
Beberapa menit kembali berlalu dan Avera masih berdiri membeku. Begitu pun Dion dan Jill yang masih sibuk menyerang wajah satu sama lain. Avera merasakan dorongan yang amat besar untuk menyakiti dua orang di hadapannya. Namun alih-alih melempar mereka berdua dengan benda- benda di sekelilingnya, Avera justru menetralkan ekspresinya dan bertepuk tangan.
Dion tersentak kaget hingga menjatuhkan Jill ke lantai begitu saja. Selama sesaat mereka saling bertatapan, lalu Dion melangkah mendekati Avera dan mencoba menjelaskan keadaannya. Sementara penjelasan Dion terus mengalir, Avera memindahkan tatapannya pada Jill. Ketika Dion menyentuh tangannya, Avera segera melangkah mundur dan melemparkan tatapan memperingatkan padanya.
"Aku rasa semua sudah jelas, Dion. Kau mendapatkan calon pengantin baru. Selamat. Aku akan mengirimkan karangan bunga yang besar untuk pesta pernikahan kalian nanti," ucap Avera datar.
"Avera, maafkan aku. Itu semua kesalahan. Kau tahu aku hanya mencintaimu. Aku berjanji tidak akan mengulanginya. Itu hanya kesalahan, percayalah padaku," sahut Dion panik.
"Dan itu adalah kesalahan yang sudah sering terulang," sela Jill dengan senyum penuh kemenangan.
"Tutup mulutmu!" sentak Dion.
Avera membalas senyum Jill, lalu membalas, "Senang mengetahui pekerjaanmu yang sebenarnya, gadis jal*ng."
"Bukan salahku jika calon suamimu lebih tertarik padaku. Mungkin kau terlalu membosankan dan tidak cantik. Ah, satu lagi; tidak seksi."
"Aku sarankan kau membeli kamus perbendaharaan kata yang baru.
Karena sejauh yang aku tahu, seksi memiliki arti yang sama sekali berbeda dengan prostitusi."
Perdebatan itu terhenti dengan kedatangan Ivander di sisi Avera. Avera hampir mendesah lega, tahu bahwa Ivander akan menyelesaikan segalanya tanpa membuat terlalu banyak keributan. Maka Avera kembali memusatkan perhatiannya pada Dion, yang kini semakin memucat di bawah tatapan Ivander, dan mengucapkan salam perpisahannya.
Satu detik setelah Avera membalikkan tubuh, Ivander bergerak maju dan menyarangkan sebuah tinju yang telak di wajah Dion. Avera menyadari kerumunan yang berada di belakangnya selama drama itu, namun ia tidak peduli. Avera bahkan mengabaikan tatapan khawatir Sienna dan terus berjalan. Ketika sampai di tangga, langkah Avera terhenti oleh sebuah pertanyaan ayahnya.
"Kau tahu apa yang telah kau lakukan?"
Avera diam.
"Kau akan kehilangan kesempatan besar dengan membatalkan pernikahan itu. Dion dapat memberikan segala hal yang kau inginkan. Selain fakta bahwa kau baru saja menghancurkan kerjasama paling menguntungkan di perusahaan untuk tahun ini.
Para dewan direksi tidak akan suka akan hal ini. Berhenti bersikap kekanakan dan berpikirlah seperti orang dewasa, Avera," lanjut James.
Avera hampir menyemburkan tawa histeris, namun dengan latihan yang sudah dijalaninya selama tujuh tahun, Avera berhasil menahannya dan tetap memasang wajah tanpa ekspresi.
"Tidak perlu khawatir, Ayah. Aku tahu apa yang kulakukan. Terima kasih karena sudah mengingatkanku bahwa ayahku adalah seorang pria tanpa hati. Selamat malam."
James mengiringi kepergian Avera dengan tatapan matanya. Dan ekspresi dingin itu sama sekali tidak berubah.
Avera membanting pintu kantornya dengan napas yang memburu. Hasil rapat dengan dewan direksi sama sekali tidak membuat perasaannya membaik. Faktanya, Avera merasa semakin depresi. Setelah semua hal buruk yang ia alami kemarin, Avera tidak percaya ada hal buruk lain yang menantinya hari ini.
Para dewan direksi mengancam akan mempercepat pemilihan pimpinan perusahaan dan pilihannya tentu saja bukan Avera, melainkan kakaknya yang murahan dan suka merusak segala hal itu. Mereka beranggapan Avera terlalu mementingkan emosi dan kurang kompeten atau dalam kata lain; Avera kurang profesional.