Theatrical Love

Theatrical Love
Episode 7



"Dan sekarang kau tahu obsesinya itu adalah membeli resort-ku yang di Lombok," sahut Avera.


Hening sesaat. Tiba-tiba Hester menjentikkan jarinya, membuat Avera mengerutkan kening.


"Kau memiliki jawabannya, Avera! Tentu saja kau sudah memilikinya. Astaga, mengapa tidak terpikirkan sejak tadi?" seru Hester bersemangat.


"Apa yang kau bicarakan?" tanya Avera tidak mengerti.


"Kau tadi bertanya di mana bisa menemukan pria muda sempurna dan semacamnya, bukan? Dan jawabannya adalah Calvert Ellegra!" jawab


Hester masih dengan menggebu-gebu.


Avera membelalakkan mata. Ketika berhasil mengatur kembali ekspresinya, Avera menggelengkan kepala. Dengan jelas juga tanpa ragu menolak ide itu, namun Hester tetap melanjutkan.


"Pria itu sudah menghantuimu selama enam bulan, Avera. Aku yakin


Calvert tidak akan menyerah hingga ia mendapatkan resort-nya. Aku rasa ini adalah win-win solution. Kau mendapatkan suami sempurna, sementara Calvert akan mendapatkan resort yang menjadi obsesinya."


Avera tercengang mendengar penuturan Hester, namun kepalanya tetap menggeleng.


"Bukankah kau akan melakukan apa pun untuk menang dari Jill? Lagi pula, apa bedanya melangsungkan pernikahan palsu dengan pernikahan kerjasama yang sebelumnya akan kau lakukan? Pikirkan kembali, Avera," ucap Hester serius.


Avera menatap Hester, lalu bertanya, "Kau sungguh-sungguh menyarankan hal ini?"


Hester menghela napas. "Tentu saja ini bukan hal yang baik, aku tahu itu. Namun ini jalan keluar terbaik untuk masalahmu. Kecuali kau mau mempertimbangkan saranku untuk pergi dari keluargamu dan melupakan seluruh persainganmu dengan Jill."


"Tidak akan pernah. Aku tidak akan membiarkan Jill mendapatkan keinginannya. Aku akan terus berjuang hingga berhasil menghancurkannya," balas Avera seketika.


Hester menghela napas. Dengan sedih ia menatap sahabatnya yang begitu tenggelam dengan kebencian juga dendam, namun apalagi yang bisa dilakukannya? Hester sudah memberikan banyak saran untuk Avera dan jika saran itu melibatkan kata "mengalah pada Jill‟ maka secepat kilat


Avera akan menolaknya.


"Tidakkah kau ingin bahagia, Avera?" tanya Hester pelan.


Alih-alih menjawab, Avera justru bangkit berdiri dan melangkah kembali menuju kantornya. Meninggalkan Hester yang kembali menghela napas di belakangnya.


Avera bahkan sudah memikirkan seluruh syarat untuk pernikahan negosiasi itu. Avera tahu ia terdengar seperti orang gila, namun Avera tidak bisa menahannya. Jika itu adalah satu-satunya jalan untuk mengalahkan Jill, maka Avera akan melakukannya. Karena tidak ada hal yang tidak akan dilakukan Avera untuk menghancurkan Jill.


Avera meraih ponselnya, lalu menghubungi Sienna.


"Sienna, tolong atur jadwal pertemuan untukku dan Calvert Ellegra.


Aku tidak peduli kapan, namun usahakan dalam waktu dekat. Terima kasih." ucap Avera. Tanpa menunggu balasan Sienna, Avera memutuskan sambungan telepon.


***


Lombok.


Cal membalikkan tubuh, namun gerakannya terhenti ketika sudut matanya menangkap sosok seorang gadis. Gadis itu mengenakan gaun berwarna oranye pudar dan rambutnya yang berwarna hitam panjang berkibar tertiup angin. Ketika terkena sinar matahari, ada semburat merah gelap pada rambut hitam itu yang membuatnya terlihat mengagumkan. Gadis itu hanya berdiri di bibir pantai, larut sepenuhnya dalam lamunan. Bahkan ketika gulungan ombak menghampirinya, gadis itu tetap berdiri membeku.


Ada sesuatu dalam diri gadis itu yang mampu membuat Cal terpaku. Tanpa daya, Cal tetap berdiri di tempatnya dengan mata yang terus memandangi gadis itu. Cal tidak tahu mengapa dirinya enggan untuk beranjak.


