The Twelve Witches

The Twelve Witches
Chapter 8 : Camping



Akhirnya, bola - bola itu jatuh mengenai punggung Steven.


Deg Deg Deg


"Hwaaa!! Kamu gak apa - apa?" Tanya Kimmy dengan berteriak sambil memegang Steven.


"Iya... Ouch! Sakit banget!" Jawab Steven sambil memegang punggung dan kepalanya yang terkena bola tadi.


"Tunggu dulu! Aku carikan kotak-----" Kata Kimmy yang tidak dapat menyelesaikan pembicaraannya karena Steven tiba - tiba memegang tangan Kimmy.


Deg Deg Deg


"P3K? Pfttt! Bodoh! Bukannya aku juga sudah mencarinya daritadi? Kalau daritadi ada pasti aku juga sudah mengobati kepalamu!" Jelas Steven sambil menahan tawanya.


"Kamu! Aku tidak bodoh! Dan aku tidak suka disebut begitu! Ya, aku emang bodoh karena sampai sekarang ini aku masih belum dapat menyelamatkan para penyihir yang terkurung! Ya, aku bodoh karena aku bahkan belum dapat menguasai satu mantera pun! Ya aku---" Jawab Kimmy yang bicaranya terpotong lagi sambil mulai menangis.


"Bodoh? Gak... Kamu gak bodoh... Aku... Aku minta maaf udah ngatain kamu bodoh... Entah kenapa aku hanya suka aja ngejekkin kamu bodoh... Alasan yang aneh ya gak sih?" Kata Steven sambil membelai kepala Kimmy.


"Ouch! Itu bagian kepalaku yang kena bola tadi tau!" Jawab Kimmy sambil memegangi kepalanya lagi.


"Benarkah?? Coba aku periksa lagi!" Canda Steven ke Kimmy.


"Hwaaa! Jangan! Ini benar benar sakit!" Jawab Kimmy sambil masih memegangi kepalanya.


"Hahahah! Iya, iya!" Tawa Steven.


"Yang harus kamu khawatirkan adalah punggungku tau! Seluruh badanku dari kspala sampai ujung kaki sangat sakit karena melindungimu!" Jelas Steven.


"Huft! Salahmu! Kamu yang mau melindungiku! Aku tadinya tidak berniat meminta pertolonganmu tau! Jadi, urus saja sendiri masalahmu!" Jawab Kimmy dengan galak.


"Apakah kamu tidak bisa menguranginya?" Tanya Steven.


"Mengurangi apa lagi?" Kimmy kembali bertanya.


"Mengurangi galakmu itu!" Canda Steven.


"Oh, jadi aku yang galak ya! Bagaimana denganmu? Bisakah kamu mengurangi tingkahmu yang sangat sangat MENYEBALKAN?!" Tanya Kimmy yang kesal karena perkataan Steven.


"Hahahah!!! Tidak jadi deh! Aku lebih suka kamu yang galak dan menyebalkan ini!" Jawab Steven sambil tertawa.


Deg Deg Deg


"Aku sepertinya bener bener punya penyakit jantung... Ini... BAHAYA!!! Kalau aku mati, ntar siapa yang gantiin tugasku buat nyelamatin para penyihir!! HWAA!!! " Pikir Kimmy dalam hatinya.


Kimmy dan Steven bercanda gurau dan mengobrol bersama. Sampai Kimmy dan Steven tertidur dalam posisi duduk. Kepala Kimmy bersender di bahu Steven dan Steven meletakkan kepalanya di atasnya.


Beberapa saat kemudian...


Klak!


Petugas Sekolah Silwony, Keysha, Matthew dan teman - teman perempuan lainnya mendobrak pintu gudang sekolah karena tidak dapat dibuka. Mereka semua terkejut ketika melihat Steven dan Kimmy tidur bersender senderan.


"Steven?! LIHATLAH ANAK BARU ITU! DIA MENCOBA MEREBUT PANGERAN KITA!" Jelas salah seorang dari para perempuan itu.


"Hei! Kalian tidak dapat membuat keputusan seenaknya! Bisa aja ada yang mengunci pintu gudang ini saat mereka didalam!" Jelas Matthew yang kesal dengan tingkah para perempuan itu.


"Sekarang pangeran kita yang kedua juga sudah di cuci otaknya oleh si anak baru ini! Ini tidak dapat diampuni!" Jelas seorang yang lain.


"Apa? Kalian ini bodoh atau apa sih?" Jawab Matthew.


Akhirnya Kimmy dan Steven terbangun karena ributnya keadaan disekitarnya.


"Eh? Ada apa ribut - ribut sih?!" Kata Steven sambil mengucek ucek kedua matanya.


"Eh... Pintunya sudah berhasil terbuka!" Jawab Kimmy dengan senangnya.


"Kamu! Ngapain kamu sama Steven berduaan disini?" Tanya salah seorang dari para perempuan itu dengan nada kesal.


"Eh? Ini... Ini bukan kayak yang kalian liat! Aku tadi kekunci disini sama Steven! Tapi aku masih belum tau siapa yang kunciin tadi!" Jelas Kimmy.


"Tuh kan! Kalian main nuduh orang aja! Ternyata mereka juga kekunci disini kan?" Kata Matthew yang berusaha membela Kimmy.


"Kalian gak bisa liat ya? Disini gak ada kunci apa - apa kan yang lagi dipegang sama kita? Jadi, yang Kimmy bilang itu gak salah!" Jelas Steven yang juga berusaha membela Kimmy.


