The Twelve Witches

The Twelve Witches
Chapter 2 : New Friend



"Tunggu! Jadi kamu yang membunuh nenekku?" Tanya Kimmy dengan nada marah.


"Apa kamu gila? Tidak mungkin aku melakukannya! Dia adalah nenek yang baik... Aku melihat seseorang berpenampilan mencurigakan, masuk ke toko roti nenekmu itu dan bertanya tanya dengan nada membentak. Tadinya aku hendak menghentikan tindakannya itu.. Namun, aku melihat dia mengeluarkan tongkat sihir dan perlahan menyihir nenekmu sehingga ia terbaring lemas di lantai. Aku tidak berani menolong nenekmu dan berpura pura tidak melihat apapun... Setelah dia keluar dan aku berniat untuk menolongnya, namun kamu datang masuk ke toko roti itu..." Jelas Steven.


"Sekarang harus bagaimana lagi? Aku harus kembali ke ibu!" Kata Kimmy.


"Tidak, jangan kembali! Mereka mungkin sudah menangkap ibumu..." Jelas Steven sambil memegang tangan Kimmy.


"Lepaskan aku! Aku masih tidak dapat percaya padamu!" Kata Kimmy sambil melepaskan tangannya yang sempat dipegang Steven.


"Ini bukan masalah percaya atau tidak! Percaya atau tidak itu terserah kamu! Tapi kedua belas penyihir itu membutuhkan bantuanmu! Jadi satu satunya jalan sekarang ini adalah percaya satu sama lain!" Jelas Steven dengan wajah seriusnya.


"Aku... Huft! Baiklah terserah kamu aja... Jadi, sekarang gimana?" Tanya Kimmy.


"Kita ikuti saja kata nenekmu... Kita akan pergi naik kereta ke kota Sachwe. Lalu, kita akan sekolah di sekolah di sekolah Silwony, sekolah terkenal di kota Sachwe. Mereka tidak akan menemukan kita disana!"


"Kenapa memangnya kita harus mengikuti kata nenek ke kota Sachwe?"


"Dasar Bodoh! Nenekmu mengatakan tempat itu mungkin saja karena itu adalah tempat ayah kandungmu! Atau mungkin petunjuk lain!" Jelas Steven sambil melangkah pergi.


"Ini aneh! Kenapa nenek bahkan tau ayah kandungku siapa?" Pikir Kimmy dalam hati sambil melangkah pergi mengikuti Steven ke Stasiun Kereta di kota Awpyu.


"Disini stasiun keretanya?" Tanya Kimmy.


"Iya! Ayo, cepat naik ke kereta itu!" Kata Steven sambil menunjuk ke salah satu kereta yang sedang berhenti.


Mereka masuk ke kereta tersebut dengan menggunakan topi, kacamata hitam, dan masker agar tidak ketahuan.


2 jam kemudian...


"Bodoh! Tentu saja belum! Kamu kira pergi ke kota Sachwe itu tidak jauh? Hanya seperti berangkat dari rumahmu ke sekolahmu yang dulu?" Jelas Steven.


"Kamu! Beraninya mengatakan aku ini bodoh! Asal kamu tau aja, kamu itu lebih bodoh dariku!" Kata Kimmy yang lalu memalingkan wajahnya ke jendela.


"WAAA! Pemandangannya bagus sekali kalau dilihat dari sini! Kenapa aku baru melihatnya sekarang!" Kata Kimmy sambil menempelkan wajahnya ke jendela.


"Tentu saja karena kamu bodoh! Daritadi tidur terus! Kapan bisa melihat pemandangan diluar!" Kata Steven.


"Huft! Benar benar menyebalkan!" Gumam Kimmy.


"Hoamm!!"


Perlahan lahan Kimmy mulai tertidur kembali.


"Pffttt... Benar benar memiliki karakter yang berbeda ,ya saat tertidur... Satu karakternya pemarah, menyebalkan, dan keras kepala. Satu karakter lainnya tenang dan tidak banyak bicara." Pikir Steven dalam hatinya.


"Ah, apa yang kupikirkan?! Jelas jelas dia ini hanya perempuan keras kepala yang sangat menyebalkan..." Pikir Steven dalam hatinya sambil menggeleng - geleng kepalanya.


"Ibu... Jangan pergi..." Gumam Kimmy.


"Eh? Kamu ini kenapa?" Tanya Steven sambil menggoyang goyang tubuh Kimmy.


"Ah, apa kita sudah sampai?" Tanya Kimmy sambil mengucek matanya.


"Bodoh! Aku membangunkanmu karena kamu mengatakan ibu, jangan pergi... Benar benar perempuan aneh!" Jawab Steven.