
Cal pun mendapat pembuktian dari ucapannya bahwa Avera tidak hanya sekadar cantik, karena Avera sungguh gadis yang tangguh. Avera berbeda. Avera istimewa dengan caranya sendiri.
Cal memutuskan untuk tidak mengatakan apa pun. Ia melangkah keluar dari mobil, lalu membukakan pintu Avera dan mengulurkan tangannya pada gadis itu. Dengan tangan yang saling menggenggam, mereka mulai berjalan memasuki rumah bercat putih itu.
Makan malam berlangsung seperti biasa; ayah Avera berbicara dengan kedua saudaranya, sementara sepupu Avera sibuk bersenda gurau. Tiba-tiba Genan berdiri dan meminta perhatian semua orang. Ada sesuatu dalam dirinya yang memancarkan aura kebahagiaan.
"Aku ingin mengumumkan sesuatu yang penting malam ini." ucapnya bersemangat.
Genan menarik Larevta untuk berdiri bersamanya, lalu melanjutkan, "Aku sudah meminta Larevta untuk menikah denganku. Dan ia menjawab ya."
Suara terkesiap mulai terdengar. Tak membutuhkan waktu lama hingga mereka semua menghampiri Genan dan Larevta, kemudian mengucapkan selamat. Makan malam selesai dan mereka berpindah ke ruang keluarga. Larevta yang menjadi pusat perhatian hanya mampu tersenyum dengan ekspresi malu. Ia memang gadis yang pendiam, berbeda dengan Genan yang selalu menjadi pusat perhatian.
Selama semua itu terjadi Avera hanya terdiam. Ia menatap sepupunya juga calon sepupu iparnya yang nampak sangat bahagia itu.
Avera tidak tahu ia terlihat seperti apa ketika Cal melamarnya bulan lalu, hanya saja melihat senyum di wajah Genan dan Larevta mau tak mau membuat Avera menginginkan hal yang sama. Betapa indahnya jika menikah karena benar-benar saling mencintai. Bukan karena sebuah perjanjian yang dipenuhi sandiwara.
"Jadi, kapan kalian akan menikah?" tanya Avera demi mengusir pikiran aneh dalam benaknya.
Larevta menggeleng, sementara Genan menjawab, "Kami belum memutuskan. Hanya saja melihat Cal melamarmu tanpa keraguan bulan lalu membuatku ingin segera meresmikannya. Aku ingin Larevta benar- benar menjadi milikku. Mengenai waktunya, aku ingin kami memutuskan nanti. Kami tidak terburu-buru."
Patricia yang baru memasuki ruang keluarga berhenti di samping
Avera dan menimpali, "Setidaknya kalian memiliki cukup kesabaran. Tidak seperti pasangan dimabuk cinta ini. Mereka bahkan tidak memberi kita kesempatan untuk ikut memilih tanggal dan langsung mengumumkan bahwa mereka akan menikah awal bulan depan. Apa kalian tahu betapa susahnya mengatur jadwal libur seorang dokter?"
"Kau hanya iri, Patricia. Lagi pula, bukankah lebih cepat lebih baik? Aku hampir muak melihat mereka yang tidak terpisahkan sepanjang waktu. Mereka ini pasangan jatuh cinta yang benar-benar jatuh cinta," sahut Sienna.
"Aku tahu, namun mengapa harus terburu-buru? Apakah ada sesuatu yang kalian rahasiakan?" balas Patricia dengan tatapan menyelidik.
Avera menggeleng.
Genan menatap Cal, lalu bertanya, "Kau tidak membuat Avera hamil, bukan?"
Sontak derai tawa terdengar di rumah itu. Diiringi oleh semburat merah di wajah Avera, juga senyum geli di wajah Cal. Avera tetap diam sementara sepupunya terus menggodanya. Namun satu hal yang membuat Avera ingin menghilang saat itu juga adalah jawaban Cal.
"Tidak. Avera tidak hamil. Namun aku berharap begitu."
Tawa kembali terdengar, sementara Avera mencubit pinggang calon suami palsunya kuat-kuat.
***
Lombok.
Avera mendesah dalam usahanya untuk mengurangi rasa lelah yang kini menggerogotinya. Otot-otot wajahnya sudah mengajukan protes sejak satu jam yang lalu, namun Avera tidak bisa melakukan apa pun karena tugasnya untuk tersenyum masih tersisa dua jam lagi. Matahari yang hampir menghentikan sinar teriknya mengirimkan desir angin, membuat Avera sedikit menggigil dalam balutan gaun pengantinnya.
Avera mengedarkan pandangan untuk mencari Cal, dan menemukan pria itu sedang tertawa bersama Genan dan Ivander.