The Sun Will Rise Again

The Sun Will Rise Again
part 25



"Ibu jangan berfikir macam-macam dulu, saya bisa jelasin semuanya. Ini nggak seperti yang ibu lihat." ucap Raka membela diri dan mencoba membuat dirinya dan Fisya tidak dalam masalah.


"Cukup Raka saya tidak ingin mendengar apapun dari kalian. Apapun alasannya saya tidak peduli. Saya ingin kalian sekarang juga ikut saya pergi keruang BK." ucap guru pengajar itu yang bernama bu Lidia, dengan terus memandang sinis kedua muridnya sampai ia mulai berjalan keluar kelas.


Fisya tidak tau apa yang akan dilakukan guru ini apalagi ia akan dibawa ke guru BK tentu saja ia akan mendapatkan hukuman. Sebelumya selama hampir 3 tahun ia menimba ilmu disini ia tidak pernah bersangkutan dengan guru BK. Hal ini membuatnya gugup dan khawatir dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Raka yang mengerti akan kegugupan serta khawatir Fisya meletakkan telapak tangannya di bahu Fisya sambil mengusapnya pelan. Namun ia menghentikan tindakannya dan menarik kembali tangannya ketika telah sampai di depan ruangan guru BK.


"Ada apa bu? Kenapa ibu membawa kedua murid ini? Apa yang mereka lakukan?" tanya guru BK yang tak lain bernama bu Esra.


"Begini bu tadi mereka berbuat sesuatu yang tidak seharusnya mereka lakukan di kelas itupun di jam pelajaran saya!"


"Baiklah akan saya tanyakan pada mereka. Untuk hukuman dan sangsinya ibu tenang saja saya akan berikan semua sesuai dengan kesalahan yang mereka buat." ucap guru BK sambil memandang sebentar Raka dan Fisya.


Setelah guru pengajar itu pergi dan di ruangan itu hanya tersisa Raka, Fisya, dan bu Esra suasana terasa hening dan hampa sampai bu Esra selaku guru BK mulai mengajukan pertanyaannya. "Raka kamu murid baru disini memangnya apa yang kamu lakukan dengan Fisya di kelas tadi? Fisya apa yang dimaksud dengan perkataan bu Lidia tadi? Setahu saya selama ini kamu tidak pernah memiliki masalah serius sampai kamu harus berada di ruangan BK ini!"


"Bukan begitu bu... apa yang telah bu Lidia lihat tadi hanyalah salah paham. Sebenarnya saya tidak berniat memeluk Fisya apalagi ingin melakukan sesuatu yang tidak sepantasnya. Saya memang murid baru disini namun saya tau aturan sekolah ini!" ucap Raka menjelaskan.


Bu Esra mengarahkan bola matanya pada Raka lalu menggesernya ke arah Fisya. "Apakah itu benar Fisya? Apa benar yang terjadi tadi hanya ketidak sengajaan bukan direncanakan sesuai keinginan kalian!"


Fisya yang dari tadi tidak ikut bicara kini mulai bicara dan menjawab pertanyaan yang dilontarkan padanya sebagai pembelaan diri. "Iya bu tadi hanyalah kesalahpahaman. Sebenarnya Raya dan Sarah yang telah membuat Raka terjatuh hingga mengenai saya. Jadi kejadian tadi memang benar-benar tidak saya duga apalagi direncanakan."


"Baik saya percaya pada kalian berdua. Oh iya saya dengar kalian kini telah menjalin hubungan sebagai seorang kekasih kan? Saya sebagai guru BK tidak akan melarang kalian namun saya hanya akan memnberi penjelasan mengenai hubungan yang kalian jalian saat ini. Namun tidak sekarang... saat ini kalian harus kembali ke dalam kelas apalagi ini adalah semester akhir jadi jangan buang waktu untuk meninggalkan pelajaran. Saya ingin kalian datang ke sini nanti setelah pulang sekolah."


Fisya dan Raka tidak mengatakan apapun dan mengikuti perintah bu Esra. Mereka mengucapkan salam dan bersalaman pada bu Esra sebelum meninggalkan ruangan itu.


*****


"Vin maaf aku sama Raka nggak bisa jalan bereng sama kamu dan Raya hari ini. Tadi bu Esra nyueuh kita berdua buat keruangannya setelah pulang sekolah dan itupun aku juga nggak tau sampai jam berapa." ucap Fisya sambil memandang Kelvin yang belum beranjak dari tempat duduknya.


"Oke nggak papa." jawab Kelvin singkat.


"Gimana kalo besok aja? Besok kan hari libur kita bisa jalan bareng besok. Kalo soal jam atau tempat janjiannya biar nanti aku yang urus." ucap Raya yang memang tidak ingin terlalu lama menunda kencan atau jalan bareng sama Kelvin.


Fisya melirik ke arah Raka untuk mengetahui apakah ia bisa. Karena walau bagaimanapun ia harus tetap meminta persetujuan Raka dalam setiap rencananya. Raka mengangguk pelan sebagai tanda setuju.


"Baiklah aku sama Raka nggak ada acara kok buat besok." ucap Fisya setelah mendapatkan persetujuan Raka.


Sesampainya di ruang BK mereka melihat bu Esra yang sedang memandai mereka. "Ayo silakan duduk dulu... ibu akan memberikan penjelasan sesuai yang ibu katakan tadi."


Raka dan Fisya duduk tepat di kursi depan bu Esra. Mereka saling memandang satu sama lain untuk beberapa detik.


"Jadi kalau kalian sudah memutuskan untuk menjalin hubungan itu tidak masalah namun apakah kalian tau kalau di setiap hubungan harus ada kepercayaan dan komitmen. Kalian juga harus tau konsekuensinya kalau kalian berpacaran! Kalian harus siap jika mengalami sakit hati, kalian harus siap jika nanti harus saling berjauhan atau mungkin akan berpisah di kemudian hari. Karena kita semua tidak tau apa yang akan terjadi di masa depan, mungkin kalian berjodoh namun mungkin juga kalian tidak berjodoh dan tidak untuk bersama. Saya mengerti di masa-masa kalian ini pasti keingin tahuan serta hati dan emosi kalian masih belum stabil atau dapat dikatakan labil. Jadi pesan saya jangan pernah bermain-main dengan hati dan jangan pernah mengambil keputusan dengan tergesa-gesa tanpa memikirkan dampaknya." penjelasan bu Esra yang membuat mereka diam seribu bahasa dan hanya dapat menganggukkan kepala.


*****


Sesampainya dirumah Fisya melaksanakan sholat dhuhur. Ia juga mendoakan ayah, kakak serta kakak iparnya yang telah tiada setiap ia selesai sholat.


Entah apa yang terjadi hingga membuatnya tidak memiliki nafsu makan untuk kali ini. Membuatnya memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di kasurnya.


Bu Esra benar dengan memutuskan untuk menjalin hubungan kita harus benar-benar siap dengan segala resikonya. Apa aku salah sudah melakukan ini semua? Apa mungkin hal ini malah akan menyakiti banyak pihak atau malah akan membahagiakan banyak pihak? Walau untuk itu aku pasti akan tersakiti. Aku hanya ingin para sahabatku bahagia, kalaupun aku tidak melakukan hal ini aku juga akan tetap tidak dapat bersatu dengan Kelvin karena aku tidak akan bisa bahagia diatas penderita orang lain yang tak lain adalah sahabatku sendiri. Namun aku yakin Raya pasti dapat membuat Kelvin lebih bahagia bersamanya daripada bersamaku nanti. Batinnya.