembali menegosiasikan syarat-syarat lainnya. Dengan sedikit pengaturan, juga banyak perdebatan, akhirnya
negosiasi itu selesai. Avera membaca ulang syarat-syarat yang telah mereka setujui.
-Wajib menjaga kerahasiaan negosiasi selama perjanjian berlangsung. Pemberitahuan atau pembocoran dari isi perjanjian dalam bentuk dan kondisi apa pun dianggap sebagai pelanggaran dan perjanjian akan dibatalkan.
-Tidak melakukan kontak fisik selain di hadapan orang lain. Semua kontak fisik yang dilakukan hanya bertujuan untuk mendukung sandiwara.
-Tidak mengganggu privasi satu sama lain dan dilarang keras menyelidiki masa lalu masing-masing atas dasar apa pun.
-Semua jadwal atau kegiatan yang membutuhkan kehadiran kedua belah pihak harus diinformasikan minimal tiga hari sebelumnya.
-Biaya kehidupan selama pernikahan akan ditanggung oleh kedua belah pihak dengan pembagian sama rata. Termasuk biaya pernikahan, pembelian rumah, juga perceraian.
-Tidur secara terpisah. Kecuali pada saat-saat diharuskan seperti pada acara keluarga dan lainnya.
-Memiliki hak dan kewajiban yang sama di rumah. Untuk hal-hal yang tidak dilakukan oleh pengurus rumah, dalam hal ini membersihkan kamar pribadi, harus dilakukan sendiri tanpa campur tangan pihak lain.
-Hak dalam memenuhi kebutuhan fisik harus dilakukan dengan hati-hati dan tetap menjaga kerahasiaan perjanjian.
-Kedua belah pihak wajib melakukan tes kesehatan setiap tiga bulan sekali. Tes pertama dilakukan setelah pengesahan perjanjian dan tes selanjutnya terhitung sejak tanggal itu.
-Dalam kondisi apa pun, dilarang keras berpisah sebelum tenggat waktu yang telah ditetapkan. Pengalihan kepemilikan resort hanya bisa dilakukan satu tahun setelah pernikahan.
-Alasan dari perceraian akan didiskusikan pada waktunya. Dilarang menggunakan alasan yang merugikan salah satu pihak.
Avera meletakkan kertasnya, lalu mengatakan, "Aku akan memperkenalkanmu pada keluargaku minggu depan, di acara makan malam keluarga. Aku tidak peduli bagaimana kau ingin melakukannya, namun pastikan kau melamarku malam itu dan kita akan menikah dua bulan setelahnya."
"Bagaimana dengan cerita? Kau tahu, orang akan bertanya-tanya. Jika aku tidak salah ingat, kau memiliki tunangan yang akan menikahimu akhir tahun ini, bukan?" balas Cal.
"Katakan saja kita bertemu di resort ini, aku terpesona padamu dan kau terpesona padaku, lalu kita memutuskan untuk menikah," sahut Avera seadanya.
Cal berdecak, lalu berkata, "Tidak akan ada yang percaya pada cerita itu."
Avera menyipit, berusaha keras menahan tangannya yang sudah siap melempar bolpoin ke wajah tampan Cal.