
Avera tidak mengharapkan apa pun dari perkenalan itu. Namun seperti biasa, Cal dengan mudah menarik simpati Hester dan mereka berteman. Selama satu bulan terakhir Avera harus selalu mengingatkan dirinya bahwa bukan masalah besar jika sahabatnya berteman dengan calon suami palsunya.
Lima menit kemudian, kamar ganti itu diselimuti keheningan total. Semua orang menatap cermin dengan ekspresi wajah yang sama; kagum, tak percaya, juga iri. Karena gaun yang kini melekat di tubuh Avera sangat sempurna. Gaun berwarna putih itu sederhana; tanpa bahu, panjangnya hingga menyapu lantai dengan ukiran elegan yang abstrak di seluruh permukaannya, dan hanya terikat oleh sebuah pita di bawah dada. Namun entah mengapa gaun itu terlihat begitu istimewa. Dan dengan Avera yang memakainya, gaun itu terlihat semakin mengagumkan.
"Oh, sial. Gaun ini begitu indah. Sangat sesuai dengan tema pernikahanmu, Avera! Kau terlihat sangat cantik," puji Hester dengan napas tercekat. Lalu melanjutkan, "Cal harus melihat ini!"
"Tidak, tunggu. . ."
Ucapan Avera terhenti karena Hester sudah membuka pintu kamar ganti dan sepasang mata berwarna biru-kehijauan menatapnya langsung dengan kekaguman yang tak disembunyikan.
Cal harus mengalihkan pandangannya. Ia tahu, namun hal itu menjadi mustahil ketika Avera yang menjadi tumpuan pandangannya. Sosok Avera yang kini terbalut dalam gaun pengantin, dengan rambut terurai juga semburat merah yang samar di kedua pipinya sungguh membuat Cal kehilangan kata.
Cal sudah melihat banyak gadis cantik-lebih cantik dari Avera bahkan-namun ada sesuatu dalam diri Avera yang membuat Cal selalu terpaku dalam tudung pesona ketika menatapnya. Membuat Cal tak mampu berkata dan enggan untuk beranjak.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Hester.
Cal berdeham, lalu menjawab dengan datar, "Avera terlihat cantik."
Sesuatu berubah dalam ekspresi Avera. Seakan-akan gadis itu mengajukan protes demi mendengar nada suara Cal. Seulas senyum mengembang di wajah Cal. Senyum yang benar-benar ditujukannya untuk Avera.
Dan Cal melanjutkan, "Ia selalu terlihat cantik. Meski Avera Daelan tidak pernah hanya sekedar cantik bagiku."
Malam ini adalah jadwal makan malam keluarga besar Daelan. Sesuai dengan perjanjian, Cal harus selalu menghadiri makan malam itu. Cal sama sekali tidak keberatan-karena sekarang ini ia tidak memiliki pekerjaan dan hanya menghabiskan waktunya dengan bermain game-namun gadis di sisinya bersikap seolah-olah bersiap menuju medan perang.
"Bisakah aku bertanya sesuatu?" tanya Cal. Avera mengangguk.
"Mengapa kau membenci keluargamu?" tanya Cal kemudian.
Avera mengerutkan kening. "Aku tidak membenci keluargaku," jawabnya tegas.
"Mungkin kata itu tidak tepat. Namun ada sesuatu tentangmu yang selalu bersikap antipati. Aku tidak tahu, karena itu aku menanyakannya padamu. Juga mengenai ayahmu. Apakah ia selalu sedingin itu? Dan kakakmu. Mengapa ia memperlakukanmu dengan kasar?" balas Cal.
Avera terdiam.
"Kau tahu, jika kau ingin rencana ini berhasil, kau harus memberitahuku. Kita akan menikah. Orang-orang akan bertanya-tanya jika aku tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan keluargamu," lanjut Cal.
Avera menghela napas, lalu berkata, "Jill bukanlah kakakku. Ia datang tujuh tahun yang lalu dan mengaku sebagai anak ayahku. Sejak saat itu ibuku masuk ke panti rehabilitasi karena depresi, sementara ayahku berubah menjadi tidak peduli."
Cal memandang Avera. Hampir tak memercayai pendengarannya. Tak menyangka kalimat itu akan keluar dari bibir Avera. Namun melihat ekspresinya yang kosong, juga nada suaranya yang kaku, Cal tahu Avera mengatakan yang sebenarnya. Kini, Cal mulai mengerti alasan yang mendorong Avera untuk melakukan semua rencana gila ini.
