
Di malam harinya Fisya masih tetap tidak bisa tidur, ia terus memikirkan kejadian yang menimpanya tadi seakan semua pandangan yang mengarah padanya menilai dirinya adalah gadis yang plin-plan dalam perasaan.
Fisya terus memikirkan hal-hal yang akan ia alami besok saat masuk sekolah, pastinya akan banyak hujatan-hujatan yang di katakan para murid padanya. Entah apakah esok ia bisa menahan dan menerima hujatan-hujatan itu apalagi jika hujatan itu dilontarkan oleh sahabatnya sendiri.
*****
Keesokan harinya Fisya tidak kunjung bangun hingga membuat ibunya menggedor-gedor pintu kamarnya, "Sya udah siang ini, kamu nggak masuk sekolah? Ayo bangun!" Ujar ibunya sambil berusaha membuka pintu kamar Fisya dengan kunci cadangan yang ia simpan.
Setelah pintu terbuka wanita paruh baya itu segera menghampiri Fisya yang masih terbaring di tempat tidur, ketika melihat raut wajah Fisya yang lesu dan pucat membuat wanita paruh baya itu menyentuh jidat Fisya dengan lembut.
"Nak kamu demam... hari ini kita kerumah sakit ya untuk periksa! Nanti ibu buatkan surat izin. Sekarang kamu siap-siap mandi aja dulu, tremosnya juga masih penuh bisa buat kamu mandi dulu." ucap wanita paruh baya.
Fisya segera menggenggam tangan ibunya dan tersenyum, "Ibu nggak usah khawatir sama Fisya, nanti Fisya bisa minum obat dari apotek aja nggak usah kerumah sakit. Lagipula Fisya cuman demam paling nanti juga sembuh sendiri, ibu hari ini kan harus kerja. Fisya nggak papa kok tinggal dirumah sendiri, kan Fisya bukan anak kecil lagi." ucap Fisya. Ibunya pun mengangguk sambil membelai rambut anaknya sebelum ia pergi dari kamar itu.
Kini Fisya hanya sendirian, setelah ia selesai mandi tiba-tiba ponsel yang ada di meja kamarnya berdering. Fisya langsung mengangkat telpon itu walau di layar ponselya tidak tertera nomer siapa itu atau lebih tepatnya nomer yang tidak dikenal.
Karena penasaran Fisya mulai berbicara terlebih dahulu, "Halo dengan siapa ini? Ada perlu apa?" Namun tak ada jawaban sama sekali untuk beberapa saat, hingga terdengar suara seorang pria yang sepertinya suara yang tidak asing baginya.
"Hmmm... Sekarang lo keluar aja dari rumah, gue udah nunggu lo diluar!" ucap pria dalam telfon, yang segera menutup telfon sebelum Fisya dapat bertanya lagi.
Fisya pun mengerutkan kening ketika mengetahui panggilan itu telah ditutup, sambil terus berasumsi dan menduga. Fisya memutuskan untuk menuruti perkataan pria yang telah menelponya tadi untuk keluar.
Sesampainya diluar rumah Fisya melihat sosok yang tidak asing baginya dan membuatnya terkejut. "Kamu... kamu kok bisa tau rumah aku! kamu mau ngapain kesini? mau buat aku lebih malu lagi gitu, kamu nggak perlu lakuin itu kejadian kemarin udah cukup memalukan bagiku!" Curhat Fisya yang menuangkan isi hatinya.
"Stop lo nggak usah nyalahin gue, nggak semua kejadian kemarin salah gue! Gue kesini cuman mau minta maaf sama lo, gue ngerasa udah buat lo jadi bahan ocehan satu sekolah lo. Kemarin gue nggak ada niat buat lo malu di depan orang-orang, gue nyegah lo pulang karena gue kemarin cuman beneran bercanda ngomong lo nggak dibutuhin itu. Gue beneran nggak nyangka bakal jadi kayak gini masalahnya." penjelasan Pria itu yang tak lain adalah Kemal.
