The Sun Will Rise Again

The Sun Will Rise Again
part 22



"Ibu... Risa... ayo kita makan, enak nih kayaknya menu hari ini." ucap Fisya sambil langsung mengambil piring dan mulai mengisinya.


Seketika wanita paruh baya dan Clarissa memandang Fisya. Merekapun juga segera mengambil piring.


Suasana terasa hening hingga mereka menyelesaikan makan.


"Sya..." suara dari wanita paruh baya itu memecahkan keheningan.


"Iya ada apa bu?"Sahutnya.


"Tadi kamu tumben pulang sekolah kok nggak keluar-keluar? Apa kamu ada masalah di sekolah..."


Fisya menggelengkan kepalanya, "Enggak kok ibu tenang aja, tadi Fisya cuman sholat dhuhur."


Clarissa pun terbatuk-batuk mendengar perkataan Fisya, 'Uhuk Uhuk.' karena dia tau kalau kakanya ini jarang sholat apa lagi untuk sholat dhuhur karena biasanya setelah mengganti baju dia langsung turun untuk makan.


"Kamu nggak papa? Ini minumnya, kamu kaget tau kalo aku shalat dhuhur hari ini?" ucapnya dengan menyodorkan air minum pada adiknya.


Clarissa meminum minuman itu dan menganggukkan kepalanya, "Risa nggak nyangka aja kan biasanya kakak jarang shalat apalagi sholat dhuhur, kakak kesambet apa?"


"Kakak nggak Kesambet cuman kakak sadar aja kalo selama ini kakak lalai akan agama."


Wanita paruh baya itu tersenyum mendengar perkataan anaknya.


*****


20.00


Fisya melaksanakan salat isyak setelah selesai mengerjakan tugas sekolahnya, lalu ia mulai merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya.


Baru saja ia mau menutup matanya tiba-tiba ada pesan yang masuk di ponselnya.


Raka: "Sya... besok kita masih pura-pura lagi di depan Kelvin?"


Me: "Iya ka, maaf ya gara-gara aku kamu jadi harus pura-pura gitu🙏"


Raka: "Nggak papa kok, kalo Kelvin tetep nggak percaya sama hubungan kita gimana?"


Me: "Kita harus buat dia percaya!"


Raka: " Tapi itu akan menyakiti dia... kamu aja kemarin udah nggak sanggup nyakitin Kelvin dengan kata-kata, apalagi kalo dengan perbuatan."


Me: "Aku akan usahakan."


Raka: "Oke, ya udah tidur sana persiapin diri buat besok😅"


Fisya tidak membalas lagi dan memutuskan untuk tidur.


*****


Keesokan harinya Fisya bangun pagi-pagi sekali untuk melaksanakan sholat subuh dan merapaikan tempat tidurnya. Ia merasa hatinya lebih tenang setelah melakukan sholat apalagi hari ini adalah hari pembuktian yang harus ia lakukan untuk meyakinkan Kelvin akan hubungannya dan hal itu pastinya bukan hanya melukai Kelvin namun juga dirinya.


Ketika jam telah menunjukkan pukul 06.30 ia memutuskan untuk berangkat setelah selesai memakan sarapanya.


sebelum ia mulai menyalakan motornya tiba-tiba terdengar suara dari ponselnya dan ternyata itu adalah suara telfon yang tak lain dari Raka.


Fisya memikirkannya namun tidak mungkin dia mengatakan tidak karena ini demi tujuannya untuk meyakinkan Kelvin. "Iya... aku tunggu di gerbang rumah."


"Oke, tunggu aja sebentar lagi." tanpa adanya komando ia langsung mematikan telfon itu karena ia tau kalao tidak segera dimatikan maka Raka tidak akan berhenti berbicara.


Benar saja tidak butuh waktu lama Raka dan mobil berwarna putih itu sampai di depan gerbang rumahnya. Raka keluar dari mobilnya dan segera membukakan pintu mobilnya untuk mempersilakan Fisya masuk disana.


walau agak canggung namun ia tetap menurutinya dan segera duduk di mobil itu. Setelah ia merasa nyaman dan Raka juga sudah mulai mengemudikan mobil itu ia membuka percakapan diantara mereka.


"Ka..."


"Sya..."


