
"Bagaimana kabar Bibi Laura?" tanya Hester.
Avera mengangkat bahu, "Seperti biasa," jawabnya datar.
"Aku tahu kau merindukannya. Aku juga merasakannya," balas Hester sedih.
Avera memeluk bahu Hester dengan satu tangannya, lalu berkata,
"Aku selalu berharap memiliki saudara sepertimu. Mungkin hidupku tidak akan sekacau ini."
Hester menyikut Avera dengan main-main. "Dan membiarkan penyihir itu mengambil tempatku untuk memiliki kakak sehebat Javier? Oh, tidak.
Langkahi dulu mayatku."
Avera tertawa.
"Jadi, bagaimana pekerjaanmu? Jika kau membutuhkan bantuan dalam bentuk apa pun, kau bisa menghubungi ayahku. Kau tahu ia selalu berada di pihakmu. Begitu juga denganku dan Javier. Kami akan melakukan apa pun untuk membantumu mengalahkan penyihir itu," ucap Hester.
"Aku tahu. Terima kasih. Sejauh ini semuanya nampak lancar dan Jill tidak melakukan apa pun yang mengancam. Namun mengingat kepribadian Jill yang tidak bisa ditebak, aku tidak tahu berapa lama semua ini akan bertahan," sahut Avera.
Hening sesaat.
Hester menoleh untuk menatap Avera, mencoba mencari tanda-tanda kelelahan di wajahnya seperti yang ia dengar dalam nada suaranya. Namun Hester hanya menemukan kesungguhan. Hester dapat melihat dengan jelas tekad kuat Avera untuk tetap bertahan.
Hester tahu betapa sulit hidup Avera setelah kedatangan Jill. Jika saja bisa, Hester ingin menghapus Jill dari muka bumi agar hidup Avera menjadi lebih baik. Hester tidak suka melihat rangkaian penderitaan yang melekat pada Avera. Demi Tuhan, Avera adalah saudarinya. Meski tidak memiliki hubungan darah, Hester sudah menganggapnya seperti itu sejak ia bisa mulai mengingat segala hal tentang hidup. Namun sekali lagi, Hester hanya bisa berdiri dan memberi dukungan.
Juga berdoa, agar Avera Daelan akan kembali berbahagia suatu hari nanti.
di Los Angeles.
"Dan penghargaan untuk sutradara terbaik tahun ini jatuh pada Calvert Ellegra!"
Tepuk tangan riuh yang terdengar di akhir kalimat itu mengiringi langkah pria muda berambut pirang gelap dengan tubuh tinggi tegap. Wajahnya yang terlihat kekanakan dengan satu lesung di pipi kirinya ketika tersenyum hampir membuat seluruh gadis pingsan karenanya. Begitu ia menerima piala penghargaan dan berdiri di depan mikrofon, kamera langsung menyorot wajahnya yang dihiasi sepasang mata berwarna biru- kehijauan juga rahang kokoh yang menjadi impian para model internasional.
Segala hal dalam diri Calvert Ellegra mencerminkan sesuatu yang istimewa, mengidentifikasikan bahwa Tuhan sedang membisikkan kata sempurna ketika menciptakannya.
Sudah dua tahun namanya melambung di kalangan pecinta juga kritikus film. Semua karya yang dihasilkan Cal selalu laris dan mendapat penilaian yang baik. Cal dinilai memiliki cita rasa seni yang tinggi terhadap budaya di samping fantasi yang tidak ada duanya. Dan saat ini, selain berbagai penghargaan yang telah diterimanya, Cal juga dinobatkan sebagai sutradara muda paling sukses dalam satu dekade terakhir.
Setelah mengucapkan terima kasih pada orang-orang yang dianggapnya berperan besar, akhirnya Cal tersenyum dan menatap tepat ke kamera utama seraya mengangkat pialanya.
"Dan penghargaan ini untukmu, saudari kembarku. Kau tak tahu betapa besar rasa terima kasihku karena telah dianugerahi seseorang seistimewa dirimu untuk berbagi jiwa denganku. Dan terima kasih karena telah mematahkan stik drumku; kau tahu aku berhutang hal itu padamu."
Tawa juga tepuk tangan menyambut Cal. Masih dengan senyum yang sama, Cal turun dari panggung dan menerima setiap ucapan selamat dengan hati yang bahagia.
di Lombok.
