Theatrical Love

Theatrical Love
Gaun Pengantin



Jakarta.


"Aku tidak percaya kau benar-benar mengalami ini," gumam Hester seraya membantu Avera merapikan gaun pengantin ketigapuluh yang dicobanya.


Avera menatap pantulan dirinya dalam cermin dan mendesah. Gaun ini sama buruknya dengan gaun terakhir yang dicobanya. Bagaimana mungkin mencari gaun pengantin sama sulitnya dengan mengambil alih perusahaan ayahnya? Avera tidak mengerti. Demi Tuhan, apa yang salah dengan para desainer gaun pengantin ini?


"Aku juga tidak percaya hal ini benar-benar terjadi. Aku tidak kesulitan dalam menentukan gaunku yang sebelumnya. Hanya satu kali lihat dan semua selesai. Namun sekarang, bahkan setelah gaun ketigapuluh dan menghabiskan waktu lima jam di butik ini, aku masih belum mendapatkan gaunku!" sahut Avera dengan nada kesal.


"Itulah yang kau dapatkan ketika kau mencari gaun pengantin di saat- saat terakhir. Apa yang sebenarnya kau pikirkan, Avera? Pernikahanmu akan dilangsungkan bulan depan dan kau hanya menyempatkan waktu satu hari untuk mempersiapkannya? Aku tahu kau begitu sibuk dengan segala pengalihan kekuasaan di perusahaan itu, namun bukan berarti kau bisa mengabaikan persiapan pernikahanmu!" omel Hester.


Avera hanya mengerutkan bibirnya, tak mau membalas ucapan Hester karena ia tahu semua kekacauan ini murni kesalahannya. Karena terlalu sibuk mengurus pekerjaannya, Avera mengabaikan persiapan pernikahannya. Ia bahkan tidak mengecek ulang segala persiapan yang dilakukan oleh wedding organizer yang disewanya. Selama satu bulan Avera tenggelam dalam rutinitas sebagai CEO yang baru-terima kasih pada Cal yang berperan besar sebagai calon suaminya juga sebagai investor baru di perusahaannya-dan persiapan untuk beberapa proyek besar yang berusaha ia menangkan. Sering kali Avera melewatkan waktu istirahat, termasuk waktu tidurnya, hingga ia selalu mengesampingkan masalah pernikahan ini.


"Aku pernah mengalami hal ini sebelumnya bersama Adrienne. Ia mencoba ratusan gaun sebelum akhirnya mendapatkan yang ia inginkan. Dan gaun itu dipilih oleh Javier. Menurutmu, haruskah kita memanggil Cal?


Mungkin masalah gaun ini akan selesai," balas Hester.


"Aku tidak menikahinya dengan sungguh-sungguh, Hester. Dengan sekali lihat saja kau bisa tahu betapa besar perbedaan antara pernikahanku dan pernikahan Javier. Aku terlalu hampa dan datar, sementara Javier begitu bahagia dan penuh cinta. Dan untuk apa memanggil Cal? Ia tidak akan peduli pada penampilanku," tukas Avera.


Hester mengangkat kedua alisnya, lalu berkata, "Aku tidak buta,


Avera. Meskipun aku tahu kalian hanya menikah di atas kertas, aku bisa melihat chemistry di antara kalian. Dan aku berani bertaruh, Cal pasti peduli pada penampilanmu. Bagaimanapun, kalian akan menikah, bukan pergi rekreasi ke taman hiburan."


"Aku tidak percaya itu dan aku juga tahu kau tidak memercayainya," sahut Hester lugas.


Avera menghela napas. Tidak mau memperpanjang perdebatan tanpa ujung mereka.


Sebuah ketukan terdengar di pintu kamar ganti, membuat Avera dan Hester saling memandang bingung. Dengan ragu, Hester membuka pintu dan sosok Cal yang nampak kasual dalam balutan kemeja putih dan celana khaki memenuhi penglihatan mereka.


Cal menyapa Hester, lalu beralih menatap Avera dan berkata, "Aku memiliki sesuatu untukmu."


Kemudian dua wanita petugas butik datang dengan membawa sebuah kantong gaun. Avera melayangkan pandangan bertanya pada Cal dan Hester terkesiap.


"Sementara kalian sibuk berdebat, aku sudah memilihkan satu gaun untuk calon pengantinku," jelas Cal tenang.


Avera tidak membalasnya, hanya menutup pintu dan membiarkan petugas butik membantunya untuk mencoba gaun yang Cal pilih.


"Apa ia benar-benar mendengarkan pembicaraan kita?" tanya Hester. "Aku tidak tahu," jawab Avera.


Avera mengingat saat pertama kali ia memperkenalkan Cal pada Hester, sebagai satu-satunya orang yang mengetahui pernikahan sandiwara mereka.