
Suara pecahan barang yang diikuti jeritan penuh amarah kembali memenuhi rumah itu. Tak ada lagi bahagia, apalagi ketenangan. Semuanya terbakar habis bersama perdebatan demi perdebatan yang seakan tak menemukan titik akhir. Selembar kertas berisi pernyataan bahwa ayahnya benar-benar memiliki anak selain dirinya menjadi inti dari segala perdebatan itu. Sudah hampir dua minggu dan tetap tak ada harapan bahwa badai yang kini sedang menerjang keluarga mereka akan berlalu.
Avera memeluk lututnya erat-erat sementara air mata mengaliri wajahnya. Kalimat-kalimat yang diucapkan kedua orangtuanya terasa bagaikan sayatan pisau di dadanya. Mereka saling menyalahkan dan mengucapkan sumpah serapah. Seumur hidupnya, Avera tidak pernah mendengar ayahnya berteriak apalagi mendengar ibunya menyumpah. Seburuk apa pun masalahnya, mereka selalu bisa menyelesaikannya dengan tenang. Avera tidak percaya, dua orang dengan cinta yang begitu pekat bisa bertengkar hingga saling menyakiti dengan begitu dalam. Ke mana perginya semua cinta itu?
Kembali terdengar suara barang yang pecah dan Avera berjengit. Terlebih ketika didengarnya jeritan histeris ibunya, Avera menggigit bibir kuat-kuat demi mengalihkan rasa sakit dari dadanya.
Ini semua tidak mungkin terjadi. Avera pasti bermimpi.
Hanya saja mimpi itu telah berlangsung selama dua minggu dan menerakan luka tak tertanggung di hatinya.
Avera mencoba menulikan pendeng
arannya, namun pertengkaran itu justru semakin jelas terdengar. Sekali lagi ibunya mengutuk ayahnya, lalu
tak terdengar apa pun. Avera tersentak. Secepat kilat ia berlari keluar dari kamarnya. Tak lagi dipedulikannya segala barang yang menghalangi langkah. Avera hanya tahu ia harus segera melihat orangtuanya.
Pemandangan yang menyambut Avera sama sekali tidak diduganya; ibunya tergeletak pucat di lantai bersama genangan darah. Kedua mata ibunya tertutup rapat dan pergelangan tangannya tersayat begitu dalam hingga darah terus mengalir keluar tanpa henti.
Avera jatuh berlutut. Dengan tangan gemetar Avera menyentuh wajah ibunya.
"Ibu. . . baik-baik saja? Buka matamu. I-ibu. . ."
Bulir-bulir air mata semakin deras melintasi wajahnya dan Avera berusaha sekuat tenaga menelan isaknya. Avera mendongak untuk menatap ayahnya, tak percaya ketika ia melihat ayahnya hanya berdiri membeku tanpa ekspresi apa pun di wajahnya. Tak ada kecemasan, apalagi air mata. Seakan-akan ayahnya telah menyerah.
Namun cairan merah gelap yang kini ikut menggenanginya memberitahu Avera bahwa semua ini bukan mimpi.
Dan detik itu juga Avera tahu, ia benar-benar telah kehilangan hidupnya.
Avera memandang ibunya yang duduk tak bergerak dengan nanar. Sudah satu bulan berlalu sejak insiden percobaan bunuh diri yang dilakukan ibunya dan kini keadaannya semakin memburuk. Dokter bahkan tidak memperbolehkan siapapun masuk ke kamar rawat ibunya selain petugas medis. Depresi yang dialami ibunya begitu parah hingga dorongan untuk menyakiti diri sendiri sangat besar. Dan karena itu, dalam waktu beberapa hari ibunya akan dipindahkan ke panti rehabilitasi.
"Ia pantas mendapatkannya," ucap seseorang di sisi Avera.
Avera menoleh dan matanya segera memancarkan amarah yang menyala pada orang di sisinya itu. Jill, tentu saja. Gadis itu tak henti menghantui Avera.
Jill tersenyum manis, tak memedulikan ekspresi Avera yang seperti ingin mencabiknya.
"Setelah semua hal yang ia lakukan padaku-delapanbelas tahun hidup penuh penderitaan-pembalasan semacam ini tidak ada apa-apanya. Kau akan melihat bahwa semua ini hanyalah awal, karena aku baru saja mulai. Aku akan mengambil segala hal yang kau renggut dan aku tidak akan berhenti hingga aku mendapatkan semuanya. Aku tidak akan berhenti hingga kau merasakan rasa sakit yang sama dengan yang kurasakan.
Hidupmu yang sesungguhnya baru saja dimulai. Bersiaplah, Adik," lanjut Jill tenang.
***
JANGAN LUPA SETELAH MEMBACA DI LIKE N KOMEN. MAKASIH:-)