Theatrical Love

Theatrical Love
Episode 2



Avera baru saja melewati pintu utama rumahnya ketika ia mendengar suara tawa dari ruang makan. Mengabaikan rasa lelahnya setelah satu hari penuh mengurusi kepindahan ibunya ke panti rehabilitasi, Avera melangkah menuju ruang makan.


Avera berdiri diam selama beberapa saat, terpana melihat ayahnya tertawa bersama Jill di tengah kegiatan makan malam. Avera tidak menyangka ayahnya bisa menerima Jill semudah itu setelah segala hal yang terjadi. Tidakkah ayahnya tahu seperti apa Jill sebenarnya? Bagaimana bisa ayahnya duduk dan menikmati makanan, sementara ibunya kini terkurung di rumah sakit jiwa?


Tanpa berpikir Avera menghampiri Jill dan menarik tangannya hingga gadis itu berdiri. Avera tidak mempedulikan teguran ayahnya, ia tetap hanya melihat Jill.


"Cepat pergi sebelum aku mengusirmu," ucap Avera penuh amarah. Jill mengangkat alisnya, lalu kembali duduk.


"Apa kau tuli? Pergi sekarang juga!" Seru Avera, kembali menarik tangan Jill.


Menarik kembali tangannya, Jill bersikeras tetap duduk. Avera segera meraih gelas berisi air di dekatnya kemudian menyiram Jill tanpa ragu.


"Apa kau masih tidak mau pergi? Kau lihat, aku masih memiliki banyak air di sini."


"Avera, hentikan!"


Avera menoleh pada ayahnya dengan pandangan tidak percaya.


"Mulai saat ini Jill akan tinggal di sini. Rumah ini adalah rumah Jill juga. Kau harus bisa menerimanya, suka tidak suka. Sekarang, minta maaf pada


Jill," lanjut James dengan nada tak terbantahkan.


Ketika Avera tidak juga meminta maaf, James mengulangi perintahnya.


"Apa yang terjadi padamu, Ayah?" tanya Avera dengan nada terluka. Avera menolak untuk menangis meski gumpalan di tenggorokannya


terasa amat menyakitkan. Baginya, semua itu tidak sebanding dengan rasa sakit yang kini menggerogoti hatinya. Avera menatap ayahnya, yang selama delapanbelas tahun ini selalu melindunginya, juga membuatnya merasa sebagai anak paling bahagia di dunia. Avera pikir ia telah mengenal ayahnya sebaik ia mengenal dirinya sendiri, namun jawaban yang ia dengar selanjutnya membuat Avera sadar bahwa ia sudah salah besar.


"Aku menjadi realistis. Jill adalah anakku. Ia bagian dari keluarga Daelan dan kau harus memperlakukannya seperti itu. Jill akan mendapatkan haknya, sama sepertimu," jawab James.


"Aku tidak percaya kau lebih memilih anak yang sama sekali tidak kau kenal dibandingkan dengan anak yang telah bersamamu selama ini," balas


Avera.


"Jika kau tetap ingin menjadi pewarisku, kau harus menerima keputusanku," sahut James.


Mengepalkan tangan, Avera berseru, "Aku tidak peduli pada hartamu, Ayah!"


"Maka kau bisa keluar dari rumah ini sekarang juga!" "Apa?" tanya Avera syok.


"Kau mendengarku. Jika kau tidak peduli pada hartaku, maka kau bisa keluar dari rumah ini sekarang juga. Tinggalkan semua fasilitas yang kau dapatkan dariku. Aku tidak membutuhkan pewaris yang bahkan tidak berminat sejak awal. Kini kau bukan satu-satunya anakku. Aku bisa memberikannya pada anakku yang lain," jawab James tanpa ragu.


Avera membeku seutuhnya.


"Semua keputusan ada di tanganmu. Kau hanya harus mengingat satu hal; sekali kau pergi dari rumah ini, kau tidak akan pernah bisa kembali. Dan jangan harap kau bisa bertemu dengan ibumu. Begitu kau pergi, kau bukan bagian dari keluarga Daelan lagi," ucap James sebelum melangkah keluar dari ruang makan.


"Terima kasih. Kau baru saja mempermudah jalanku. Tidak kukira mengalahkanmu akan semudah ini. Kau lihat, aku bisa merebut segala hal yang kau miliki dengan mudah. Berhenti meremehkanku atau kau akan menyesal."


Avera mengepalkan tangannya erat-erat. Tanpa mengatakan apa pun, bahkan tanpa melihat Jill sedikit pun, Avera melangkah pergi menuju kamarnya. Begitu masuk ke dalam kegelapan dan mengunci pintunya, Avera jatuh terduduk. Namun kali ini, tak ada lagi air mata. Avera hanya terus duduk. Memandangi kegelapan di sekitarnya seraya menerima tanpa perlawanan rasa sakit yang berkecamuk di hatinya.