Cal pun mendapat pembuktian dari ucapannya bahwa Avera tidak hanya sekadar cantik, karena Avera sungguh gadis yang tangguh. Avera berbeda. Avera istimewa dengan caranya sendiri.
Cal memutuskan untuk tidak mengatakan apa pun. Ia melangkah keluar dari mobil, lalu membukakan pintu Avera dan mengulurkan tangannya pada gadis itu. Dengan tangan yang saling menggenggam, mereka mulai berjalan memasuki rumah bercat putih itu.
"Aku ingin mengumumkan sesuatu yang penting malam ini." ucapnya bersemangat.
Genan menarik Larevta untuk berdiri bersamanya, lalu melanjutkan, "Aku sudah meminta Larevta untuk menikah denganku. Dan ia menjawab ya."
Suara terkesiap mulai terdengar. Tak membutuhkan waktu lama hingga mereka semua menghampiri Genan dan Larevta, kemudian mengucapkan selamat. Makan malam selesai dan mereka berpindah ke ruang keluarga. Larevta yang menjadi pusat perhatian hanya mampu tersenyum dengan ekspresi malu. Ia memang gadis yang pendiam, berbeda dengan Genan yang selalu menjadi pusat perhatian.
Selama semua itu terjadi Avera hanya terdiam. Ia menatap sepupunya juga calon sepupu iparnya yang nampak sangat bahagia itu.
Avera tidak tahu ia terlihat seperti apa ketika Cal melamarnya bulan lalu, hanya saja melihat senyum di wajah Genan dan Larevta mau tak mau membuat Avera menginginkan hal yang sama. Betapa indahnya jika menikah karena benar-benar saling mencintai. Bukan karena sebuah perjanjian yang dipenuhi sandiwara.
"Jadi, kapan kalian akan menikah?" tanya Avera demi mengusir pikiran aneh dalam benaknya.
Larevta menggeleng, sementara Genan menjawab, "Kami belum memutuskan. Hanya saja melihat Cal melamarmu tanpa keraguan bulan lalu membuatku ingin segera meresmikannya. Aku ingin Larevta benar- benar menjadi milikku. Mengenai waktunya, aku ingin kami memutuskan nanti. Kami tidak terburu-buru."
Patricia yang baru memasuki ruang keluarga berhenti di samping
Avera dan menimpali, "Setidaknya kalian memiliki cukup kesabaran. Tidak seperti pasangan dimabuk cinta ini. Mereka bahkan tidak memberi kita kesempatan untuk ikut memilih tanggal dan langsung mengumumkan bahwa mereka akan menikah awal bulan depan. Apa kalian tahu betapa susahnya mengatur jadwal libur seorang dokter?"
Ivander mengamini perkataan Patricia. Mereka berdua adalah seorang dokter. Ivander adalah dokter spesialis jantung, sementara Patricia seorang psikolog.
"Kau hanya iri, Patricia. Lagi pula, bukankah lebih cepat lebih baik? Aku hampir muak melihat mereka yang tidak terpisahkan sepanjang waktu. Mereka ini pasangan jatuh cinta yang benar-benar jatuh cinta," sahut Sienna.
"Aku tahu, namun mengapa harus terburu-buru? Apakah ada sesuatu yang kalian rahasiakan?" balas Patricia dengan tatapan menyelidik.
Avera menggeleng.
Genan menatap Cal, lalu bertanya, "Kau tidak membuat Avera hamil, bukan?"
Sontak derai tawa terdengar di rumah itu. Diiringi oleh semburat merah di wajah Avera, juga senyum geli di wajah Cal. Avera tetap diam sementara sepupunya terus menggodanya. Namun satu hal yang membuat Avera ingin menghilang saat itu juga adalah jawaban Cal.
"Tidak. Avera tidak hamil. Namun aku berharap begitu."
Tawa kembali terdengar, sementara Avera mencubit pinggang calon suami palsunya kuat-kuat.
***
Lombok.
Avera mendesah dalam usahanya untuk mengurangi rasa lelah yang kini menggerogotinya. Otot-otot wajahnya sudah mengajukan protes sejak satu jam yang lalu, namun Avera tidak bisa melakukan apa pun karena tugasnya untuk tersenyum masih tersisa dua jam lagi. Matahari yang hampir menghentikan sinar teriknya mengirimkan desir angin, membuat Avera sedikit menggigil dalam balutan gaun pengantinnya.
Avera mengedarkan pandangan untuk mencari Cal, dan menemukan pria itu sedang tertawa bersama Genan dan Ivander.