
Avera menghentikan mobilnya, lalu melangkah keluar menuju rumahnya yang bercat putih sempurna. Rumah yang baru enam bulan menjadi tempatnya untuk pulang. Setelah melalui negosiasi yang panjang, akhirnya ibunya bersedia menetap di negara asal ayahnya ini. Bukan berarti Avera lebih memilih Jakarta dibanding New York; Avera suka keduanya karena itu adalah bagian tak terelakkan darinya. Avera hanya menyukai perubahan dan rumah baru, juga lingkungan hidup baru merupakan salah satu dari sekian banyak hal yang disukainya.
Masih dengan langkah ringan juga bibir yang bersenandung, Avera memasuki rumah. Segalanya tertata rapi juga harmonis. Sebuah foto keluarga berbingkai indah berisi dirinya juga kedua orangtuanya-James dan Laura-menjadi titik sentral dari tema ruang tamu itu. Avera tersenyum ketika melihatnya. Foto itu juga baru diambil beberapa minggu yang lalu. Ia nampak begitu bahagia, diimbangi dengan senyum orangtuanya yang terlihat amat menenangkan. Mengisyaratkan bahwa kehidupan mereka akan terus seperti itu; bahagia dan tenang.
Avera mengerutkan kening ketika melihat pintu ruang keluarga terbuka lebar. Mengikuti bisikkan hatinya, Avera mengubah arahnya dan berdiri di depan pintu.
Segalanya tampak aneh di mata Avera; ayahnya berdiri kaku, sementara ibunya duduk dengan wajah pucat juga tangan terkepal di dada. Kemudian ada Paman Joshua-kakak ayahnya-yang berdiri menghalangi pintu.
Avera tidak mengerti apa yang menjadi penyebab keganjilan itu, hingga Paman Joshua bergeser dan memberi Avera pandangan yang lebih luas. Ada seorang gadis berdiri di tengah ruangan itu. Seorang gadis yang mungkin seusianya, dengan tubuh tinggi juga rambut merah gelap.
Dengan perasaan familiar yang aneh, Avera terus mengamati gadis itu bersama suasana tegang yang mewarnai ruang keluarganya. Seakan-akan mereka semua sedang berada di tengah medan pertempuran. Avera tersentak ketika gadis itu berbalik menatapnya, dengan mata berwarna hitam kelam yang merefleksikan warna mata Avera sendiri.
Perlahan, seulas senyum tersungging di wajah gadis itu. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuat Avera merasa tidak tenang. Pertanyaan demi pertanyaan datang memenuhi benak Avera. Dan seluruh pertanyaan Avera terjawab dengan satu sapaan ramah dari gadis itu.
"Halo, Adik."
Seluruh mata di ruangan itu beralih pada Avera dengan ekspresi syok dan panik menjadi satu. Avera membeku sepenuhnya, tak memercayai pendengarannya. Tiba-tiba segalanya nampak kabur. Ibunya berseru memanggilnya, sementara Paman Joshua berusaha meraihnya ke dalam pelukan.
Namun Avera menolaknya. Ia melangkah mendekat dan terus menatap gadis itu, yang kini senyumnya berubah menjadi lebih dingin
"Apa maksudmu?" tanya Avera dengan suara yang dipaksakan datar. Lalu penjelasan itu mengalir dengan lancar. Selayaknya cerita
pengantar tidur lengkap dengan nada yang terkontrol. Avera tetap mendengarkan dengan seksama, tak peduli pada rasa sakit yang terus menggerus hatinya seiring berjalannya cerita itu. Cerita yang terasa seperti mimpi buruk, namun memberi fakta tak terbantahkan; segalanya masuk akal.
Gadis berambut merah gelap itu bernama Jill dan mengaku sebagai anak dari James Daelan. Usianya genap delapan belas tahun tiga bulan yang lalu. Hanya tiga bulan lebih tua dari Avera yang akan berulang tahun besok. Sekarang Avera mengerti perasaan familiar yang dirasakannya, karena ternyata mereka berbagi darah yang sama.
Seakan fakta itu belum cukup menghancurkan, Jill mengatakan fakta lainnya. Bahwa ibu kandungnya adalah Lauren Voletta-adik kandung dari Laura, ibu Avera-yang menghilang bahkan sejak sebelum Avera lahir. Lauren pergi untuk menyembunyikan fakta bahwa dirinya mengandung anak dari suami kakaknya. Kini, semua benar-benar masuk akal.
Setelah Jill menyelesaikan ceritanya, yang ditutup dengan kesediaannya untuk menjalani tes DNA, keheningan membalut dengan sempurna. Keheningan yang menyimpan duka, sesak, juga jeritan. Keheningan yang menggambarkan satu realita tanpa bantahan bahwa hidup tak selalu berjalan sesuai harapan. Keheningan yang sekali lagi, membuat mereka semua membeku tak berdaya sementara luka menganga jauh di lubuk hati terdalam.