Kemal berjalan perlahan ke arah Fisya dan menyodorkan tanganya untuk meminta maaf. Fisya tidak berkata apa-apa dan memaafkan Kemal dengan menjabat tangan Kemal.
"Sya lo sakit? kelihatan pucet terus tangan lo juga anget," ucap Kemal
Kemal pun duduk di salah satu sofa yang berada di ruang tamu rumah Fisya, "Btw lo tinggal sendirian kok sepi banget?" ucap Kemal.
"Enggak kok aku tinggal sama ibu dan adik aku tapi mereka sedang nggak ada dirumah. Kamu mau minum apa biar aku buatin, kan kamu tamu nggak enak kalo nggak diberi apa-apa." ucap Fisya sambil tersenyum tipis.
"Eh nggek usah ngerepotin nanti gue, gue juga bukan tamu tapi teman lo," sahut Kemal.
"Sejak kapan kita jadi teman? Oh iya kamu nggak masuk sekolah? Nanti terlambat lo udah jam segini kok belum berangkat!" ucap Fisya sambil mengerutkan keningnya.
"Udahlah nggak usah nanya-nanya, oh iya gue punya saran nih buat lo. Gue bisa lihat kalo lo tu sebenernya orang yang baik banget dan nggak terlalu peduli sama apa yang dikatakan orang lain tentang lo terus kenapa lo kok bisa jadi bingung banget gara-gara kejadian kemarin?" tanya Kemal.
"Iya aku emang nggak peduli dengan apa yang dikatakan orang lain tentang aku, tapi kalo yang ngatain sahabat sendiri itu rasanya sakit banget, aku udah bilang kan kemarin. Ketika aku butuh dukungan dari mereka, mereka malah ikut-ikutan kayak yang lain." Ucap Fisya sambil menahan air matanya agar tidak keluar.
"Lo itu terlalu baik, kalo gue ada di posisi lo gue pasti udah jauhin tu sahabat-sahabat yang nggak mendukung gue, apalagi kayak kemarin ninggalin lo sendirian cari bangku buat nonton pertandingan basket. Secara sengaja atau nggak sengaja mereka itu udah nunjukkin kalo mereka nggak peduli sama Lo." ucap Kemal.
"Nggak semudah itu memutus tali persahabatan, kami usah akrab dan jadi sahabat sejak SMP jadi nggak mudah bagiku untuk mutusin persahabatan ini. Aku rela jika harus ngorbanin sesuatu yang menurut aku penting dalam hidup ini, jika hal itu dapat membuat persahabatan ku tetap utuh atau paling tidak itu akan membuat sahabat-sahabat ku bahagia." ucap Fisya sambil mengusap air mata yang telah membasahi pipinya.
"Salut gue sama lo, kalo aja gue bisa jadi sahabat lo pasti gue seneng banget. Tapi kalo menurut gue lo nggak boleh ngorbanin sesuatu yang menurut lo penting dalam kehidupan lo buat sahabat lo, karena persahabatan mungkin bisa hancur namun akan dapat diperbaiki sedangkan penyesalan yang akan lo alami jika lo ngambil keputusan yang salah itu nggak akan dapat diperbaiki! Inget kata-kata gue ini!" ucap Kemal.
"Hmmm... sok bijak deh kamu hahahah" ucap Fisya.
"Emang bijak kali gue dari dulu, eh gue pergi dulu ya ada urusan penting nih..." ucap Kemal yang segera pergi dengan terburu-buru.
*****
Disekolah semua murid menggosipkan Fisya begitu juga dengan Raya dan Sarah yang tak lain adalah sahabat Fisya sendiri. Raya malah memperparah keadaan dengan menyebarkan gosip bahwa Fisya memang memiliki karakter yang suka memainkan perasaan para laki-laki yang biasa disebut playgirl.
Sedangkan Kelvin dan Raka masih tidak percaya dengan apa yang telah mereka lihat kemarin, apalagi ketika Fisya seakan sedang menggenggam tangan Kemal.