Theatrical Love

Theatrical Love
Bertemu Sahabat



Kini Avera mengerti. Inilah hidupnya sekarang. Ibunya berada di rumah sakit jiwa, ayahnya berubah menjadi kejam, dan ia memiliki seorang kakak yang mengerikan. Dengan segala sesuatu yang berubah, Avera berusaha menyerapnya menjadi satu pemahaman.


Dan ketika pemahaman itu datang, Avera memutuskan bahwa ia akan bertahan. Ia akan tetap berdiri, memperjuangkan seluruh haknya. Ia tidak akan pergi hanya karena seseorang datang dan menghancurkan hidupnya.


Avera Daelan akan mengajarkan Jillian Voletta arti kehancuran yang sesungguhnya.


di Lombok.


Avera menatap pantai yang terbentang luas di hadapannya dengan pandangan kosong. Jemari kakinya yang menyatu dengan pasir hampir tidak merasakan apa pun kecuali tekstur uniknya; lembut sekaligus kasar. Matahari telah lama terbenam di langit barat, namun Avera masih enggan untuk beranjak. Avera bahkan tidak peduli pada pesta-pesta ulang tahunnya yang ke-22-yang saat ini berlangsung di belakangnya.


Avera suka sendiri, karena dengan begitu ia tidak perlu berpura-pura bahagia.


Sudah empat tahun berlalu sejak perubahan besar dalam hidupnya dan Avera menemukan dirinya kehilangan segala hal yang ia percayai dalam hidup.


Sejak saat itu, Avera belajar lebih banyak juga berusaha lebih keras. Ia bahkan merelakan pendidikan seni rupa yang selalu menjadi impiannya dan pindah ke jurusan arsitektur. Avera menata dirinya kembali dari awal.


"Aku benci penyihir itu. Ia benar-benar menyerupai Bellatrix Lestrange dari film Harry Potter. Hanya warna rambut saja yang membedakan mereka. Rasanya aku ingin memukulnya dengan sepatuku. Bagaimana mungkin gadis mengerikan itu adalah kakakmu? Pasti terjadi kesalahan bencana di sini."


Avera tersenyum bahkan sebelum melihat orang yang menyapanya dengan rentetan kalimat itu. Ketika Avera berbalik, sebuah pelukan hangat menyambutnya. Avera mengurai pelukan dan tertawa ketika melihat ekspresi kesal yang ditampilkan sahabatnya itu.


Avera.


"Kau bercanda, bukan? Kau lebih tua tiga tahun dariku-sudah bekerja pula-maka kau yang harus memberiku hadiah," balas Hester tak mau kalah.


"Aku rasa aku melupakan hadiahmu. Kau tahu, dengan semua kesibukan mengurus pesta ini, bagaimana mungkin aku sempat memikirkan hal lain?" sahut Avera dengan wajah polos.


Mereka terus menggoda satu sama lain hingga Hester kembali memeluk Avera dan mengucapkan selamat ulang tahun dengan tulus. Avera mengatakan hal serupa, dalam hati menambahkan ribuan terima kasih atas kesabaran Hester untuk terus menemaninya selama masa-masa terburuk dari perubahan hidupnya.


Avera telah mengenal Hester seumur hidupnya. Dulu, ibu mereka merupakan sahabat karib. Diikuti oleh ayah mereka yang kemudian mendapat banyak keuntungan dengan menjalin kerjasama; ayah Hester menjalankan perusahaan konstruksi sementara ayah Avera memiliki perusahaan desain arsitektur. Ketika ibu Hester meninggal saat melahirkannya, ibu Avera bersikeras untuk merawat Hester hingga ia cukup besar untuk bisa dipercayakan pada pengasuh. Sejak itu, ibu Avera menganggap Hester juga Javier-kakaknya-sebagai anaknya sendiri dan mereka hampir tak terpisahkan.


Kini, sementara Avera sibuk mengurusi segala hal di perusahaan ayahnya bersama kakaknya yang mengerikan, Javier sudah melakukan konser piano ke berbagai negara dan Hester direkrut langsung oleh penari hebat Julliard. Lebih hebatnya lagi, Faxson Keane-ayah mereka- mendukung sepenuhnya. Terkadang Avera begitu iri melihat Hester dan Javier yang meskipun tidak memiliki keluarga sempurna, namun selalu mampu untuk berbahagia.


"Kau akan bahagia, Avera. Suatu hari nanti, kau akan menemukannya.


Seperti yang selalu dikatakan ayahku. Percayalah," ucap Hester lembut.


Meski dalam hati Avera tak memercayai ucapan Hester sedikit pun, Avera tidak mengatakannya. Avera telah berhenti percaya pada banyak hal sejak waktu yang lama. Avera bahkan tidak ingat kapan terakhir kali ia berkenalan dengan orang baru tanpa perasaan curiga di hatinya. Avera sudah menyerah pada kata percaya. Ada banyak kemungkinan untuk semakin terluka dalam satu kata sederhana itu. Dan Avera sudah memiliki cukup banyak luka untuk mampu ditanggungnya sendiri.