"........ Iya juga ya......" Jawab yang lainnya sambil melihat ke tangan Kimmy.


"Sudah, sudah! Kalian semua lebih baik balik ke kelas! Steven dan Kimmy bisa pergi ke UKS karena kelihatannya kalian kesakitan. Nanti saya akan cari tau pelakunya, oke?" Jelas Petugas Sekolah Silwony.


"Iya, makasih pak..." Jawab Kimmy.


Akhirnya mereka bubar dan kembali ke kelas masing - masing.


"Ouch!" Kata Kimmy yang tiba tiba kepalanya sakit saat sedang berjalan.


"Eh? Kamu gak apa - apa? Sini kubantuin jalan ke UKS!" Kata Steven sambil membantu Kimmy dengan menggendongnya di punggung Steven.


"Eh? Dasar modus! Tadi di gudang juga kayak gitu! Main peluk peluk aja!" Jawab Kimmy yang kaget karena Steven tiba - tiba menggendongnya.


Deg Deg Deg...


Jantung Kimmy berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Punggungnya yang hangat... Membuatku ingin lebih lama berada di sisinya... Namun takdir berkata lain... Iya kan mama? Mama bilang di buku hitam itu kalau 'yang terpilih' akan ngebantu aku ngelawan penyihir jahat... Namun pada akhirnya dia juga nanti yang akan menyakitiku... Itulah takdir..." Pikir Kimmy dalam hatinya.


"Kamu gak takut kalau para fansku itu tiba - tiba ngeliat kamu lagi aku gendong?" Tanya Steven yang niatnya hanya untuk bercanda dengan Kimmy.


"Kenapa harus takut? Bukannya dari awal kita gak ada hubungan apa - apa? Hanya teman kan?" Jawab Kimmy sambil menundukkan kepalanya.


"Bener..." Jawab Steven.


"Entah kenapa aku sedikit sedih mendengar jawabanmu itu... Tidak tau kenapa semuanya langsung terasa aneh... Tidak tau peraaaan apa ini..." Pikir Steven sambil menundukan kepala.


Mereka pun sampai di UKS. Mereka diobati satu per satu. Setelah dari UKS, Kimmy kembali ke lapangan dan melihat anak anak perempuan yang tadi meminta bantuan Kimmy sedang bermain basket.


"Kelihatannya pelakunya udah ketahuan gak sih?" Pikir Kimmy dalam hatinya.


"Kimmy!" Teriak seseorang dari belakang sambil berusaha mengagetkan Kimmy dari belakang. Ternyata orang itu adalah Matthew.


"Lagi mikirin apaan?" Tanya Matthew sambil berjalan disamping Kimmy.


"Enggak... Makasih ya tadi udah mau tolongin aku dari gudang." Jawab Kimmy sambil tersenyum.


"Santai aja kali! Itu yang temen lakuin kan?" Kata Matthew sambil membalas senyuman Kimmy.


"Oh iya! Tadi waktu kamu lagi hilang, ada pengumuman di papan pengumuman di dekat kelas kita! Minggu depan sekolah bakalan ngadain Camping di Hutan Carvany!" Jelas Matthew.


"Beneran? ASYIKKK!!! " Teriak Kimmy sambil meloncat loncat bahagia.


"Pfttt... Oh iya... Kamu mau gak... Nanti di busnya kita duduk bareng?" Tanya Matthew dengan gugup.


"Eh? Pasti maulah! Tapi... Apa gak kenapa napa kalau kita duduk bareng? Ntar gimana cewek cewek lain?" Jawab Kimmy yang sangat mengkhawatirkan hal itu.


"Serius? Setau aku kamu itu orangnya berani lho! Jangan takut kali! Lagian aku gak akan biarin hal kayak kamu kekunci di gudang tadi ke ulang lagi!" Jelas Matthew sambil membelai kepala Kimmy.


Deg Deg Deg


"Jantung ini... Kenapa selalu berdebar tambah kencang... Sebenarnya kenapa?" Pikir Kimmy dalam hatinya.


"Gimana kalau kita main bola basket? Yang kalah harus traktir yang menang selama seminggu sampai nanti hari pelaksanaan kegiatan Camping dateng?" Usul Matthew dengan nada menantang.


"Eh?" Jawab Kimmy yang heran karena Matthew tiba - tiba mengajak untuk bertanding basket.


"Kenapa? Takut kalah ya? Iya juga sih... Lawanku kan cewek ya... Tapi setauku perempuan disampingku ini katanya sangat berani!" Canda Matthew sambil melihat ke arah Kimmy.


"Apa?! Aku tidak takut kalah! Ayo kita bertanding basket!" Jawab Kimmy dengan berani.


Akhirnya mereka bertanding basket berdua. Sekejap, banyak teman - teman kelas Kimmy yang melihat pertandingan mereka itu.


"Eh? Kenapa jadi banyak yang liatin?! Hwaa! Aku bisa serba salah lagi ini! Kalau aku menang nanti aku dibilang berani - beraninya ngalahin pangeran tercinta mereka! Tapi kalau aku kaah juga salah! Bisa - bisa mereka bilang kalau aku benar - benar gak cocok jadi tandingan kamu! Gimana ini?!" Kata Kimmy yang masih melanjutkan pertandingan basketnya.


"Hei! Don't worry! Bukannya aku udah bilang kalau aku gak akan biarin mereka ngapa ngapain kamu kayak di gudang itu!" Jawab Matthew setelah mendengar perkataan Kimmy tadi.