Theatrical Love

Theatrical Love
Episode 11



Avera membeku selama beberapa saat. Tak mengenali tubuh yang kini memeluknya dengan hangat. Avera mengatur napasnya, berusaha mengendalikan refleksnya yang ingin mendorong Cal. Alih-alih mendorongnya, Avera mengangkat kedua tangannya untuk membalas pelukan itu. Bagaimanapun, ia harus merasa sangat bahagia, bukan? Ia baru saja dilamar dengan kata-kata yang paling ingin didengar seluruh gadis di muka bumi.


"Tidakkah kau berpikir kalimatmu itu berlebihan?" bisik Avera.


Cal mengeratkan pelukannya dan membalas bisikan Avera tepat di telinganya, "Aku meminta penulis naskahku untuk mengarangnya. Sesuai dengan saranmu. Bukankah aku calon suami yang baik?"


Avera memutar matanya. Hampir saja ia melupakan sifat asli calon suaminya itu; terlalu percaya diri, menyebalkan, dan tidak mau kalah. Namun setidaknya Avera tidak perlu khawatir mengenai sandiwara mereka. Semua berjalan dengan lancar dan terasa lebih mudah, karena Cal benar- benar seorang aktor yang meyakinkan.


Cal melepaskan pelukannya, lalu membalas tatapan kesal Avera dengan satu kedipan singkat. Tanpa kata Cal membawa Avera menghampiri ayahnya dan Cal meminta restu dengan penuh keyakinan. James tidak mengatakan apa pun, hanya satu anggukan singkat, dan ia beranjak pergi.


Keluarga Avera yang berhasil keluar dari zona mematung, menghampiri mereka berdua dan mengucapkan selamat. Semua ucapan tercampur menjadi satu dan sesekali tawa terdengar. Mereka berusaha menghibur Avera yang mendapatkan pengabaian sempurna dari ayahnya.


Patricia dan Sienna mendominasi pekikan dengan nada iri penuh kagum, sementara Genan dan Ivander menepuk bahu Cal. Avera tidak bisa melakukan apa pun selain tersenyum dan bersandar pada Cal, karena pria itu sama sekali tidak mau melepaskannya.


Ketika akhirnya Avera berhadapan dengan Paman Joshua, selaput bening mulai menggenangi matanya. Avera merasa sangat bersalah. Apalagi begitu melihat kebahagiaan nyata dalam wajah pamannya. Seakan- akan, pamannya tahu bahwa Cal adalah yang terbaik bagi Avera.


Sejak kecil, Avera sangat dekat dengan ayah dari Genan dan Ivander itu. Bahkan terkadang Avera berpikir ikatannya dengan Paman Joshua lebih kuat dibanding dengan ayahnya sendiri. Avera tahu betapa kecewa Paman Joshua ketika Avera memutuskan untuk melupakan impiannya dan beralih untuk bersaing dalam segala hal dengan Jill. Namun Paman Joshua tidak pernah berhenti mendukungnya. Dan kini, saat Avera melemparkan sebuah kebohongan tepat di hadapan pamannya itu, Avera tidak bisa melakukan apa pun selain menahan tangis.


"Kau akan mendapatkan bahagiamu, Avera," ucap Joshua lembut, lalu beralih pada Cal dan berpesan untuk menjaga gadis kecilnya dengan baik.


Avera mengalihkan perhatian pada orang yang kini berdiri di hadapannya; Jill. Kakaknya itu mengulurkan tangan dan memeluk Avera dengan paksa. Refleks, Avera menepis tangan Jill dan menatapnya tepat di manik mata.


"Aku senang akhirnya kau bisa menemukan seseorang yang lebih baik. Kali ini, pastikan ia tidak merasa bosan dan mencari yang lain," ucap Jill dengan senyum mengejek di akhir kalimatnya.


Ketegangan mulai merebak, namun Cal dengan cepat mengambil alih dan berkata, "Aku tidak akan pernah merasa bosan dengan Avera. Ia adalah gadis penuh kejutan. Kau bisa pegang kata-kataku. Hanya pria gila yang tidak bisa melihat keistimewaan dalam diri Avera dan membuktikan kegilaannya dengan berpaling pada gadis rendahan."


Genan meledak dalam tawa, diikuti Ivander dan Sienna. Sementara Patricia melangkah melewati Jill dengan pandangan penuh rasa jijik.


Cal, yang tidak mengerti reaksi keluarga Avera itu-karena Avera tidak memberitahu Cal tentang Jill maupun alasan dibalik pernikahannya yang gagal sebelumnya-hanya bisa melayangkan pandangan penuh tanya pada Avera. Bertanya-tanya apa yang salah dengan ucapannya.


