
Cal mencoba mengesampingkan rasa ingin ikut campurnya-karena Avera dengan jelas menyiratkan bahwa ia tidak membutuhkan bantuan Cal- namun Cal tidak bisa melakukannya.
Hari ini adalah hari keenam perang dingin mereka, dan Cal menyerah. Cal berhenti berusaha meredam keinginannya untuk bersikap peduli. Mengikuti nalurinya yang telah terasah dalam melindungi seseorang, sampailah Cal pada tempatnya saat ini. Pada sebuah kursi di halaman belakang rumah Bobby Syachril, dengan sebuah papan catur di hadapannya.
Senja telah beranjak menuju langit kelam, sementara Cal memperhatikan setiap langkah yang dilakukan Bobby Syachril dengan hati- hati. Cal harus mengakui kehebatan pria paruh baya di hadapannya itu, karena sungguh tidak mudah mengalahkannya. Setiap langkah yang dibuat pria itu penuh perhitungan dan jika Cal tidak hati-hati, ia akan kalah dan menghilangkan kesempatan emasnya untuk mencapai kesepakatan itu.
"Aku tidak menyangka anak muda sepertimu bisa menandingiku yang menghabiskan seumur hidup untuk memainkan permainan ini," ucap Bobby Syachril.
Cal mengulas bibirnya membentuk senyum sopan seraya memindahkan pionnya. Berdoa sepenuh hati agar seluruh usahanya mempelajari permainan catur selama dua hari penuh-hingga mengorbankan waktu tidurnya juga waktu tidur para sepupu iparnya yang baru-tidak akan menguap sia-sia.
Selama sesaat tak ada suara apa pun, hingga beberapa menit kemudian, Cal mendapatkan kesempatan untuk menutup permainan dengan satu langkah mematikan. Cal berhasil memenangkan permainan.
Refleks, Cal mengepalkan tangannya dan menggumamkan kata "yes!‟ dengan semangat yang menggebu. Mengundang tawa geli dari Bobby Syachril, yang untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya tertawa setelah kalah dari permainan catur yang amat dibanggakannya.
Bobby Syachril menyandarkan tubuhnya, lalu berkata, "Kau benar- benar anak muda yang sangat menarik. Aku senang telah menerima tantanganmu hari ini. Sudah lama aku tidak bermain seperti ini. Kau mengingatkanku pada semangatku dulu ketika aku masih muda. Sesuai dengan kesepakatan awal kita, aku akan menyutujui rancangan bangunan yang diajukan oleh istrimu."
Cal menjabat tangan Bobby Syachril dan tersenyum dengan tulus. Tak lama kemudian Cal pamit undur diri, masih dengan senyum gembira yang tak bisa disembunyikan wajahnya. Cal sudah membayangkan ekspresi Genan dan Ivander yang pasti bangga karena telah berhasil mengajarkan permainan catur itu dalam waktu singkat. Cal mengingatkan dirinya untuk mentraktir kedua sepupu iparnya itu ketika mereka bertemu nanti.
Baru saja Cal membalikkan tubuh, suara Bobby Syachril kembali memanggilnya.
"Calvert Ellegra."
Cal membalikkan tubuh.
"Terima kasih," ucap Bobby Syachril.
Sekali lagi, Cal hanya tersenyum. Ia melambaikan tangan, lalu kembali melanjutkan langkah. Cal tahu permainan catur tadi sangat menyenangkan dan mereka berdua menikmatinya, terlepas dari hasil akhirnya. Jika saja bisa, Cal juga ingin mengucapkan terima kasih pada Bobby Syachril karena telah memberi Cal kesempatan untuk membuktikan dirinya juga taruhan konyolnya. Namun Cal tahu hatinya masih belum sanggup mengambil langkah sejauh itu. Cal berharap senyumnya sudah cukup untuk menutupi lubang yang tercipta karena ketidakmampuan mulutnya untuk mengucapkan terima kasih.
Satu hal yang tidak Cal ketahui adalah alasan ucapan terima kasih Bobby Syachril itu sama sekali tidak berhubungan dengan permainan catur yang baru saja mereka lakukan. Ucapan itu ditujukan untuk usaha yang telah Cal lakukan demi Avera. Cal mengingatkan Bobby Syachril pada dirinya dulu, ketika ia rela melakukan apa pun demi mendiang istri tercintanya.
Pada awalnya, Bobby Syachril mengira pernikahan Cal dan Avera hanyalah sebuah parade demi keuntungan perusahaan semata. Karena siapa yang akan menikah dengan terburu-buru hanya setelah tiga bulan menjalin hubungan? Namun Bobby Syachril harus menarik ucapannya sendiri. Ia mendapatkan bukti nyata bahwa Cal sungguh peduli pada Avera. Taruhan mereka pun dilakukan bukan karena Cal ingin perusahaan Avera mendapat keuntungan. Namun, karena Cal ingin Avera mendapatkan kesempatan untuk membuktikan dirinya sebagai CEO yang baru.
