
*****
19.25
Ketika Fisya akan melaksanakan sholat isya' saat itu juga ada pesan yang masuk dari ponselnya.
Raya: "Sya besok kamu sama Raka dateng aja ke pantai. Aku lupa nama pantainya ya udah pokoknya besok aku serlok deh..."
Raya: "Oh iya aku belum kasih tau Raka soalnya dia nggak aktif, kalau nanti dia udah aktif tolong kamu sampaikan sama dia."
Raya: "Sya aku juga makasih banget buat semua yang udah kamu lakuin atau akan kamu lakuin. Buat aku kamu itu sahabat terbaik."
Me: "Siapa yang udah milih tempatnya?"
Me: "Iya nanti kalo dia udah aktif aku sampaikan. Raya aku kan udah pernah bilang sama kamu jangan keburu bilang makasih aja... ini baru permulaan."
Raya: "Yang udah ngusulin ke pantai sih... Kelvin tapi kalo pantai mananya itu aku yang nentukin. Kenapa kamu nggak setuju ya? Kalo kamu nggak mau ke pantai kita bisa ke tempat lain kok."
Me: "Enggak kok aku nggak keberatan kalo kita ke pantai. Tadi aku cuman nanya aja, kan nggak biasanya orang kencan ke pantai๐ "
Raya: "Oke kalo nggak ada masalah. Kita kan emang unik jalan barengnya ke pantai nggak kayak yang lain biasanya ke mall๐๐"
Me: "Wkwkwk."
Setelah selesai dengan Raya ia mencoba melihat monor Raka di aplikasi 'WhatsApp' yang ada pada ponselnya. Dan benar saja nomor itu sudah aktif dan berada dalam mode online. Dengan jari-jari tangannya yang sudah ahli dalam mengetik sesuatu di layar ponselnya itu tidak butuh waktu lama ia dapat mengirimkan pesannya.
Me: "Ka besok kata Raya kita bakal jalan barengnya di pantai. Aku juga belum tahu pasti sih... itu pantai mana, tapi besok Raya bakal kirim lokasinya kok ke kita."
Me: "Kamu nggak keberatan kan kalo kita perginya ke pantai? Kalo kamu nggak mau kita bisa bilang sama Raya biar ganti tempat."
Raka: "Kalo kamu sendiri gimana? Aku nggak ada masalah kok tapi yang terpenting kamu buat aku."
Me: "Nih... anak gimana sih... orang ditanya malah balik nanya! Terus malah gombal lagi orang kita ma chattingnya privasi jadi nggak perlu gombalin aku."
Raka: "Emang kalo mau gombalin kamu harus di depan orang lain?"
Me: "Ya iya lah kan kita pura-pura di depan Kelvin kalo dia nggak tau ngapain kamu gombalin aku."
Tiba-tiba saja nomor Raka offline dan itu membuatnya menduga-duga kalau Raka sedang marah padanya karena jawaban chatting yang ia berikan tadi. Dengan sigap ia langsung mengetik di layar ponselnya lagi.
Me: "Ka kamu tersinggung ya sama chat aku yang tadi? Kalo iya maaf banget ya ๐๐ป"
Me: "Aku benar-benar nggak ada maksud buat nyakitin kamu. Kamu boleh kok gombalin aku kapan aja lewat chat atau langsung nggak papa."
Namun tak ada balasan dari Raka bahkan dia belum membacanya tentu saja sekarang ini dia masih tetap offline. Fisya akhirnya memutuskan untuk melaksanakan sholat isya' terlebih dahulu dan setelah itu ia merebahkan badanya di atas kasur. Kali ini ia tidak belajar dan tidak menyiapkan buku-buku pelajaran untuk besok.
Sampai pukul 22.30 masih belum ditemukan pesan balasan dari Raka. Sampai tak lama kemudian pesan yang ia tunggu datang.
Raka: "Eh maaf tadi aku masih disuruh bunda buat jagain keponakanku terus aku sampai kamar mau nyalain ponsel eh baterainya habis. Ini baru bisa nyala, kalo soal yang tadi santai aja Sya aku nggak tersinggung kok. Lagipula aku bukan cowok baperan kali, hahahah..."
Tak menunggu waktu lama ia langsung membalasnya.
Raka: "Yang mana maksud kamu?"
Me: "Yang pas aku bilang kalau kamu boleh gombalin aku."
Raka: "Owww... yang itu, kamu ngarep buat aku gombalin lagi ya๐"
Me: "Ngarep apaan sih... orang aku cuman ngizinin doang nggak ada niat buat ngarep kamu gombalin."
Raka: "Iya aku cuman becanda kok, oh iya besokkan kita mau mantai nih jagi aku putusin buat naik motor aja ya. Besok aku jemput."
*****
Sinar matahari yang mulai menembus celah-celah kaca jendela yang tertutup korden mulai mengenai wajahnya. Hal ini membuat tidur gadis itu terusik dan membuat terpaksa membuka mata.
"Apa ini udah pagi...! Seingat aku kemarin aku masih chattingan sama Raka kok tiba-tiba udah pagi gini ya." ucapnya yang masih tidak percaya kalau ini udah pagi.
Ia melihat jam dinding yang ada tepat di dinding depan kasurnya barulah ia percaya kalau ini udah pagi.
Aduh... mataharinya udah kelihatan aku belum sholat subuh lagi. Hmmm... Batinnya dalam hati sambil memukul-mukul pelan kepalanya karena kesal.
*****
Setelah selesai mandi dan berpakaian rapi serta merias diri dengan riasan tipis yang membuat ia tampil segar dan natural.
Ia turun dari kamarnya dan mendapati seseorang yang familiar baginya telah duduk di meja makan bersama ibu dan adiknya.
"Raka... kamu kok udah dateng kesini? Kenapa nggak telfon dulu atau setidaknya kirim pesan gitu." ucapnya dengan memandang lekat Raka.
"Udahlah Sya kamu aja baru bangun. Biarin nak Raka makan jangan ditanya-tanya dulu. Udah sini duduk aja terus makan makanan kamu ibu udah siapin. Oh iya katanya kalian mau ke pantai ya?" ucap Ibunya.
"Fisya mau makan bu, ibu jangan nanya dulu kan tadi Fisya nanya Raka kata ibu jangan diganggu biarin dia makan dulu." ucapnya sambil duduk dan memulai makan.
Perkataan Fisya membuat Raka tersenyum lebar dengan tingkah ibu dan anak ini. Sedangkan Clarissa ia tidak dapat menahan tawa melihat kakak serta ibunya, "Kalian berdua itu sama aja."
Makanan di setiap piring kini telah habis dan semua juga sudah dirapikan.
Clarissa yang agak penasaran dengan Raka yang ingin mengajak kakaknya pergi ke pantai karna setahunya kakaknya hanya sering pergi ke pantai bersama Kelvin. Clarissa mulai mendekati Raka yang sedang duduk di ruang keluarga di rumahnya untuk menunggu kakanya yang masih mengambil tasnya.
"Kakak ini sahabatnya kak Fisya atau lebih dari sahabat?" tanya Clarissa pelan.
"Emmm... aku cuman..."
"Kanapa kakak gugup? Ini pertanyaan mudah lo nggak perlu banyak mikir. Ketebak nih... Kakak sukakan sama kak Fisya?"
Raka mengalihkan pandangannya pada Fisya dan mulai menghampiri Fisya sebelum Clarissa akan bertanya sesuatu yang memang belum dapat ia jawab.
"Sya ayok berangkat! Aku udah tau kok lokasinya."