Cal pun tidak tahu mengapa gadis itu terlihat mempesona di matanya. Namun satu hal yang Cal tahu, gadis itu baru saja mengubah sesuatu dalam dirinya.


Karena kini, untuk pertama kalinya sejak hidupnya berubah hampa, Cal menemukan sesuatu yang dapat disebutnya indah. Gadis itu terlihat indah baginya.


Ombak kembali menghempas tubuh gadis itu. Menciptakan hujan air di sekelilingnya. Perlahan, tangan gadis itu terangkat dan berhenti tepat di dada kirinya. Gadis itu memejamkan mata. Membiarkan waktu kembali berjalan, sementara ia terhanyut dalam rengkuhan mentari juga semilir angin. Beberapa saat kemudian, gadis itu membuka mata dan melangkah pergi.


Meninggalkan Cal yang masih terpaku dan hanya mampu memandangi kepergiannya dengan satu pertanyaan besar.


Mengapa gadis itu terlihat penuh luka?


Belum juga pertanyaannya terjawab, Cal mendengar suara ketukan di pintu kamarnya. Trey datang mengingatkannya tentang pertemuan dengan pemilik resort ini. Cal tidak tahu apa yang telah membuat sang pemilik resort berubah pikiran dan Cal tidak peduli. Baginya yang terpenting hanyalah membeli resort ini, lalu membuat film sesuai janjinya pada Kelly. Cal bahkan sudah mempersiapkan cek dengan jumlah uang yang sangat besar. Karena Cal sungguh akan melakukan apa pun, bagaimanapun, agar resort ini menjadi miliknya.


Ketika Cal sampai di restoran yang terletak di sisi barat resort, seorang pelayan mengarahkan Cal untuk menaiki tangga hingga lantai tiga. Pelayan itu membuka pintu ganda yang menyimpan ruangan berdinding kaca di dalamnya. Ruangan itu bermandikan cahaya matahari dan ada sebuah meja di sudut kirinya.


Cal dipersilakan masuk, sementara langkah Trey ditahan. Meski bingung, Cal menuruti instruksi pelayan itu dan meninggalkan Trey berdiri di depan pintu. Begitu pintu tertutup, Cal melanjutkan langkah menuju meja di sudut kiri ruangan.


Dan Cal terkejut ketika melihat orang yang menunggunya adalah gadis


itu.


Ya, gadis yang berdiri di bibir pantai beberapa saat yang lalu. Kini gadis itu telah berganti pakaian dengan gaun formal berwarna biru tua. Rambut hitamnya digelung sempurna hingga tak memperlihatkan sedikit pun semburat merahnya yang menganggumkan. Wajahnya tak menampilkan ekspresi apa pun, sementara mata kelamnya menatap Cal tanpa ragu. Segala hal yang Cal anggap indah dalam diri gadis itu menguap; gadis itu telah ber-metamorfosa menjadi gadis tangguh.


Gadis itu berdiri, lalu mengulurkan tangannya yang mungil.


"Avera Daelan," ucapnya singkat tanpa senyum sedikit pun.


Cal menyambut uluran tangan itu seraya mengucapkan namanya, kemudian mereka berdua duduk berhadapan dan selama sesaat hanya ada keheningan. Cal mencoba menata kembali pikirannya yang saat ini meluapkan banyak pertanyaan.


"Aku akan menjual resort ini dengan satu syarat," ucap gadis itu tegas.


Cal mengangguk, mengisyaratkan gadis itu untuk melanjutkan. Cal sudah mempersiapkan dirinya untuk segala kemungkinan. Cal akan melakukan apa pun. Cal sudah siap. Namun ketika gadis itu kembali membuka suara, Cal sama sekali tidak siap untuk mendengar syarat gadis itu.


Syarat yang hanya berupa satu kalimat dan terdiri dari dua kata, namun terdengar begitu mustahil. Syarat yang membuat Cal mematung seutuhnya.


"Menikahlah denganku."


Avera mengepalkan tangan yang berada di pangkuannya kuat-kuat. Jantungnya berdentam begitu keras hingga terasa menulikan pendengarannya. Namun Avera tidak khawatir tentang itu, karena pria di hadapannya tak terlihat akan bersuara dalam waktu dekat. Avera tahu syaratnya terdengar begitu gila, apalagi diucapkan kepada seseorang yang benar-benar asing, namun Avera tidak memiliki pilihan lain.


Avera berusaha menjaga ekspresinya untuk tetap datar. Meskipun hatinya gelisah luar biasa, Avera tidak akan mundur. Avera sudah melangkah sejauh ini dan Avera akan menyelesaikan langkahnya hingga akhir jalan.