Namun tanpa disangka mereka membuka bibir disaat yang bersamaan dan itu membuat keduanya tidak meneruskan kata-kata yang akan mereka katakan. Untuk beberapa saat mereka saling memandang namun itu tidak terjadi lama karena Raka segera memalingkan wajahnya dan mulai fokus mengemudi kembali.


"Tadi kamu mau bilang sesuatu kan? Bilang aja dulu lagi pula perempuan harus duluan." ucap Raka tanpa memandang Fisya namun ia tersenyum tipis.


"Emmm... enggak aku lupa kamu aja duluan." ucapanya sambil memandang pria yang ada di sampingnya itu.


"Tadi sebenarnya aku mau nanya kalo nanti untuk menyakinkan Kelvin kita harus jalan bareng kamu bersedia atau enggak? Aku nggak ingin kamu jadi terpaksa dan nggak nyaman kalo hal itu harus kita lakukan."


Ia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, "Enggak kok Ka aku nggak ngerasa terpaksa apalagi hal ini aku lakuin untuk kebahagiaan sahabatku dan untuk nyaman dan enggaknya aku kamu mana tau, aku nyaman-nyaman aja kok kalo jalan sama kamu. Buktinya dulu kita pernahkan jalan bareng walau cuman beli kado."


Raka pun tersenyum lega mendengar Perkataan Fisya, hal itu membuatnya bertambah yakin bahwa Fisya adalah gadis yang baik dan selalu mengutamakan kebahagiaan orang-orang di sekitarnya.


"Sya kamu baik banget sih... bikin aku tambah suka sama kamu aja!" kerutu Raka pelan, walau pelan Fisya yang berada di sampingnya dapat mendengarnya namun tidak begitu jelas.


"Tadi kamu bicara sesuatu ya?"


"Enggak kok kamu salah denger kali..."


Fisya hanya mengerutkan keningnya dan sedikit memasukkan bibir bagian bawahnya tanpa mengatakan apa-apa.


*****


Seperti yang telah ia duga Raka membukakan pintu mobilnya dan mempersilahkannya turun layaknya seorang putri raja yang di persilakan turun dari kereta kudanya oleh pangeran. Raka juga menggandeng tangannya.


Hal itu membuat perhatian beberapa murid yang melihat kejadian itu tertuju pada mereka. Tentu saja disini Raka termasuk murid populer begitu juga denganya. Pandangan yang mengarah pada mereka sangat tidak mengenakkan karena semua mata memandang dengan sinis dan tidak suka.


Ia benar-benar tidak nyaman menjadi pusat perhatian untuk setiap perbuatan yang ia lakukan. Siapa juga yang suka menjadi pusat perhatian apalagi untuk di gosipkan, tentu saja semua tidak akan menyukainya!


"Ka aku nggak nyaman dilihatin mereka!" ucap Fisya pelan dengan memandang Raka sambil memanyunkan bibirnya.


"Udahlah kita deket nggak deket juga tetep jadi perhatian dan jadi bahan gosip kan! Sekarang kita bisa membungkam mereka yang mengatakan kalau kamu tidak konsisten dengan masalah perasaan. Kamu nggak usah khawatir lagipula sebenarnya ini adalah kehidupan pribandimu dan mereka tidak berhak memutuskannya."


Entah sihir apa yang ada di dalam ucapan Raka namun setelah mendengarnya ia merasa lebih percaya diri dan memang jika di pikir-pikir ucapan Raka benar ini akan membungkap mereka walau akan ada gosip baru dan ini juga bukan urusan mereka, ini adalah hidupnya!


Mereka terus melangkahkan kakinya dan tidak melepaskan genggaman tangan satu sama lain sampai mereka sampai di ruang kelas.


Berbeda di kelas semua murid hanya memandang mereka sebentar dan tidak terlalu terkejut karena mereka telah mengetahui hubungan antara Raka dan Fisya dari kemarin. Berbeda dari murid-murid yang tadi walau sudah hampir semua murid mengetahui berita ini tapi dengan melihatnya langsung adegan gandengan mereka semua mata langsung tertuju padanya.


***


Jangan lupa like, komen dan terus baca kelanjutan ceritanya ya😊 semakin banyak dukungan author akan semakin semangat buat up. Oh iya kak like dan komen free lo jadi jangan ragu-ragu ya buat like dan komen😂 komen berupa kritik juga nggak papa kok kak😅