Cal menatap saudari kembarnya, Kelly, yang terlihat begitu cantik dalam balutan gaun pengantin. Wajahnya bersinar cerah, hingga membuat kedua matanya berbinar bahagia. Di sampingnya berdiri Leo-sahabat Cal sejak sekolah dasar yang kini telah resmi menjadi saudara iparnya- dengan wajah yang tak kalah cerah. Mereka berdua saling merangkul dan tak henti-hentinya tersenyum. Cal ikut tersenyum, bahagia karena akhirnya Kelly bisa mendapatkan impian nya
Sejak menonton film penuh impian di mana sang pangeran mencari putrinya lalu menikahinya, Kelly bersumpah bahwa ia pun akan mendapatkan akhir bahagia selamanya; jatuh cinta, menikah, lalu memiliki anak. Cal selalu menertawakan ide itu, yang terus bertahan hingga belasan tahun kemudian. Namun kini setelah melihatnya sendiri, Cal tahu tidak pernah ada mimpi yang terlalu mustahil untuk diwujudkan.
Hari sudah berganti malam. Dengan bunyi debur ombak juga semilir angin yang berhembus, para tamu undangan terlihat semakin berbaur. Cal tidak tahu bagaimana Kelly berhasil mengumpulkan orang-orang sebanyak ini dari seluruh penjuru dunia hanya untuk menghadiri pesta pernikahannya, namun sekali lagi Cal harus mengakui kehebatan saudari kembarnya itu.
"Jangan katakan kau sedang memikirkan pekerjaanmu, Calvert
Ellegra. Aku mungkin mencintaimu sepenuh hatiku, namun aku tidak akan memaafkanmu jika kau berani melakukan itu di pesta pernikahanku," omel
Kelly seraya menyilangkan kedua lengannya.
Cal hanya mengangkat bahu, sementara kedua orangtuanya-juga Leo yang berdiri di hadapannya-tertawa.
"Kau terlalu banyak bekerja, Calvert," ucap ibu Cal dengan kening berkerut khawatir.
"Dan efek samping dari terlalu banyak bekerja adalah menjadi satu- satunya orang tanpa pasangan di pesta pernikahan adiknya sendiri," timpal
Leo dengan senyum mengejek.
"Terus katakan itu dan aku akan mengambil adikku kembali," balas
Cal.
Kelly meninju lengan Cal dengan bibir mencebik, lalu melemparkan tatapan maut pada suaminya. Ayah dan ibunya lagi-lagi tertawa, berdiri sambil berpelukan dengan hati yang terasa hangat melihat kebahagiaan di wajah anak-anaknya.
Kelly kembali menatap Cal, lalu bertanya, "Apa yang sebenarnya sedang kau pikirkan?"
"Aku sedang memikirkan bagaimana caramu membawa semua orang ke tempat ini," jawab Cal ringan.
"Itu bagian dari keuntungan sebagai seorang penari profesional." "Kau terlalu percaya diri, Kells."
"Kita mendapatkan kemampuan itu sama rata, Cals."
Mereka semua tertawa, lalu Kelly melangkah mendekat dan memeluk Cal. Selama sesaat mereka hanya terdiam. Meresapi debar jantung masing-masing yang terasa begitu serupa. Setelah 25 tahun hidup sebagai bagian dari yang lainnya, menerima kenyataan bahwa hal itu akan berubah membutuhkan pengertian yang besar.
Kini Cal tidak akan mendapat telepon tengah malam hanya karena Kelly bermimpi buruk; Kelly sudah memiliki seseorang di sisinya untuk menenangkannya. Dan masih banyak hal kecil lainnya yang tidak akan bisa mereka lakukan lagi. Hal kecil yang tidak terlalu penting, namun terasa sangat berharga.
"Kau tahu aku mencintaimu lebih dari hidupku, pastikan kau selalu bahagia, Kells. Jika suamimu itu membuatmu sedih sedikit saja, aku bersumpah akan memutar lehernya 180 derajat. Dan kau tidak akan bisa berbohong karena aku akan tahu. Ikatan batin dan semacamnya, ingat?" ucap Cal.
Kelly mengurai pelukannya, lalu mengangguk. Tiba-tiba seulas senyum menghiasi wajah Kelly dan Cal tahu ia dalam masalah.
Cal melupakan taruhan konyol itu. Sial.
Beberapa bulan yang lalu, saat Kelly mengumumkan tanggal pernikahannya, mereka membuat taruhan. Jika Cal mengatakan hal-hal manis tentang fakta bahwa mereka memiliki ikatan batin antar saudara kembar di hari pernikahan Kelly, maka Kelly akan mendapat apa pun yang ia inginkan. Berlaku untuk sebaliknya. Dan Cal baru saja membuat dirinya sendiri kalah dari taruhan itu.
"Baiklah, Kells. Katakan keinginanmu," ucap Cal pasrah.
Kelly tertawa senang, lalu tanpa ragu mengatakan, "Aku ingin kau membuat film di resort ini. Bukan film aksi bercampur teknologi canggih juga dunia aneh yang selama ini kau buat.
Aku ingin kau membuat film tentang jatuh cinta."