
"Kimmy?! Tapi bagaimana dia bisa... Jangan - jangan Matthew yang memberitahunya bawa ada pesta natal... Menyebalkan!" Pikir Michelle dalam hatinya.
Kimmy berjalan mendatangi lainnya dan ikut berbaur. Untung saja Kimmy mendapat beberapa teman karena pertandingan bola salju tadi. Kimmy terlihat lebih bahagia dari biasanya. Tiba - tiba, Steven datang sambil memegang bahu Kimmy.
"Ikut aku sebentar..." Kata Steven sambil menarik tangan Kimmy.
Keysha yang melihat itu, segera mengikuti mereka berdua ke halaman belakang restoran. Keysha mengendap - endap sehingga tak ada yang menyadari keberadaanya.
"Ada apa? Kamu bisa mengatakannya sekarang..." Tanya Kimmy yang bingung karena ia diajak pergi ke halaman belakang restoran oleh Steven.
"Apa kamu sudah hilang akal? Jika kamu berpenampilan seperti ini, kamu bisa - bisa ketahuan! Penyamaranmu dan usaha kita akan sia - sia saja!" Kata Steven dengan nada marahnya.
" Aku minta maaf... tapi aku heran kenapa kamu selalu mengurusi apapun yang aku lakukan! Tahukah kamu kalau aku sangat membenci tingkahmu itu!" Jawab Kimmy sambil menatap ke arah Steven.
"Aku juga benci tingkahmu yang selalu mudah percaya dengan oranglain! Pasti ini karena Matthew kan? Dia yang menyuruhmu memakai ini semua kan? Bisa saja dia itu mata - mata!" Jelas Steven yang semakin kesal dan marah.
"Sudah kuduga kalau dari awal kamu membenci aku... Kita emang gak seharusnya bertemu ya kan? Aku emang seharusnya gak datang ke pesta natal ini... Mereka benci aku... Kenapa aku masih punya muka buat ketemu sama mereka?Bodoh!" Kata Kimmy yang kemudian melangkah pergi meninggalkan Steven.
"Syukurlah kamu sadar! Keberadaanmu itu selalu jadi bencana bagi semua perempuan disini!" Pikir Keysha yang masih mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
"Tunggu dulu! Kamu mau kemana?" Tanya Steven yang kembali menyesali perkataannya yang terlalu kasar tadi.
"Aku mau pergi jauh - jauh dari pesta natal ini!" Jawab Kimmy sambil kembali melanjutkan berjalan meninggalkan Steven.
"Kenapa aku sangat emosi sekarang? Aku tidak dapat mengendalikan diriku! Aku ini kenapa?" Pikir Steven dalam hatinya dengan penyesalan yang mendalam.
"Ternyata kalian terlalu egois! kalian terlalu memikirkan kepentingan mereka masing - masing! Inilah yang akhirnya membuat mereka bertengkar lagi dan lagi! Tapi itulah yang menjadi kesempatanku untuk masuk ke kehidupan Steven... Steven, kamu itu milikku!" Pikir Keysha sambil tersenyum licik.
Kimmy berjalan menjauhi Steven dan kembali ke dalam restoran milik papa Michelle. Kimmy yang hendak keluar lewat pintu depan, tiba - tiba dicegat oleh Michelle.
"Mau kemana kamu?" Tanya Michelle yang penasaran karena Kimmy yang tiba - tiba hendak keluar dari restoran milik papanya.
"Mau pulang..." Jawab Kimmy dengan singkat yang kemudian membuka pintu restoran itu.
"Kamu kan baru datang... Gak boleh ada yang pergi sebelum aku bolehin, oke? Kalian harus ikutin aturan yang aku buat karena ini restoran papaku!" Jelas Michelle sambil kembali menutup pintu restoran itu yang tadi sempat di buka oleh Kimmy.
"Tapi, bukannya seharusnya kalian seneng kalau aku pulang? Gak akan ada yang halangin kalian lagi buat deket sama Steven dan Matthew, kan? Aku udah gak berguna lagi disini!" Jelas Kimmy dengan nada kesalnya karena tidak diizinkan pulang dulu.
"Kamu pikir kita izinin kamu buat pulang sebelum kita buat kamu malu dan menyesal udah datang ke pesta natal ini? Gak segampang itu Kimmy! Lagipula kamu pikir dengan perginya kamu itu dari pesta ini, Steven akan tetap berpesta disini? Aku rasa enggak!" Jawab Michelle yang masih tidak mengizinkan Kimmy pulang.
"Teman - teman, bagaimana jika kita semua bermain Truth Or Dare?" Usul Michelle sambil menarik tangan Kimmy agar kembali ke tengah - tengah semua murid yang sedang berpesta.
"Truth Or Dare? Itu ide bagus!" Jawab salah satu murid perempuan dengan bahagia.
"Baiklah! Ayo semuanya berkumpul disini dan ambil posisi duduk masing - masing. Kita lebih baik duduk di lantai saja dan membuat lingkaran besar sehingga semua kebagian tempat..." Jelas Michelle yang kemudian menyingkirkan meja - meja dan kursi - kursi di restoran itu agar mereka semua dapat duduk di lantai.
Semua murid duduk di lantai. Michelle mengambil satu botol anggur kaca dan memutarnya di tengah - tengah murid murid yang duduk melingkar.