Kini Avera mengerti. Inilah hidupnya sekarang. Ibunya berada di rumah sakit jiwa, ayahnya berubah menjadi kejam, dan ia memiliki seorang kakak yang mengerikan. Dengan segala sesuatu yang berubah, Avera berusaha menyerapnya menjadi satu pemahaman.


Dan ketika pemahaman itu datang, Avera memutuskan bahwa ia akan bertahan. Ia akan tetap berdiri, memperjuangkan seluruh haknya. Ia tidak akan pergi hanya karena seseorang datang dan menghancurkan hidupnya.


Avera Daelan akan mengajarkan Jillian Voletta arti kehancuran yang sesungguhnya.


di Lombok.


Avera menatap pantai yang terbentang luas di hadapannya dengan pandangan kosong. Jemari kakinya yang menyatu dengan pasir hampir tidak merasakan apa pun kecuali tekstur uniknya; lembut sekaligus kasar. Matahari telah lama terbenam di langit barat, namun Avera masih enggan untuk beranjak. Avera bahkan tidak peduli pada pesta-pesta ulang tahunnya yang ke-22-yang saat ini berlangsung di belakangnya.


Avera suka sendiri, karena dengan begitu ia tidak perlu berpura-pura bahagia.


Sudah empat tahun berlalu sejak perubahan besar dalam hidupnya dan Avera menemukan dirinya kehilangan segala hal yang ia percayai dalam hidup.


Sejak saat itu, Avera belajar lebih banyak juga berusaha lebih keras. Ia bahkan merelakan pendidikan seni rupa yang selalu menjadi impiannya dan pindah ke jurusan arsitektur. Avera menata dirinya kembali dari awal.


"Aku benci penyihir itu. Ia benar-benar menyerupai Bellatrix Lestrange dari film Harry Potter. Hanya warna rambut saja yang membedakan mereka. Rasanya aku ingin memukulnya dengan sepatuku. Bagaimana mungkin gadis mengerikan itu adalah kakakmu? Pasti terjadi kesalahan bencana di sini."


Avera tersenyum bahkan sebelum melihat orang yang menyapanya dengan rentetan kalimat itu. Ketika Avera berbalik, sebuah pelukan hangat menyambutnya. Avera mengurai pelukan dan tertawa ketika melihat ekspresi kesal yang ditampilkan sahabatnya itu.


"Berhenti melucu, Hesterly Keane. Cepat berikan hadiahku," ucap


Avera.


"Kau bercanda, bukan? Kau lebih tua tiga tahun dariku-sudah bekerja pula-maka kau yang harus memberiku hadiah," balas Hester tak mau kalah.


"Aku rasa aku melupakan hadiahmu. Kau tahu, dengan semua kesibukan mengurus pesta ini, bagaimana mungkin aku sempat memikirkan hal lain?" sahut Avera dengan wajah polos.


Mereka terus menggoda satu sama lain hingga Hester kembali memeluk Avera dan mengucapkan selamat ulang tahun dengan tulus. Avera mengatakan hal serupa, dalam hati menambahkan ribuan terima kasih atas kesabaran Hester untuk terus menemaninya selama masa-masa terburuk dari perubahan hidupnya.


Avera telah mengenal Hester seumur hidupnya. Dulu, ibu mereka merupakan sahabat karib. Diikuti oleh ayah mereka yang kemudian mendapat banyak keuntungan dengan menjalin kerjasama; ayah Hester menjalankan perusahaan konstruksi sementara ayah Avera memiliki perusahaan desain arsitektur. Ketika ibu Hester meninggal saat melahirkannya, ibu Avera bersikeras untuk merawat Hester hingga ia cukup besar untuk bisa dipercayakan pada pengasuh. Sejak itu, ibu Avera menganggap Hester juga Javier-kakaknya-sebagai anaknya sendiri dan mereka hampir tak terpisahkan.


Kini, sementara Avera sibuk mengurusi segala hal di perusahaan ayahnya bersama kakaknya yang mengerikan, Javier sudah melakukan konser piano ke berbagai negara dan Hester direkrut langsung oleh penari hebat Julliard. Lebih hebatnya lagi, Faxson Keane-ayah mereka- mendukung sepenuhnya. Terkadang Avera begitu iri melihat Hester dan Javier yang meskipun tidak memiliki keluarga sempurna, namun selalu mampu untuk berbahagia.


"Kau akan bahagia, Avera. Suatu hari nanti, kau akan menemukannya.


Seperti yang selalu dikatakan ayahku. Percayalah," ucap Hester lembut.


Meski dalam hati Avera tak memercayai ucapan Hester sedikit pun, Avera tidak mengatakannya. Avera telah berhenti percaya pada banyak hal sejak waktu yang lama. Avera bahkan tidak ingat kapan terakhir kali ia berkenalan dengan orang baru tanpa perasaan curiga di hatinya. Avera sudah menyerah pada kata percaya. Ada banyak kemungkinan untuk semakin terluka dalam satu kata sederhana itu. Dan Avera sudah memiliki cukup banyak luka untuk mampu ditanggungnya sendiri.