
"Vin kamu kan anak basket dulu pastinya kamu kenal dong sama si Kemal itu?" tanya Raka pada Kelvin tanpa memandang. Kelvin hanya diam ia tidak sadar bahwa Raka bertanya padanya, suara Raka terdengar samar di telinga Kelvin.
Karena tidak mendapat respon apalagi jawaban dari Kelvin Raka memutuskan untuk mendekati Kelvin dan menepuk bahunya. "Kamu masih mikirin kejadian kemarin kan! Kamu tau nggak tentang Kemal cowok yang kemarin itu?" tanya Raka kembali.
Kelvin kini mendengar dengan jelas dan mulai merespon Raka, "Setahu aku Kemal adalah ketua tim dari sekolah yang menjadi saingan terberat sekolah kita dalam basket. Tapi kalo soal dia deket sama Fisya apa enggak aku juga nggak ngerti, kalau di tahun kemarin setahuku Fisya nggak deket sama dia bahkan mungkin Fisya nggak kenal. Entah apa yang telah terjadi sampai mereka jadi akrab kayak kemarin." jawab Kelvin.
"Ohh gitu ya, menurutku Fisya nggak mungkin seakrab itu sama Kemal pasti kejadian kemarin hanya salah paham. Walau aku baru mengenal Fisya tapi aku yakin Fisya bukan perempuan yang kayak digosipkan murid-murid itu." ucap Raka yang mengutarakan pendapatnya.
"Aku juga sependapat, eh hari ini Fisya kan nggak masuk pastinya ini karena masalah kemarin, Kamu tau Raya sama Sarah nggak? Setelah istirahat aku belum lihat mereka di sekitar kelas," ucap Kelvin sambil menyangga kepalanya di atas meja.
"Aku nggak tau kalo soal mereka, eh kalo emang Fisya nggak masuk gara-gara masalah kemarin berarti masalah kemarin udah ngebuat dia benar-benar malu. Aku kasihan sama Fisya jika semua yang trjadi kemarin adalah salah paham." Sahut Raka.
"Kita sebagai seorang teman harus bisa ngebalikin nama baik Fisya di sekolah ini! Sebelum UN dilaksanakan, dengan begitu kita bisa meringankan fikiran Fisya dan bisa ngebuat dia fokus ke ujian bukan gosip orang." tegas Kelvin. Raka pun mengangguk dan segera mempersiapkan buku untuk pelajaran jam berikutnya ketika para murid berhamburan masuk kedalam kelas yang menandakan guru akan segegra datang.
*****
Fisya menutup kembali pintu rumahnya setelah Kemal pergi, ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan menghabiskan waktu di sana menunggu ibu dan adiknya kembali ke rumah.
Sesampainya di kamar ia menutup pintu kamar dan mulai duduk di tempat tidurnya. Ia mulai memainkan jari-jarinya yang ramping di layar ponsel dan melihat bekas panggilan dari nomer yang tak dikenal tadi yang tak lain adalah Kemal. Dia dapet nomer telpon aku dari mana? terus dia juga tau alamat rumahku lagi, gila banget tu anak sok jadi orang misterius. Tapi dia bijak juga bisa kasih aku saran yang nggak pernah aku fikirkan sama sekali, batin Fisya sambil tersenyum tipis.
Beberapa jam telah berlalu dan suara motor dari ibu dan adiknya pun telah terdengar, dengan secepat mungkin Fisya membukakan pintu untuk mereka orang-orang yang memang ia sayangi.
Keadaan Fisya semakin membaik ketika hari menjelang malam dan langit telah berubah warna menjadi jingga ibu Fisya membuatkan bubur untuk Fisya dan telah menyiapkan obat di meja kecil sebelah tempat tidur Fisya. Karena obat itu Fisya dapat tidur dengan nyenyak di malam harinya tanpa harus bersuaah payah untuk tidur.
*****
Keesokan harinya Fisya bergegas ke sekolah lebih awal agar tidak terlalu banyak murid yang ia temui saat menuju kelas. Ia menatap dirinya di cermin dan mulai menata mental, emosi dan hatinya jika nanti akan banyak gosip tentangnya.
