The Sun Will Rise Again

The Sun Will Rise Again
part 27



"Oke kita nanti ketemuan dulu sama mereka terus berangkat bareng atau langsung ke lokasinya aja?" tanya Fisya memastikan.


"Kalo kata Raya kita disuruh langsung ke pantainya aja. Mereka juga langsung kesana jadi nanti kita bakal ketemuan sama mereka di lokasi." ucap Raka yang mulai berjalan menjauh dari Fisya dan pergi menghampiri ibu Fisya.


"Eh... nak Raka udah mau berangkat ya? Tante titip Fisya ya dia kadang kalo main ke pantai suka lupa waktu. Fisya kan anak perempuan jadi nggak baik kalo dia pulang terlalu gelap." ucap wanita paruh baya itu yang menyadari kehadiran Raka di sampingnya.


"Tante tenang aja Raka nggak bakal biarin Fisya pulang terlalu gelap. Raka yang udah ngajak Fisya keluar jadi Raka juga pasti akan bertanggung jawab kok tan. Tante tenang aja anak tante itu nggak akan tergores sedikitpun dan dia pasti akan pulang dengan selamat." ucap Raka yang berusaha meyakinkan wanita paruh baya yang ada di sampingnya itu. Ia ingin wanita ini percaya bahwa ia akan menjaga putrinya.


"Kakak alay banget sih... kata-katanya itu lo sok iya, hahahaha..." ucap Clarissa yang tidak sengaja mendengar percakapan ibu dan sahabat kakaknya itu.


"Risa... kamu nggak boleh gitu! Dia tamu disini apalagi dia juga teman kakakmu, jadi kamu nggak boleh bilang gitu." sahut wanita paruh baya itu.


"Nggak papa kok tante Risa nggak salah. Emang aku aja yang terlalu alay, sebenarnya tujuan aku cuman ingin biar tante nggak khawatir aja kalo Fisya aku ajak keluar." ucap Raka sambil sedikit menggaruk-garukkan jari tangannya di kepalanya padahal tidak terasa gatal.


Clarissa memandang Ibu serta Raka dengan ekspresi polosnya dan berkata. "Maaf deh... kalo emang kak Raka tersinggung sama perkataan Risa tadi. Risa nggak maksud gitu kok tadi Risa cuman becanda. Karena dengerin ucapannya kak Raka buat Risa tu ketawa, kayak iya-iya aja gitu lo."


"Udah ayok kita berangkat." ucapnya


"Saya sama Fisya berangkat dulu ya tante..." ucap Raka sambil mencum punggung tangan wanita paruh baya itu.


Fisya yang malihat kejadian itu baru ingat kalau dia belum berpamitan dengan ibunya. Lalu ia segera menghampiri ibunya dan berpamitan.


*****


Perjalanan


"Ka tadi kamu udah dapet lokasinya kan? kok kamu nggak pakai aplikasi google map? Emang udah tau?" tanya Fisya yang merasa khawatir kalau nanti mereka nyasar.


Karena mereka sedang menaiki motor dan sama-sama memakai helm ditambah dengan adanya suara angin yang membuat Raka tidak dapat mendengar dengan jelas perkataan Fisya.


"Apa Sya aku nggak denger... suara kamu nggak jelas..."


Fisya akhirnya mendekatkan bibirnya ke telinga Raka hingga dagunya menyentuh pundak Raka.


"Kamu kenapa nggak pakek google map? Kamu udah tau dimana tempatnya? Awas aja kalo sampek nyasar...!" ucapnya dengan menekankan kata nyasar.


"Aku udah tau, kebetulan aku pernah kesana. Kamu pegangan yang kuat ya... aku mau naikin kecepatan."


Tanpa berpikir ia langsung menuruti perkataan Raka. Ia memeluk pinggang Raka dengan agak kencang, disana telapak tangannya dapat merasakan otot-otot atletis di perut pria itu.


