
"Kesini! Kalian kabur dari sini saja! Nenek tau jalan rahasia! Kalian tolong bawa anak nenek bersama kalian dan info tentang data mama dan papamu!" Jelas nenek itu
"Kimmy, kamu bisa mengambil tongkat sihir dari laci meja hitam disana! Berlatihlah memakainya!" Jelas nenek itu lagi kepada mereka berempat.
Akhirnya mereka menuruti kata nenek itu dan pergi ke sebuah pintu di belakang lemari besar.
"Ayo, nek! Nenek juga harus pergi dari sini!" Ajak Kimmy kepada nenek itu.
"Tidak! Kalian pergilah! Nenek akan mengulur waktu sehingga kalian dapat kabur!" Jelas nenek yang kemudian menutup pintu itu.
"Tidak! Aku tidak mau kehilangan orang lagi!" Kata Kimmy.
"Kita harus pergi dan mengikuti terowongan ini sampai keluar dari sini! Ayo Kimmy... Kita tidak dapat menolong nenek itu..." Jelas Steven sambil menarik tangan Kimmy.
Mereka pun mengikuti terowongan jalan rahasia itu. Mereka akhirnya menemukan pintu untuk keluar dari terowongan itu. Sekarang mereka ada di sebuah hutan.
"Kita ada dimana sekarang?" Tanya Keysha penasaran.
"Tidak tau... Ini pasti hutan yang berada di dekat toko nenek tadi! Kita harus cepat kabur dan kembali ke asrama Sekolah Silwony! Besok baru kita mencari alamat rumah papa Kimmy..." Jelas Steven.
"Gak! Aku harus cepet cepet ke alamat rumah papa! Papa sekarang dalam bahaya! Bisa aja nenek itu terpaksa harus ngasih tau tentang alamat papa... Mungkin aja mereka sekarang lagi menuju kesana!" Jelas Kimmy yang khawatir akan keamanan papanya.
"Aku ikut sama Kimmy!" Jawab Matthew dengan tegas.
"Tapi.... Bagaimana jika Matthew adalah mata mata yang berusaha menangkapmu?" Jawab Steven.
"Berulang kali aku jelaskan kalau Matthew itu orang baik! Dia bisa ngelindungin aku!" Jelas Kimmy.
"Terserah kamu aja! Aku bener bener gak mau nolongin kamu lagi kalau sampe si Matthew ini beneran mata - mata!" Jawab Steven dengan nada marah sambil melangkah pergi bersama Keysha dan laki laki anak nenek tadi yang bernama Jonas.
Akhirnya Kimmy dan Matthew melanjutkan perjalanan mereka dengan segera menuju ke alamat rumah itu.
2 jam kemudian...
"Aku rasa disini alamatnya..." Kata Kimmy sambil melihat ke arah sebuah rumah sederhana.
Knock Knock Knock
"Permisi... saya mencari bapak Jimmy..." Kata Kimmy sambil mengetuk pintu rumah itu.
Seorang laki laki keluar dan membuka pintu itu.
"Itu saya sendiri... Ada apa mencari saya?" Tanya laki laki tersebut.
"Papa? Ini aku Kimmy, anakmu... Papa apa kabar?" Jawab Kimmy sambil memeluk erat papanya itu.
"Anakku? Tidak mungkin! Kamu ternyata sudah besar!" Kata papa Kimmy sambil membalas pelukan erat Kimmy.
"Pa, kita harus cepat pergi! Mungkin penyihir jahat itu sudah dalam perjalanan mengejar kita! Ayo, pa!" Ajak Kimmy sambil menarik papanya.
"Penyihir jahat? Maksudmu Elvone? Papa harus masuk dulu dan mengambil satu barang penting!" Jelas papa Kimmy sambil berlari masuk ke dalam rumahnya.
"Baiklah... Tolong yang cepat pa... Kita sekarang dalam bahaya!" Jelas Kimmy kepada papanya.
"Ayo, kita lari!" Ajak Kimmy.
Mereka pun berlari meninggalkan rumah itu menuju kembali ke Asrama Sekolah Silwony.
"Pa, apa buku yang tadi papa ambil? Apakah sebegitu pentingnya buat papa?" Tanya Kimmy penasaran sambil memperhatikan buku hitam yang dipegang papa Kimmy.
"Iya, buku ini sangatlah penting! Tapi sebelum papa jelaskan kenapa buku ini sangat penting, tolong kamu jelaskan terlebih dahulu laki - laki yang sejak awal bersamamu ini... Apakah dia yang terpilih?" Tanya papa Kimmy kepada Kimmy.