Suara pecahan barang yang diikuti jeritan penuh amarah kembali memenuhi rumah itu. Tak ada lagi bahagia, apalagi ketenangan. Semuanya terbakar habis bersama perdebatan demi perdebatan yang seakan tak menemukan titik akhir. Selembar kertas berisi pernyataan bahwa ayahnya benar-benar memiliki anak selain dirinya menjadi inti dari segala perdebatan itu. Sudah hampir dua minggu dan tetap tak ada harapan bahwa badai yang kini sedang menerjang keluarga mereka akan berlalu.
Avera memeluk lututnya erat-erat sementara air mata mengaliri wajahnya. Kalimat-kalimat yang diucapkan kedua orangtuanya terasa bagaikan sayatan pisau di dadanya. Mereka saling menyalahkan dan mengucapkan sumpah serapah. Seumur hidupnya, Avera tidak pernah mendengar ayahnya berteriak apalagi mendengar ibunya menyumpah. Seburuk apa pun masalahnya, mereka selalu bisa menyelesaikannya dengan tenang. Avera tidak percaya, dua orang dengan cinta yang begitu pekat bisa bertengkar hingga saling menyakiti dengan begitu dalam. Ke mana perginya semua cinta itu?
Kembali terdengar suara barang yang pecah dan Avera berjengit. Terlebih ketika didengarnya jeritan histeris ibunya, Avera menggigit bibir kuat-kuat demi mengalihkan rasa sakit dari dadanya.
Hanya saja mimpi itu telah berlangsung selama dua minggu dan menerakan luka tak tertanggung di hatinya.
Avera mencoba menulikan pendeng
arannya, namun pertengkaran itu justru semakin jelas terdengar. Sekali lagi ibunya mengutuk ayahnya, lalu
tak terdengar apa pun. Avera tersentak. Secepat kilat ia berlari keluar dari kamarnya. Tak lagi dipedulikannya segala barang yang menghalangi langkah. Avera hanya tahu ia harus segera melihat orangtuanya.
Pemandangan yang menyambut Avera sama sekali tidak diduganya; ibunya tergeletak pucat di lantai bersama genangan darah. Kedua mata ibunya tertutup rapat dan pergelangan tangannya tersayat begitu dalam hingga darah terus mengalir keluar tanpa henti.
Avera jatuh berlutut. Dengan tangan gemetar Avera menyentuh wajah ibunya.
"Ibu. . . baik-baik saja? Buka matamu. I-ibu. . ."
Bulir-bulir air mata semakin deras melintasi wajahnya dan Avera berusaha sekuat tenaga menelan isaknya. Avera mendongak untuk menatap ayahnya, tak percaya ketika ia melihat ayahnya hanya berdiri membeku tanpa ekspresi apa pun di wajahnya. Tak ada kecemasan, apalagi air mata. Seakan-akan ayahnya telah menyerah.
Betapa Avera berharap semua ini hanya mimpi.
Namun cairan merah gelap yang kini ikut menggenanginya memberitahu Avera bahwa semua ini bukan mimpi.
Dan detik itu juga Avera tahu, ia benar-benar telah kehilangan hidupnya.
Avera memandang ibunya yang duduk tak bergerak dengan nanar. Sudah satu bulan berlalu sejak insiden percobaan bunuh diri yang dilakukan ibunya dan kini keadaannya semakin memburuk. Dokter bahkan tidak memperbolehkan siapapun masuk ke kamar rawat ibunya selain petugas medis. Depresi yang dialami ibunya begitu parah hingga dorongan untuk menyakiti diri sendiri sangat besar. Dan karena itu, dalam waktu beberapa hari ibunya akan dipindahkan ke panti rehabilitasi.
"Ia pantas mendapatkannya," ucap seseorang di sisi Avera.
Avera menoleh dan matanya segera memancarkan amarah yang menyala pada orang di sisinya itu. Jill, tentu saja. Gadis itu tak henti menghantui Avera.
Jill tersenyum manis, tak memedulikan ekspresi Avera yang seperti ingin mencabiknya.
"Setelah semua hal yang ia lakukan padaku-delapan belas tahun hidup penuh penderitaan-pembalasan semacam ini tidak ada apa-apanya. Kau akan melihat bahwa semua ini hanyalah awal, karena aku baru saja mulai. Aku akan mengambil segala hal yang kau renggut dan aku tidak akan berhenti hingga aku mendapatkan semuanya. Aku tidak akan berhenti hingga kau merasakan rasa sakit yang sama dengan yang kurasakan.
Hidupmu yang sesungguhnya baru saja dimulai. Bersiaplah, Adik," lanjut Jill tenang.