
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, namun ruang keluarga di rumah Avera masih diselimuti keramaian. Sesekali tawa berderai mewarnai perbincangan itu, dan Avera menemukan dirinya tidak bisa mengalihkan pandangan dari Cal yang menjadi titik sentral dari segala pembicaraan di sekitarnya.
Avera tidak pernah menyangka Cal dapat berbaur dengan begitu mudah dalam keluarganya. Hanya dalam hitungan menit, Cal sudah mengantongi banyak suara yang berpihak padanya. Dan kini, Cal terlihat seperti bagian dari keluarganya.
Setelah makan malam selesai, mereka semua kembali berkumpul di ruang keluarga dan memulai sesi tanya-jawab mengenai Cal. Tanpa ragu Cal menjawab semua pertanyaan itu, kemudian mengusulkan topik lain. Dimulai dengan olahraga, politik, hingga film Cal sendiri. Avera menyadari usaha Cal untuk menghindari pertanyaan mengenai kehidupan pribadinya. Dan Avera tidak menyalahkan Cal, karena Avera pasti akan melakukan hal yang sama jika seluruh keluarganya telah tiada.
"Di mana pertama kali kalian bertemu?" tanya Patricia dengan semangat yang tidak disembunyikan. Diikuti oleh Sienna yang membulatkan matanya penasaran.
Pasalnya, terakhir kali Sienna berurusan dengan seseorang bernama Calvert Ellegra adalah untuk menyampaikan pesan dari Avera untuk mengatur jadwal pertemuan. Sienna tidak pernah tahu bagaimana kelanjutan dari pertemuan itu, karena Avera sangat sibuk sepulangnya dari Lombok.
Kini, ketika secara tiba-tiba Avera membawa Cal ke makan malam keluarganya dan mengumumkan status hubungan mereka, mau tak mau membuat Sienna bertanya-tanya hal apa yang sudah dilewatkannya.
Cal menoleh pada Avera, memberinya tatapan yang berkata "apa kubilang, mereka pasti menanyakannya‟, lalu mengubah tatapan itu menjadi penuh memuja dan mengecup tangan Avera yang ada dalam genggamannya.
"Resort Lombok. Saat itu Avera berdiri di tepi pantai. Ia tidak melakukan apa pun. Hanya berdiri diam di bawah sinar matahari dan membiarkan ombak bergulung di sekitarnya. Rambutnya tergerai dan aku melihat semburat merah yang mengagumkan. Entah berapa lama aku memandanginya, namun saat itu juga aku merasa telah menemukan sesuatu yang telah lama hilang," jawab Cal.
Cal terdiam sesaat, seolah mengenang penjelasannya itu, hingga membuat semua orang di sekitarnya menahan napas. Cal kembali menatap Avera dan mengulas sebuah senyum
"Aku menemukan sesuatu yang bisa kusebut indah. Avera tidak pernah hanya sekadar cantik bagiku. Ia adalah keindahan yang nyata," lanjut Cal.
Seluruh keluarga Avera bahkan tidak bisa berkata-kata, hanya menatap mereka dengan pandangan kagum. Yah, tidak semua, karena Jill tetap menatap Avera dengan penuh kebencian.
Tiba-tiba Cal bangkit berdiri, membawa serta Avera yang masih digenggam tangannya, lalu berlutut dengan satu kaki di hadapan Avera. Seulas senyum masih tersungging di wajahnya, sementara tangannya mengambil sebuah kotak cincin dari saku celananya.
Avera terkesiap, berusaha menampilkan ekspresi terkejut penuh haru. Meskipun ia tidak membutuhkan banyak usaha karena jantungnya benar- benar berdebar keras seolah ingin mematahkan rusuknya. Nada-nada terkejut pun terdengar dari keluarganya, dan keheningan sempurna membalut mereka.
"Avera Daelan, kau adalah mimpiku yang menjadi nyata. Kau membuat hidupku menjadi tertanggungkan; membuat segalanya terasa benar. Aku tidak bisa menjanjikan kebahagiaan sempurna untukmu, namun aku berjanji untuk selalu berada di sisimu. Mendukungmu. Melindungimu.
Dan mencintaimu. Menikahlah denganku," ucap Cal dengan kesungguhan di setiap kalimatnya.
Selama sesaat Avera kehilangan kemampuannya untuk berbicara. Matanya tak bisa berpaling dari warna biru-kehijauan yang begitu menenggelamkan di hadapannya. Lalu dengan tangan yang bergetar, Avera menyentuh salah satu sisi wajah Cal dan mengangguk.
"Ya. Aku akan menikah denganmu," sahut Avera.
Cal memasangkan cincin di tangan Avera, lalu bangkit berdiri dan membawa Avera dalam pelukannya.