"Yang terpilih? Aku tidak tau maksud papa apa... Tapi dia hanya mau membantu kita untuk melawan penyihir jahat... Namanya Matthew..." Jelas Kimmy.
"Salam kenal om... Saya teman Kimmy..." Sapa Matthew dengan senyuman.
"Oh... Yang terpilih itu maksudnya adalah orang yang sudah ditakdirkan untuk membantu kamu melawan Elvone... Sejak awal, semua kejadian ini adalah takdir... Yang terpilih itu sudah ditakdirkan untuk membantumu..." Jelas papa Kimmy.
"Jadi sekarang papa sudah boleh menjelaskan apa pentingnya buku itu?" Tanya Kimmy dengan penasaran.
"Iya... Ini adalah buku yang ditulis mamamu... Mamamu menulis semua mantera manteranya disini... Kamu bisa belajar menyihir dari buku ini... Buku ini juga berisi pesan - pesan dari mamamu... Tapi ini butuh kunci untuk membukanya... Kuncinya adalah kalung bulan yang mamamu berikan padamu..." Jelas papa Kimmy.
"Mama... Aku harus menyelamatkan mama!" Kata Kimmy dengan penuh semangat.
"Kita harus membuat rencana terlebih dahulu dan mencari informasi lebih banyak lagi!" Jelas papa Kimmy.
Akhirnya mereka kembali ke Asrama Sekolah Silwony. Papa Kimmy menginap di salah satu penginapan di dekat Sekolah Silwony yang cukup terpencil.
Kimmy membawa pulang buku hitam tersebut ke asrama Sekolah Silwony. Kimmy membuka buku itu dengan kunci dari kalung bulan yang dipakainya di toilet.
"Aku rasa disini aman untuk membuka buku ini... Gak ada satu pun dari mereka yang bisa aku percaya!" Pikir Kimmy dalam hati sambil melepas kalung bulannya.
"Ini gak kelihatan kayak kunci... Apa ada yang salah?" Pikir Kimmy sambil mengotak atik kalung itu.
Tak!
Kalung bulan itu berubah menjadi kunci setelah Kimmy tidak sengaja menekan bagian bawah kalung tersebut. Kimmy membuka buku itu. Cahaya yang sangat terang menyinari seluruh ruangan toilet itu. Kimmy melihat berbagai mantera yang ditulis buku itu. Kimmy berniat untuk mempelajari mantera itu dan menghafalnya.
Ada secarik kertas dibuku itu yang membuatnya penasaran. Kimmy mengambil kertas itu dan membacanya.
"Untuk anak mama tersayang... Mama menulis semua mantera disini agar kamu dapat melatih semua sihirmu... Mama yakin kamu adalah penyihir yang berbeda dari penyihir lain. Karena papamu yang merupakan manusia, kamu pasti memiliki hati yang lembut, penyayang, dan lugu layaknya manusia. Mama yakin kamu sudah bertemu dengan papamu karena kamu adalah anak yang cerdas. Elvone memiliki Kastil yang bernama Kastil Merah. Kastil itu terletak di hutan 4 musim dan letaknya sangat tersembunyi. Jadilah kuat terlebih dahulu baru kamu dapat melawan Elvone si penyihir jahat. Jangan memaksakan kehendakmu untuk menolong mama saat kamu masih lemah dan belum belajar sihir... Mama yakin kamu sudah bertemu dengan 'yang terpilih'... Jadilah pemimpin yang kuat dan berani... Mama sangat menyayangimu..." Itulah tulisan yang tertera pada secarik kertas yang saat ini sedang di pegang Kimmy.
"Hiks... Mama... Aku pasti akan menyelamatkan mama... Tunggu aku ma..." Kimmy mulai menangis dan tangisannya itu di dengar oleh Keysha.
Knock Knock Knock... Keysha mengetuk pintu toilet itu.
"Kimmy, ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis? Tolong buka pintunya..." Pinta Keysha sambil masih mengetuk pintu toilet.
"Aku... Aku gak apa - apa... Kamu gak perlu khawatir..." Jelas Kimmy dari dalam toilet.
"Kalau kamu butuh apa - apa bilang ke aku aja... Aku bisa jadi pendengar yang setia kok!" Kata Keysha.
"Tapi... Bisakah aku sekarang ini percaya pada kata kata oranglain? Nasib mama dan penyihir - penyihir lainnya bahkan dunia ada dalam genggamanku... Jika aku salah melangkah sedikit saja, dunia akan dalam bahaya... Untuk saat ini, aku gak bisa percaya sama siapapun dulu... Temanpun bisa jadi musuh..." Pikir Kimmy dalam hatinya.