
Cal kehilangan arah. Cal mencoba meraih perasaan apa pun yang tersisa dalam dirinya dan hanya menemukan hampa.
Tak ada apa pun. Juga tak ada siapapun.
Maka dengan usaha terbaiknya untuk tersenyum, Cal mengucapkan satu kata yang terasa begitu berat di lidahnya. Kata yang sesungguhnya tak sudi ia ucapkan lagi.
"Terima kasih."
Setelah itu Cal turun dari panggung dengan langkah panjang tanpa menoleh lagi.
Cal terbangun dengan napas yang berkejaran juga bulir-bulir keringat yang membasahi seluruh tubuhnya. Mimpi itu kembali datang. Mimpi tentang hari pernikahan Kelly, di mana mereka semua saling berbagi tawa, lalu tiba-tiba semuanya menjadi gelap dan Cal tidak bisa menemukan sedikit pun cahaya. Mimpi itu bagaikan pedang bermata dua; membuatnya merasa bahagia selama sesaat, sebelum merenggutnya lagi dengan tambahan luka.
Cal melangkah turun dari tempat tidur. Tanpa menyalakan lampu, ia terus berjalan menyusuri apartemennya menuju dapur. Setelah meminum segelas air putih, Cal melanjutkan langkah menuju kamar kedua yang ia jadikan sebagai ruang menonton. Cal meletakkan peralatan tercanggih untuk menonton di ruangan itu, diikuti kursi yang nyaman juga sederet fasilitas lain yang hanya mungkin diciptakan oleh seorang sutradara.
Cal ingat, di hari ulang tahunnya yang kesepuluh, orangtuanya menghadiahkan dirinya satu set drum band berukuran asli sementara Kelly mendapatkan handycam. Beberapa hari kemudian, Kelly mematahkan stik drum Cal, karena Cal lebih memilih bermain drum dari pada bermain dengannya. Dalam usaha untuk berdamai, Kelly memberikan handycam- nya dan sejak saat itu Cal tidak pernah berhenti merekam segala sesuatu di sekitarnya.
Kini, ketika melihat video tentang kesibukan keluarganya di hari kelulusannya tujuh tahun yang lalu, Cal merasa bersyukur karena telah merekam banyak video tentang keluarganya. Video itu mungkin tidak akan pernah cukup untuk mengobati luka Cal, namun setidaknya Cal memiliki kenangan sempurna untuk tempatnya berpulang dan beristirahat.
Cal tahu hal yang dilakukannya ini hanya semakin menambah garam pada lukanya, namun Cal tidak tahu cara lain yang lebih baik. Ia tidak bisa menangis dan menutup diri, karena apa gunanya? Kini Cal benar-benar sendiri. Tidak ada siapapun yang tersisa untuknya, bahkan hanya untuk sekadar menjadi temannya melalui semua kesedihan ini.
Cal kembali fokus pada layar di hadapannya. Dengan berlatarkan dapur yang penuh dengan barang pecah-belah juga makanan, ibunya berdiri dan memberinya tatapan kesal karena ia tak juga bersiap, sementara suara Kelly yang berteriak memperingatkannya terdengar jelas. Gambar beralih ke kamar Kelly, di mana pemiliknya sedang sibuk menata rambut. Begitu melihat ke arah kamera, Kelly langsung melempar sisir yang dipegangnya. Cal berhasil menghindar hingga selama sesaat kameranya tidak terfokus dan begitu kembali terfokus, wajah ayahnya yang mengangkat alis memenuhi layar.
Cal tertawa mendengar semua keributan juga ucapan yang bersahutan dari video rekaman itu. Tak lama Leo pun datang dan menggelengkan kepalanya ke arah kamera. Mereka saling mengejek satu sama lain, kemudian Leo-yang melupakan bahwa kamera di tangan Cal masih dalam mode merekam-mulai mengatakan tentang betapa ia bersyukur telah diadopsi oleh keluarga Cal dan video itu berakhir.
Leo dan Cal saling mengenal sejak hari pertama sekolah dasar. Mereka berteman dan tak terpisahkan. Meski Leo datang dari keluarga miskin juga ayah yang selalu mabuk, Cal tidak pernah mempermasalahkannya. Ketika anak-anak lain sibuk mengejek Leo, Cal dan Kelly akan berdiri membelanya. Leo adalah bagian dari keluarga Ellegra. Maka saat ayah Leo meninggal di tahun awal sekolah menengah pertama, tanpa ragu keluarga Cal mengangkatnya sebagai anak. Memberinya semua hak seperti yang didapatkan Cal dan Kelly.