Bobby Syachril dapat melihatnya; ketulusan juga kepedulian Cal. Bobby Syachril bahkan dapat merasakan kehangatan yang telah lama menghilang bersama dengan perginya cinta dalam hidupnya.
Itulah alasan Bobby Syachril mengucapkan terima kasih. Di usianya yang telah menginjak 63 tahun, setelah kepergian istrinya hampir satu dekade yang lalu, akhirnya ia mendapatkan kembali satu kesempatan untuk melihat sebuah ketulusan.
Dan karena itu, Bobby Syachril berharap Calvert Ellegra tidak akan merasakan kehilangan yang sama seperti dirinya.
Avera memasuki kantornya pagi itu tanpa prasangka apa pun. Benaknya telah penuh terisi dengan segala hal yang harus dikerjakannya, hingga Avera hampir berhasil melupakan perang dingin antara dirinya dan Cal yang sudah genap berlangsung selama satu minggu.
Avera baru saja duduk di kursinya ketika pintu kantornya diketuk dan memunculkan sosok Sienna serta seorang pria paruh baya di belakangnya. Avera terbelalak ketika menyadari bahwa pria itu adalah Bobby Syachril.
Avera segera berdiri menyambut, lalu mereka duduk berhadapan di sofa yang terletak di sebelah kanan ruangan. Bobby Syachril tidak melakukan basa-basi, karena pria itu langsung mengatakan maksud dari kedatangannya.
"Aku datang pagi ini untuk memberitahu bahwa aku telah menyetujui rancangan yang kau ajukan. Setelah ini aku akan memberikan tanggung jawab terhadap cucuku, Lilyana, untuk menyelesaikan detail dari rancanganmu. Sekadar memastikan semuanya berjalan sesuai ekspektasiku. Aku harap kalian bisa bekerja sama dengan baik dan proyek ini akan sukses," ucap Bobby Syachril.
Avera kehilangan kata selama beberapa saat, tak menyangka dewi keberuntungan tengah memihak padanya. Segala hal yang ia perjuangkan akhirnya membuahkan hasil. Kini, semuanya benar-benar berjalan sempurna. Avera telah mendapatkan kesempatan untuk membuktikan dirinya, sekaligus membalaskan dendamnya terhadap Jill.
Avera mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya, lalu menanyakan beberapa detail lain yang langsung dijawab Bobby Syachril tanpa ragu. Tak lama kemudian Bobby Syachril pamit undur diri. Avera mengantar hingga ke pintu ruang kantornya. Ketika sekali lagi Avera mengucapkan terima kasih, Bobby Syachril membalasnya dengan satu kalimat yang sungguh mengejutkan Avera. Satu kalimat yang tak pernah Avera bayangkan akan didengarnya.
"Berterima kasihlah pada suamimu, karena kepeduliannya yang begitu besar terhadapmu berhasil membuatku mengambil keputusan ini," ujar
Bobby Syachril dengan seulas senyum tipis yang sarat makna.
Avera mematung sepenuhnya. Hanya mampu menatap punggung pria paruh baya yang terus berjalan menjauhinya. Dengan pikiran yang tak lagi sanggup memikirkan hal lain, selain sepasang mata berwarna biru- kehijauan yang sudah satu minggu diabaikannya secara sempurna.
Bagaimana mungkin di tengah perang dingin mereka, Cal justru melakukan hal yang paling penting untuk Avera? Mengapa Cal melakukannya? Dan kini, yang paling utama, apa yang harus dilakukan Avera?
"Avera," panggil Sienna seraya menghampiri Avera.
Avera tersentak mendengarnya. Melihat ekspresi Sienna yang kini dipenuhi senyum, Avera tahu bahwa Sienna juga mendengar apa yang Bobby Syachril katakan.
"Pergilah. Kau harus berterima kasih padanya," ucap Sienna bersemangat.
Avera mengerjap, lalu bertanya, "Apa kau terlibat dalam hal ini? Apa yang sebenarnya Cal lakukan?"
"Cal ingin membantumu. Karena itu aku memberikan data-data Bobby Syachril padanya. Setelah itu Cal menghubungi Genan dan Ivander, dan hal selanjutnya yang kutahu adalah ia menantang Bobby Syachril untuk bermain catur," jawab Sienna.
"Bermain catur?" gumam Avera bingung.
Sienna mengangguk. "Genan dan Ivander mengajarinya selama dua hari penuh. Kemudian Cal pergi ke rumah Bobby Syachril dan bermain catur dengannya," jelas Sienna.
Kini Avera mengerti. Alasan dibalik kepergian Cal selama tiga hari penuh itu ternyata berhubungan dengan dirinya. Cal menghabiskan waktunya demi Avera, yang bahkan tak menganggapnya ada selama satu minggu ini.