Dan Avera hanya menjawabnya dengan satu kedipan mata.


***


Jakarta.


"Aku tidak percaya kau benar-benar mengalami ini," gumam Hester seraya membantu Avera merapikan gaun pengantin ketigapuluh yang dicobanya.


"Aku juga tidak percaya hal ini benar-benar terjadi. Aku tidak kesulitan dalam menentukan gaunku yang sebelumnya. Hanya satu kali lihat dan semua selesai. Namun sekarang, bahkan setelah gaun ketigapuluh dan menghabiskan waktu lima jam di butik ini, aku masih belum mendapatkan gaunku!" sahut Avera dengan nada kesal.


"Itulah yang kau dapatkan ketika kau mencari gaun pengantin di saat- saat terakhir. Apa yang sebenarnya kau pikirkan, Avera? Pernikahanmu akan dilangsungkan bulan depan dan kau hanya menyempatkan waktu satu hari untuk mempersiapkannya? Aku tahu kau begitu sibuk dengan segala pengalihan kekuasaan di perusahaan itu, namun bukan berarti kau bisa mengabaikan persiapan pernikahanmu!" omel Hester.


Avera hanya mengerutkan bibirnya, tak mau membalas ucapan Hester karena ia tahu semua kekacauan ini murni kesalahannya. Karena terlalu sibuk mengurus pekerjaannya, Avera mengabaikan persiapan pernikahannya. Ia bahkan tidak mengecek ulang segala persiapan yang dilakukan oleh wedding organizer yang disewanya. Selama satu bulan Avera tenggelam dalam rutinitas sebagai CEO yang baru-terima kasih pada Cal yang berperan besar sebagai calon suaminya juga sebagai investor baru di perusahaannya-dan persiapan untuk beberapa proyek besar yang berusaha ia menangkan. Sering kali Avera melewatkan waktu istirahat, termasuk waktu tidurnya, hingga ia selalu mengesampingkan masalah pernikahan ini.


"Aku pernah mengalami hal ini sebelumnya bersama Adrienne. Ia mencoba ratusan gaun sebelum akhirnya mendapatkan yang ia inginkan. Dan gaun itu dipilih oleh Javier. Menurutmu, haruskah kita memanggil Cal?


Mungkin masalah gaun ini akan selesai," balas Hester.


"Aku tidak menikahinya dengan sungguh-sungguh, Hester. Dengan sekali lihat saja kau bisa tahu betapa besar perbedaan antara pernikahanku dan pernikahan Javier. Aku terlalu hampa dan datar, sementara Javier begitu bahagia dan penuh cinta. Dan untuk apa memanggil Cal? Ia tidak akan peduli pada penampilanku," tukas Avera.


Hester mengangkat kedua alisnya, lalu berkata, "Aku tidak buta,


Avera. Meskipun aku tahu kalian hanya menikah di atas kertas, aku bisa melihat chemistry di antara kalian. Dan aku berani bertaruh, Cal pasti peduli pada penampilanmu. Bagaimanapun, kalian akan menikah, bukan pergi rekreasi ke taman hiburan."


"Apa kau tidak pernah mendengar tentang larangan melihat gaun pengantin mempelai wanita untuk pria yang akan menikah? Mereka bilang itu pertanda buruk," balas Avera tak mau kalah.


"Aku tidak percaya itu dan aku juga tahu kau tidak memercayainya," sahut Hester lugas.


Avera menghela napas. Tidak mau memperpanjang perdebatan tanpa ujung mereka.


Sebuah ketukan terdengar di pintu kamar ganti, membuat Avera dan Hester saling memandang bingung. Dengan ragu, Hester membuka pintu dan sosok Cal yang nampak kasual dalam balutan kemeja putih dan celana khaki memenuhi penglihatan mereka.


Cal menyapa Hester, lalu beralih menatap Avera dan berkata, "Aku memiliki sesuatu untukmu."


Kemudian dua wanita petugas butik datang dengan membawa sebuah kantong gaun. Avera melayangkan pandangan bertanya pada Cal dan Hester terkesiap.


"Sementara kalian sibuk berdebat, aku sudah memilihkan satu gaun untuk calon pengantinku," jelas Cal tenang.


Avera tidak membalasnya, hanya menutup pintu dan membiarkan petugas butik membantunya untuk mencoba gaun yang Cal pilih.


"Apa ia benar-benar mendengarkan pembicaraan kita?" tanya Hester. "Aku tidak tahu," jawab Avera.


Avera mengingat saat pertama kali ia memperkenalkan Cal pada Hester, sebagai satu-satunya orang yang mengetahui pernikahan sandiwara mereka.