The Sun Will Rise Again

The Sun Will Rise Again
part 9



"Oke aku minta maaf karena udah bentak kamu, tapi aku mohon Vin tolong jangan buat aku marah. Kamu pasti tau aku masih berduka atas kepergian orang-orang yang aku sayangi," Suaranya terdengar rapuh dan tak berdaya, air mata pun mulai keluar dari matanya, ia berusaha melanjutkan perkataannya. "Kelvin kamu itu udah aku anggap lebih dari seorang sahabat, aku udah anggap kamu kayak kakak aku sendiri. Jadi tolong jangan buat aku tambah tertekan dengan sifat kamu yang menjadi posesif kayak gini ke aku."


Raya sangat lega mendengar pernyataan Fisya, ia benar-benar senang mengetahui bahwa Fisya hanya menganggap Kelvin sebagai seorang kakak.


Kelvin hanya terdiam mendengar ucapan fisya, ia ingin mengungkapkan semua yang ada di hatinya kenapa ia menjadi seperti ini, namun hal itu pasti akan membuat persahabatannya berubah. "Sya, aku juga enggak bermaksud buat bersikap terlalu protektif sama kamu. Ini semua aku lakukan semata-mata hanya untuk melindungi kamu, aku nggak ingin nanti kamu kecewa karena sudah percaya pada orang baru apalagi jika kamu menaruh hati padanya."


Raya yang mendengar perkataan Kelvin sekarang benar-benar yakin bahwa Kelvin mencintai Fisya, nggak mungkin seorang laki-laki kayak Kelvin bersikap protektif sama perempuan semata-mata buat melindungi aja!.


"Kalau gitu aku tegasin ke kamu, aku bisa kok nilai orang, aku bisa jaga diri. Terimakasih udah peduli, tapi aku ingin kamu yakin sama aku, kamu nggak perlu khawatir lagi. Kita udah sahabatan sejak lama dan kamu pasti ngerti kalo keyakinan adalah kunci persahabatan." Ucap Fisya sambil menghapus air matanya.


Waktu selanjutnya tidak ada lagi yang berbicara dan hanya terdengar suara para murid perempuan yang berpendapat.


"Gilak nih.... Fisya bisa dapetan dua cowok populer di sekolah ini aduhhh, pakek jurus apaan tu bocah."


"Kalo gueh ya pasti lebih milih Kelvin lah udah jadi ketua OSIS, berprestasi, pinter basket terus ganteng huhhh,"


"Apaan sih lo kalo gueh ya pilih Raka lah baru disini berapa hari aja udah banyak fans tra juga pinter basket lo, kemarin aku denger dia ikut tim basket sekolah kita."


"Iya bener, Raka itu keren, seksi dan pokoknya nyaris sempurna bagi gueh...."


"Fisya kejam banget sih sama Kelvin, dia itu cewek nggak tau terimakasih. Dari dulu Kelvin udah selalu ada buat dia tapi malah kayak gitu."


Sedangkan para murid laki-laki berpendapat.


"Aduh, keduluan nihhhh. Ya kalo sainganya Raka sama Kelvin mending mundur lah,"


"Kelvin sama Raka itu udah beruntung banget bisa deket sama Fisya, gadis yang kuat dan berkarakter."


"Ya itu bener tindakan Fisya bentak Kelvin yang sok kayak pacarnya aja, lagipula Fisya kan masih berduka dia malah nambah masalahnya aja."


Fisya udah nggak tahan dengan ocehan para murid yang menurutnya terlalu ikut campur masalahnya pun berteriak, "CUKUP!!" Lalu ia meletakkan kepalanya di meja dan mencoba menenangkan diri.


"Sya, kita ke UKS aja gimana?" Sarah yang tidak ingin sahabatnya tambah sedih dan tertekan di kelas. Fisya mulai mengangkat kepalanya perlahan dan memandang Sarah dengan pandangan malas, lalu mengelengkan kepalanya.


