
Leo meledak dalam tawa sementara Cal bergumam, "Kau berencana membunuhku?"
Kelly mengabaikan pertanyaan itu dan terus berceloteh mengenai plot cerita juga sudut-sudut yang wajib menjadi latar. Sesekali ibunya menimpali dan Kelly menjadi semakin bersemangat. Cal tidak mendengarkan sepenuhnya, hanya menggumam di saat-saat yang tepat. Namun Cal akan tetap melakukan hal itu. Terlepas dari taruhan konyolnya, Cal selalu mewujudkan apa pun keinginan Kelly. Hal itu menjadi semacam hal tak terbantahkan dalam hidupnya.
"Kau mengerti?" tanya Kelly di akhir celotehnya.
Cal belum sempat menjawab karena ponselnya bergetar menandakan panggilan masuk. Begitu melihat layar ponselnya, tanpa ragu Cal menjawab panggilan itu. Setelah selesai, Cal memasang ekspresi se-menyesal mungkin di wajah tampannya. Meski Kelly tidak terpengaruh dan tetap menatapnya dengan mata menyipit, Cal melanjutkan pidato permintaan maafnya karena harus pergi lebih dulu.
Seharusnya minggu ini menjadi hari libur bersama keluarga Ellegra. Selain Kelly, kedua orangtuanya pun akan menetap di resort itu selama satu minggu. Cal tahu orangtuanya segera mengerti setelah ia mengucapkan beberapa kalimat lugas, namun Kelly berbeda. Cal harus menghabiskan waktu lebih panjang untuk meyakinkan saudari kembarnya itu.
Setelah penjelasan tentang betapa penting proyek itu untuk Cal, akhirnya Kelly mengangguk. "Baiklah. Kau boleh pergi.
Kita akan melanjutkan pembicaraan mengenai film jatuh cintamu minggu depan setelah aku pulang berbulan madu. Jangan lupakan janjimu, Cals," ucap Kelly.
Cal memberinya hormat ala militer, lalu mereka kembali berpelukan dan mengatakan sampai bertemu minggu depan.
Hanya saja, hidup sering kali membiarkan hal tak kasat mata ikut bercampur tangan. Hidup membuktikan bahwa ucapan sederhana namun penuh janji mampu berubah menjadi luka tak tertanggungkan. Hidup memberikan sebuah fakta tak terelakkan bahwa manusia tak kan pernah tahu kapan batas waktunya untuk berbahagia akan berakhir.
Dan bagi Calvert Ellegra, waktu itu berakhir satu minggu setelah pernikahan penuh kebahagiaan saudari kembarnya. Waktu itu berakhir hanya beberapa saat sebelum mereka kembali bertemu dan saling berbagi peluk.
Ucapan sampai bertemu minggu depan itu tidak pernah menjadi nyata. Cal dan Kelly tidak bertemu satu minggu setelahnya. Begitu juga dengan kedua orangtua dan sahabatnya. Cal tidak pernah bertemu dengan mereka lagi. Tidak dalam kondisi yang ia harapkan, setidaknya.
Karena pesawat yang membawa keluarganya kembali ke Los Angeles mengalami kecelakaan dan tidak ada satu pun korban yang selamat.
***
Los Angeles
"Dan penghargaan untuk sutradara terbaik tahun ini jatuh pada Calvert Ellegra!"
Tepuk tangan riuh yang terdengar di akhir kalimat itu membawa kembali berbagai kenangan yang terasa kabur bagi Cal. Ia berjalan menuju panggung, tersenyum meski senyum itu tak mencapai matanya. Apalagi hatinya. Di tengah hingar-bingar suara tepuk tangan juga kilat dari kamera, Cal tidak merasakan apa pun.
Jika orang-orang melihat lebih dekat, mereka akan tahu betapa tidak bahagia Cal berada di tempat itu. Di balik pakaiannya yang rapi juga bahunya yang berdiri tegak, ada sesuatu yang kelam di dalam Cal.
Waktu empat bulan terakhir dalam hidupnya adalah masa-masa paling buruk yang pernah Cal alami. Cal merasa ia telah berada di dalam neraka bahkan tanpa perlu mati terlebih dahulu. Terbangun setiap malam dengan mimpi yang sama, diiring perasaan sesak setelahnya, hanya memperparah derita yang mendera Cal. Siksaan itu bagaikan tak kenal lelah, karena setelah merenggut segala hal yang ia miliki, kini Cal terkurung dalam dunia hampa bersama lukanya yang tak kunjung mengering.
Ketika akhirnya mendapat kesempatan untuk berbicara di depan mikrofon seraya memegang pialanya, Cal terdiam sejenak. Matanya berkelana menyusuri deretan bangku juga kamera di hadapannya, namun Cal sama sekali tidak bisa menemukan fokusnya.
Cal kehilangan arah. Cal mencoba meraih perasaan apa pun yang tersisa dalam dirinya dan hanya menemukan hampa.