"Bu Fisya berangkat dulu ya... ibu nggak usah khawatir Fisya udah sehat kok." ucap Fisya dengan melontarkan senyum lebar dan bersalaman dengan ibunya.
*****
Saat sampai di sekolah Fisya memarkirkan motornya di parkiran dan segera bergegas menuju kelas. Ketika ia melewati gerbang Raka dan Kelvin telah berdiri disana dengan senyum ramah yang dibalas senyum oleh Fisya.
"Kalian jadi akur ya sekarang, ngapain kalian pada berdiri di samping gerbang gitu kayak nunggu siapa aja," ucap Fisya.
"Sya kita ini lagi nunggu kamu, kan kita sahabat kamu eh aku deh sahabat kamu Raka kan cuman teman kamu hahaha..." ucap Kelvin sambil menyengirkan bibirnya dan memandang Raka.
"Apaan sih Kelvin, kalo gitu mulai saat ini Raka aku anggap sebagai sahabat aku. Kalian nggak malu atau marah sama aku atas kejadian kemarin?" ucap Fisya.
"Masalah itu kita bahas nanti aja, kita mensing ke kelas yuk... sebelum banyak yang dateng nanti Fisya bisa di kata-katain yang enggak-enggak lagi." ucap Raka yang dari tadi baru mulai berbicara.
Raka dan Kelvin mempersilakan Fisya berjalan terlebih dahulu di depan mereka dan mereka berlagak seperti seorang bodyguard
Fisya. Saat sampai di kelas pintu pun dibuka oleh Raka, Sedangkan Kelvin membersihkan tempat duduk Fisya dan menarik kursi Fisya lalu mempersilakan Fisya duduk.
"Kelian apaan sih, aku bukan seorang putri di negri dongeng sampek diperlakukan kayak gini." ucap Fisya dengan senyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Sya kami hanya ingin kamu nyaman di sekolah ini, kami nggak ingin kamu di gosipin terus di kata-katain. Sebagai seorang sahabat mempercayai dan melindungi sahabatnya adalah tanggung jawabnya. Apalagi sebentar lagi kita menghadapi UN dan pastinya kamu harus benar-benar fokus agar mendapat hasil yang bagus." ucap Kelvin dengan menggenggam tangan Fisya sebelah kiri untuk menguatkan Fisya di tengah gosip yang menyebar.
"Iya Sya kami benar-benar percaya sama kamu, kami tau kamu bukan tipe cewek yang seperti digosipkan sekarang. kalo untuk kejadian kemarin itu pasti hanya salah paham kan?" ucap Raka yang juga menggegam tangan Fisya sebelah kanan yang menandakan ia benar-benar percaya dan ingin mendengar langsung konfirmasi dari Fisya.
"Terimakasih atas dukungan kalian ini sangat berharga bagiku, untuk kejadian kemarin sebenarnya itu memang hanya salah paham aku dan Kemal baru kenal dan dia telah memberikan aku tempat duduk untuk melihat pertandingan. Namun waktu itu aku ingin pulang karena Kemal mengatakan bahwa aku tidak diperlukan disana, tapi dia mencegahku untuk pergi dan menarik lenganku karena dia merasa bersalah, sebenarnya dia hanya bercanda mengatakan itu padaku namun semua sorotan mata telah menuju padaku yang membuatku tidak nyaman jadi aku berusaha untuk melepaskan jari-jari Kemal yang menggenggam lenganku sampai dia melepaskan ku tapi semua telah beranggapan bahwa aku memiliki hubungan khusus dengannya. Aku menjadi begitu malu entah kemana rasa percaya diriku sampai-sampai mataku berkaca-kaca saat itu, sebenarnya..." penjelasan Fisya pada kedua sahabatnya itu, namun ia tidak melanjutkan perkataannya ketika Raya, Sarah dan teman-teman satu kelasnya telah banyak yang datang.