The Twelve Witches

The Twelve Witches
Chapter 28 : Someone Who Cares



"Ini demi keselamatan kota ini! Lagian, kenapa sih kamu gak pernah bisa lihat sisi baik yang udah aku lakukan? Kamu selalu aja lihat sisi buruk yang udah aku lakuin! Lagipula kalau aku gak ada disana, apa aku juga masih bisa selamat dengan diam aja di dalam kamar? Cepat atau lambat penyihir jahat itu pasti akan menemukanku! Terlebih lagi, ada mata - mata di kota ini! Aku pasti akan lebih cepat ketahuan!" Jelas Kimmy yang juga sudah mulai marah dan kesal karena perkataan Steven tadi.


"Kamu ini terlalu keras kepala!" Bentak Steven ke Kimmy.


"Dan aku tidak akan begitu kalau kamu tidak memulai duluan!" Jelas Kimmy dengan nada yang mulai meninggi.


"...... Aku minta maaf... Sebenarnya... Aku hanya khawatir akan keadaanmu... Kamu pergi melawan penyihir jahat itu ketika kondisi tubuhmu sedang lemah... Aku hanya takut kamu akan kenapa napa... Maaf... Maaf kalau aku terlalu emosi tadi..." Jelas Steven sambil menundukkan kepalanya karena merasa bersalah.


"...." Kimmy tidak berkata sepatah katapun.


"Aku tau segalanya tentang kamu... Kamu itu orangnya ceria dan periang... Karakter kamu mirip kayak anak kecil... Itu yang buat aku selalu ingin memanjakan kamu... Mirip kayak aku punya adik sendiri! Kamu itu orangnya juga mudah percaya dengan oranglain! Kamu juga keras kepala ketika aku lagu menasehati kamu! Aku tau kamu suka semua makanan yang manis! Waktu dulu aku mampir ke toko roti nenekmu, aku sering melihat kamu mampir kesana dan selalu membeli sebuah muffin untuk kamu makan dijalan menuju rumah kamu! Karena itulah aku sering membelikan kamu makanan - makanan manis... Kamu ingat gak waktu Festival Kembang Api waktu itu? Disitu aku bilang kalau aku kasih hadiah tahun barunya ke Matthew sama Keysha juga, kan? Tapi kenyataannya, aku hanya kasih itu ke kamu... Kamu itu orangnya bodoh! Mudah banget dibohongin orang! Itulah yang membuat aku jadi menganggap kamu sebagai sahabat terbaik bagiku! Kamu orangnya juga polos dan baik! Aku suka semua karakter kamu yang seperti itu... Karena itu aku mau kamu jadi sahabatku yang terbaik!" Jelas Steven sambil tersenyum manis ke arah Kimmy.


"..." Kimmy tidak dapat menjawab perkataan Steven itu.


"Aku yang berharap lebih... Ternyata di mata kamu, aku ini hanya seorang sahabat sekaligus adik bagimu... Aku mengerti..." Pikir Kimmy dalam hatinya.


"Iya... Aku juga akan selalu menganggap kamu sebagai sahabat... Sahabat terbaik dalam hidupku!" Jawab Kimmy sambil membalas senyuman Steven.


"Oh iya! Waktu aku lagi melawan penyihir jahat itu, tongkat sihirku sempat terlempar ke belakang. Lalu saat aku hendak mengambilnya, penyihir jahat itu menyerangku! Tapi seketika sihir itu musnah setelah terkena tanganku! Apa tanganku bisa menyihir tanpa tongkat?" Jelas Kimmy sambil mengingat ingat kejadian ketika ia melawan penyihir jahat itu.


"Apa?! Aku gak pernah tau kalau penyihir bisa melakukan itu! Setauku penyihir itu identik dengan tongkat sihir dan tidak dapat melakukan sihir apapun tanpa tongkat sihirnya..." Jelas Steven yang juga kaget mendengar hal itu.


"Apa orangtua kamu pernah memberitahu kamu tentang hal itu?" Tanya Steven.


"Belum pernah... Tapi aku belum pernah menanyakan hal itu ke papaku... Mungkin papaku tau sesuatu mengenai hal itu!" Jawab Kimmy dengan yakin.


"Iya juga sih... Tapi kondisi tubuh kamu lagi gak meyakinkan untui pergi dari rumah sakit... Kamu gak bisa pergi sekarang... Tubuh kamu panas banget waktu pertama kali diantar ke rumah sakit ini sampai kamu tertidur berhari hari... Mungkin aja sekarang tubuh kamu masih belum kuat..." Jelas Steven yang khawatir akan kondisi tubuh Kimmy.