Tak ada apa pun. Juga tak ada siapapun.
Maka dengan usaha terbaiknya untuk tersenyum, Cal mengucapkan satu kata yang terasa begitu berat di lidahnya. Kata yang sesungguhnya tak sudi ia ucapkan lagi.
"Terima kasih."
Setelah itu Cal turun dari panggung dengan langkah panjang tanpa menoleh lagi.
Cal terbangun dengan napas yang berkejaran juga bulir-bulir keringat yang membasahi seluruh tubuhnya. Mimpi itu kembali datang. Mimpi tentang hari pernikahan Kelly, di mana mereka semua saling berbagi tawa, lalu tiba-tiba semuanya menjadi gelap dan Cal tidak bisa menemukan sedikit pun cahaya. Mimpi itu bagaikan pedang bermata dua; membuatnya merasa bahagia selama sesaat, sebelum merenggutnya lagi dengan tambahan luka.
Cal melangkah turun dari tempat tidur. Tanpa menyalakan lampu, ia terus berjalan menyusuri apartemennya menuju dapur. Setelah meminum segelas air putih, Cal melanjutkan langkah menuju kamar kedua yang ia jadikan sebagai ruang menonton. Cal meletakkan peralatan tercanggih untuk menonton di ruangan itu, diikuti kursi yang nyaman juga sederet fasilitas lain yang hanya mungkin diciptakan oleh seorang sutradara.
Ini adalah rutinitas yang selalu Cal lakukan selama empat bulan terakhir setelah ia terbangun dari tidur gelisahnya. Dari pada mencoba tidur kembali-yang hanya akan membawa mimpi itu lagi-akhirnya Cal memilih untuk menonton video berisi keluarganya. Cal memiliki banyak video, mengingat kegemarannya merekam segala sesuatu sejak berumur sepuluh tahun.
Cal ingat, di hari ulang tahunnya yang kesepuluh, orangtuanya menghadiahkan dirinya satu set drum band berukuran asli sementara Kelly mendapatkan handycam. Beberapa hari kemudian, Kelly mematahkan stik drum Cal, karena Cal lebih memilih bermain drum dari pada bermain dengannya. Dalam usaha untuk berdamai, Kelly memberikan handycam- nya dan sejak saat itu Cal tidak pernah berhenti merekam segala sesuatu di sekitarnya.
Kini, ketika melihat video tentang kesibukan keluarganya di hari kelulusannya tujuh tahun yang lalu, Cal merasa bersyukur karena telah merekam banyak video tentang keluarganya. Video itu mungkin tidak akan pernah cukup untuk mengobati luka Cal, namun setidaknya Cal memiliki kenangan sempurna untuk tempatnya berpulang dan beristirahat.
Cal tahu hal yang dilakukannya ini hanya semakin menambah garam pada lukanya, namun Cal tidak tahu cara lain yang lebih baik. Ia tidak bisa menangis dan menutup diri, karena apa gunanya? Kini Cal benar-benar sendiri. Tidak ada siapapun yang tersisa untuknya, bahkan hanya untuk sekadar menjadi temannya melalui semua kesedihan ini.
Cal kembali fokus pada layar di hadapannya. Dengan berlatarkan dapur yang penuh dengan barang pecah-belah juga makanan, ibunya berdiri dan memberinya tatapan kesal karena ia tak juga bersiap, sementara suara Kelly yang berteriak memperingatkannya terdengar jelas. Gambar beralih ke kamar Kelly, di mana pemiliknya sedang sibuk menata rambut. Begitu melihat ke arah kamera, Kelly langsung melempar sisir yang dipegangnya. Cal berhasil menghindar hingga selama sesaat kameranya tidak terfokus dan begitu kembali terfokus, wajah ayahnya yang mengangkat alis memenuhi layar.
Cal tertawa mendengar semua keributan juga ucapan yang bersahutan dari video rekaman itu. Tak lama Leo pun datang dan menggelengkan kepalanya ke arah kamera. Mereka saling mengejek satu sama lain, kemudian Leo-yang melupakan bahwa kamera di tangan Cal masih dalam mode merekam-mulai mengatakan tentang betapa ia bersyukur telah diadopsi oleh keluarga Cal dan video itu berakhir.
Leo dan Cal saling mengenal sejak hari pertama sekolah dasar. Mereka berteman dan tak terpisahkan. Meski Leo datang dari keluarga miskin juga ayah yang selalu mabuk, Cal tidak pernah mempermasalahkannya. Ketika anak-anak lain sibuk mengejek Leo, Cal dan Kelly akan berdiri membelanya. Leo adalah bagian dari keluarga Ellegra. Maka saat ayah Leo meninggal di tahun awal sekolah menengah pertama, tanpa ragu keluarga Cal mengangkatnya sebagai anak. Memberinya semua hak seperti yang didapatkan Cal dan Kelly.