"Saya jangan ngelamun aja! Ngelihatin aku ya dari tadi sampek nggak nyadar kalo udah sampai di pantai nih..." ucap Raka yang telah mematikan motornya namun ia masih belum turun dan memergoki Fisya yang melamun memandang kaca spion.


"Emmm..."


"Nggak papa kok kalo kamu ngelihatin aku, aku suka kamu lihatin. Tapi kalo nggak ya maklum aku kepedean kali, hahaha..."


"Emang kamu aja yang kepedean orang aku tau kok kalo udah sampai cuman tadi nggak sengaja lihat spion eh nggak nyangkanya lagi aku kayak lihat tomat sama gula." ucapnya yang nggak jelas sambil tersenyum dan mulai mendahului Raka, ia masih agak salah tingkah karena kepergok ngelamun ngelihatin Raka.


Tadi aku ngomong apa sih ke Raka, aduh... kelihatan aneh nggak ya tadi pas aku ngomong gitu? Kenapa aku bisa nggak nyadar kalo udah nyampai, huhhh... sedahsyat itu ya sihir dari senyumnya! kerutunya dalam hati.


Langkahnya terhenti dan matanya menatap sekeliling dengan seksama yang membuatnya diam sesaat.


"Sya tunggu dong! Tadi apa yang kamu maksud dengan tomat dan gula?" ucap Raka yang sambil berlari agar ia dapat menyusul Fisya.


Karena tidak ada respon dari Fisya dan Fisya hanya terdiam lalu menundukkan kepalanya. Raka memegang tangan Fisya dan berkata, "Sya kamu nggak papa? Kalo ada masalah atau nggak suka ke sini cerita aja, aku siap jadi tempat curhatmu wahai bidadari surga."


Fisya mulai mengangkat kepalanya pelan dan menatap pria yang ada di sampingnya itu. Tanpa disangka pria itu menyadari tatapannya lalu membalasnya ditambah dengan senyum manisnya. Dengan bertemunya tatapan mereka tentu saja jantungnya menjadi tidak terkendali dan pipinya juga mulai merona. Karena tidak ingin salah tingkah lagi di depan Raka ia memutuskan untuk mengalihkan tatapannya ke pantai.


"Ayo cerita aja nggak usah malu-malu, ya udah biar lebih enak ceritanya kita duduk disana aja ya... lagipula mereka belum sampai kok." pinta Raka.


"Baiklah."


Sesampainya di tempat duduk yang dimaksud Raka suasana hening diantara mereka, hanya deburan ombak yang terdengar. Raka membuka perkapan agar suasana mencair dan tidak terasa canggung diantara mereka. "Sya aku nggak maksa kok kalo emang kamu nggak mau cerita ke aku nggak papa. Tapi jangan kelihatan sedih terus galau gitu dong... nanti cantiknya pudar loh. Nikmatin suasana pantainya! Masak iya nyampek pantai kok sedih gitu."


"Sebenarnya aku udah sering datang ke pantai ini. Pantai ini merupakan tempat favoritku dan Kelvin, aku nggak nyangka aja kalo Raya pilih pantai ini."


"Pasti tempat ini memiliki banyak kenangan kalian. Kalo aku baru pertama kali datang ke pantai ini, oh iya kamu tau nggak katanya kalo pas sunset pantai ini indah banget loh."


Ia mengangguk pelan sebagai jawaban tanpa memandang Raka.


"Ya jelaslah kamu kan sering kesini pasti tau."


"Hmmm... emang bener kok kalo pas sunset itu indah banget itu termasuk salah satu hal yang aku sukai dari pantai ini."


"Fisya... Raka..." teriak Raya dari kejauhan.


Raka memandang sumber suara itu dan melambaikan tanganya, sedangkan aku hanya memandang dan terdiam membeku ketika melihat Raya yang menggandeng tangan Kelvin dan berjalan bersama dengan mesra.