Kelvin jadi merasa bersalah karena kelakuannya sekarang Fisya jadi gossip satu kelas apalagi besok pasti malah jadi gossip satu sekolah, hatinya terasa sesak mendengar perkataan murid lain yang mengatai Fisya. Tapi dia tau Fisya adalah wanita yang kuat, dia pasti bisa mengahadapi semua ini. Ia mendekati Fisya, "Sya aku minta maaf, aku janji bakalan jadi sahabat sekaligus kakak buat kamu. Aku nggak akan buat kamu nangis lagi, udah sekarang kamu mau nggak maafin aku?"


Hari ini jam kosong seharian jadi nggak dapet pelajaran dan akhirnya bel pulang dibunyikan lebih awal.


"Sya ayok, biar nanti pulangnya nggak sore." Raka yang sambil memandang Fisya dan mengulurkan tanganya.


Fisya sebenarnya hampir lupa kalo hari ini ia bakalan nemenin Raka beli kado buat bundanya, namun setelah mendengar Raka ia teringat dan bergegas menuju parkiran. Fisya tidak memperhatikan kalo sebenarnya Raka mengulurkan tangannya, Raka pun menarik kembali tangannya dan mulai mengikuti Fisya ke parkiran.


Fisya dan Raka pun langsung menaiki mobilnya ketika telah tiba di parkiran. Raka memulai pembicaraan, "Sya kamu inget nggak kemarin saat aku nganterin kamu," Sebelum Raka dapat melanjutkan kalimatnya Fisya menyela. "Apaan? Kayakya kemarin kamu nggak ngomong apa-apa kok."


"Ya makanya biar aku bilang dulu, udah aku tebak kemarin kamu nggak ndengerin aku ngomong karena terlalu khawatir. Jadi sebenarnya aku ingin kamu dateng dan nyemangati aku saat lomba basket besok lusa. Gimana kamu mau kan?"


"Sebagai seorang teman aku pasti akan datang kok apalagi tempatnya kan dilapangan bola basket sekolah kita." Raka senang karena Fisya setuju datang dan nyemangatin, walau cuman dianggap sebagai seorang teman.


Sesampainya di salah satu mall yang populer di sini yaitu Lippo Mall kami pun turun dan memasukki mall itu.


"Ka kita mau beliin hadiah apa sama bunda kamu? Oh iya kalo boleh aku tau, kemarin emang ibu kamu habis dari mana sampai minta jemput di airport?"


"Ibu aku kemarin baru pulang dari Paris biasa ngurus bisnis, kalo beliin hadih aku juga nggak tau Sya, kalo tau aku nggak minta bantuan kamu." Ketus Raka sambil terus berjalan dan melihat-lihat di mall itu.


"Iya aku ngerti kok, aku kamu ajak kesini cuman buat bantuin beli kado bunda kamu!" Fisya sambil memutar bola matanya dan menghentikan pandangannya pada seorang pria yang berjalan di depanya dan hanya dapat melihat punggung dan bahu yang lebar, serta tubuh yang seksi. Benar apa yang dikatakan cewek-cewek itu pria ini emang menakjubkan.


Raka berhenti dan membuat Fisya yang berada di belakangnya menabrak punggungnya, "Aduh, kalo berhenti beritahu dong! Udah tau aku dibelakangnya dan berusaha mengikuti langkah kaki kamu yang panjang itu." Untuk waktu yang lama Raka tidak berkata apapun dan hanya memandang mata Fisya dan ocehan Fisya yang menurutnya sangat lucu.


"Hmmm.... Iya aku minta maaf tadi bicara ketus gitu ke kamu Sya, kamu marah ya. Kamu kalo ngoceh kayak gitu malah kelihatan lucu tauk aku suka. Apalagi kalo kamu senyum dan ketawa itu bikin aku diabetes." Raka yang langsung menggenggam tangan Fisya.


Fisya hanya memandangnya,"Apaan sih gombal, Eh lihat deh itu tasnya bagus deh tapi ya bagusan tas yang ada di Paris sih. Bunda kamu kan sering ke Paris jadi kalo kita cari hadiah disini mungkin ya nggak sesuai selera dia." Ucap Fisya sambil menunjuk tas itu.


*****


kak Tolong komen dan likenya ya 😊 agar author bisa memperbaiki kesalahannya🙏🏻 🙏🏻


terimakasih juga ya buat yang udah baca