"Kamu... Kenapa sekarang jadi peduli banget? Bukannya terakhir kamu gak datang jenguk aku waktu aku sakit? Kamu bilang kamu anggap aku sebagai sahabat terbaik dalam hidup kamu dan kamu gak mau kehilangan sahabat terbaik itu... Tapi kenapa kamu gak datang?" Tanya Kimmy sambil menundukkan kepalanya.


"Aku gak bisa kasih tau dia yang sebenarnya... Dia gak boleh tau kalau aku lagi menghindari dia karena aku takut dia mulai menganggap aku lebih dari seorang teman ataupun sahabat! Harus cari alasan lain!" Pikir Steven dalam hatinya yang sempat terdiam beberapa saat.


"Sebenarnya kalau kamu gak mau jawab gak apa - apa sih... Tapi paling enggak seorang sahabat gak akan menyembunyikan sesuatu, kan?" Jelas Kimmy yang sebenarnya masih penasaran akan alasan Steven.


"Itu... Aku... Aku lagi ada urusan... Aku harus belajar yang lebih rajin mulai sekarang untuk mempersiapkan masuk ke Universitas nanti..." Jelas Steven yang sebenarnya sedang membohongi Kimmy.


"Oh... Begitu ya... Kalau begitu, aku percaya sama kamu!" Jawab Kimmy sambil tersenyum manis ke arah Steven.


"Maaf udah bohongin kamu... Tapi inilah yang terbaik! Kamu gak boleh tau alasan aku yang sebenarnya!" Pikir Steven dalam hatinya.


"Iya! Iya! Bawel! Eh! Kamu beli dimana nih? Kelihatannya enak tuh!" Kata Kimmy yang sudah mulai kelaparan melihat sup hangat yang dibawa Steven.


"Enak aja! Kamu kira aku segitunya apa? Aku bisa masak tau! Aku mulai belajar masak karena gak pengen kamu lebih jago masak daripada aku! Dan kelihatannya kamu suka nih sama masakan aku! Sampai ngiler tuh! Hahahah!" Jelas Steven sambil tertawa.


Steven mulai membuka tutup kotak bekal itu dan aroma lezat dari sup itu langsung menyebar ke kamar rumah sakit itu.


"Wah! Ini beneran kamu yang masak? Kok kayaknya enak banget!" Tanya Kimmy sambil memperhatikan kotak bekal yang dipegang Steven.


"Ya dong!" Jawab Steven sambil menyendok sup hangat itu.


Kemudian setelah itu, Steven mengarahkan sendok yang berisi sup hangat itu ke mulut Kimmy.


"Eh? Aku bisa makan sendiri!" Jelas Kimmy yang kemudian hendak mengambil sendok itu dari tangan Steven.


"Tubuh kamu gak memungkinkan buat melakukan banyak pergerakan! Lagipula supnya panas juga! Nih!" Jelas Steven sambil menyuapi Kimmy makan.


"Eh... Em... Yaudah deh..." Jawab Kimmy sambil menerima suapan dari Steven.


Beberapa saat kemudian, Matthew dan Keysha tiba - tiba masuk ke kamar rumah sakit Kimmy dan melihat kejadian romantis itu.


"Eh? Kimmy? Kamu udah bangun?" Tanya Keysha.


"Iya..." Jawab Kimmy sambil tersenyum ke Keysha dan Matthew.


"Yaudah... Kan udah ada kalian... Jadi, aku pergi dulu, ya!" Jelas Steven sambil menutup kotak bekal yang tadi dibawanya dan memasukkannya ke dalam tas ranselnya.


Steven pun keluar dari kamar rumah sakit Kimmy. Sekarang hanya tinggal Keysha, Matthew, dan juga Kimmy.


"Steven ternyata peduli banget ya sama kamu!" Kata Keysha yang mulai cemburu dengan perhatian yang diberikan Steven kepada Kimmy.


"Ah, enggak kok! Kita kan udah kayak sahabat... Jadi, udah sewajarnya kalau begitu..." Jelas Kimmy yang tidak ingin berharap lebih lagi.


"Tapi dia emang beneran peduli banget lho sama kamu... Aku aja sampai menyesal karena aku gak bisa sepeduli itu ke kamu... Waktu kamu pingsan setelah melawan penyihir jahat itu, Stevenlah yang menggendong kamu dan membawa kamu ke rumah sakit ini... Terus dia rela gak pulang hanya buat nungguin kamu disini sampai kamu sadar... Dia juga rela gak makan disini... Karena aku sama Keysha gak tega melihatnya, aku sama Keysha suka bawain Steven makanan..." Jelas Matthew dengan panjang lebar.


"Benarkah dia melakukan itu semua ke aku? Mungkin dia hanya tidak ingin aku terluka dan tidak dapat membantu para penyihir yang terkurung itu..." Pikir Kimmy dalam hatinya.