"Baiklah! Aku mulai, ya?" Kata Michelle sambil mulai memutar botol anggur itu.
"Sekarang apa yang sudah mereka rencanakan? Semoga saja bukan sesuatu yang buruk!" Pikir Kimmy dengan perasaan khawatirnya.
Pats...
Botol anggur itu menunjuk ke Michelle.
"Truth Or Dare?" Tanya salah seorang murid.
"Hmmm... Sepertinya aku kurang nyali nih... Aku lebih baik memilih truth!" Jawab Michelle.
"Kamu lebih memilih Steven atau Matthew?" Tanya seorang murid.
"Iya! Kamu lebih memilih siapa?" Tanya murid yang lain.
"Aku? Hmmm... Itu pertanyaan yang sulit! Mungkin aku lebih memilih Matthew... Dan jika ada yang berani mendekatinya duluan sebelum aku, aku tidak akan segan melukainya!" Jawab Michelle sambil meremas gelas kaca yang tadi dipegangnya sampai pecah.
Glek...
"Menyeramkan sekali..." Pikir Kimmy dalam hatinya sambil menelan ludah.
"Itu baru semangat!" Jawab salah seorang murid.
"Sekarang, ayo kita lanjutkan permainannya!" Kata Michelle sambil mulai memutar botol anggur itu.
Sekarang, botol anggur itu menunjuk ke arah seorang murid yang bernama Windy.
"Aku memilih Truth!" Jawab Windy.
"Tentu saja Keysha! Mereka sangat akrab bersama bagaikan sepasang burung yang sedang jatuh cinta!" Jawab Windy dengan yakin.
"Yap! Aku juga setuju dengan pendapatmu! Bagaimanapun, Keysha adalah primadona sekolah ya kan?" Kata Michelle sambil menatap ke arah Kimmy.
"Hahahah... Kalian terlalu melebih - lebihkannya!" Jawab Keysha sambil tertawa kecil.
"Jadi, ini maksudnya mau mempermalukanku, ya?" Pikir Kimmy dalam hatinya.
Windy mulai memutar botol anggur itu dan botol itu sekarang mengarah ke Keysha.
"Aku memilih Truth!" Kata Keysha.
"Ah, bukan begitu cara kerjanya! Setelah 2 kali Truth, maka orang selanjutnya tidak dapat memilih truth lagi... Terpaksa ia harus memilih dare..." Jelas Michelle dengan tersenyum jahat.
"Baiklah!" Jawab Keysha dengan berani.
"Oke! Cium pipi orang yang kamu suka!" Kata Michelle.
"Apa?!" Jawab Keysha yang pura - pura kaget mendengar dare dari Michelle.
"Kamu harus melakukannya Keysha..." Kata Michelle.
"Baiklah..." Jawab Keysha sambil mulai berdiri.
Keysha perlahan lahan melangkah ke arah seseorang yang tidak lain adalah Steven.
"Wah! Ini semakin seru saja! Primadona sekolah akan mencium laki - laki populer di sekolah kita!" Kata salah satu murid dengan semangat.
Cup!
Keysha mencium pipi Steven. Steven terlihat sangat terkejut.
"Cepat balas ciuman pipi Keysha itu!" Pinta Michelle yang kemudian menatap ke arah Kimmy.
"Apa? Tapi ini kan bukan giliranku!" Jawab Steven.
"Sudahlah! Lakukan saja!" Pinta murid yang lain.
"Baiklah..." Jawab Steven yang kemudian hendak membalas ciuman pipi Keysha itu.
Cup!
Seketika, wajah Keysha memerah. Wajah Steven juga memerah karena ia diperhatikan oleh semua murid.
"Wah! Kelihatannya ada pasangan baru, ya!" Kata Michelle sambil kembali memutar botol anggur kaca itu.
Sekarang, botol itu mengarah ke Kimmy.
"Aku memilih Truth..." Jawab Kimmy yang takut akan pertanyaan yang akan diberikan.
"Steven atau Matthew?" Tanya Michelle dengan singkat.
"Aku... Aku tidak mau memilih... Aku menganggap mereka berdua sama - sama sebagai temanku..." Jawab Kimmy.
"Kamu harus pilih satu! Jangan egois begitu dong!" Kata Michelle dengan nada kesalnya.
"Aku... Aku lebih memilih Matthew..." Jawab Kimmy.
Michelle kembali memutar botol anggur kaca itu. Botol kaca itu menunjuk ke arah Daisy.
"Aku pilih Dare!" Kata Daisy dengan berani.
"Wah! Berani sekali kamu! Kalau begitu, coba tampar orang yang kamu sangat benci!" Kata Michelle dengan senyuman jahatnya.
Daisy mulai berdiri dan menghampiri Kimmy.
Plak!!!
Semua murid terkejut dan diam sejenak karena Daisy menampar Kimmy. Kimmy juga terkejut akan itu. Tiba - tiba, semua murid perempuan tertawa kencang.
"Itu karena kamu lebih memilih Matthew! Kuperingatkan kamu agar tidak dekat - dekat dengan Matthew! Dia itu milikku!" Ancam Daisy sambil melangkah pergi ke tempat duduknya.
"Hiks... Jangan menangis... Jangan menangis..." Pikir Kimmy dalam hatinya yang berusaha menahan tangisannya.
"Baiklah! Itu sangat menarik!" Kata Michelle sambil tersenyum jahat menatap Kimmy.