The Sun Will Rise Again

The Sun Will Rise Again
part 7



*****


Di kamar Kelvin masih teringat kejadian hari ini yang merupakan hari terburuk baginya, entah kenapa walau ia hanya seorang sahabat dekat Fisya hatinya merasa sakit seakan tergores oleh benda tajam. Semakin lama ia mengingatnya semakin sakit yang ia rasakan.


Kelvin melihat ke jendela kamarnya yang terbuka ia berharap dapat mendapat ketenangan saat mengarahkan pandangannya ke luar jendela dan melihat langit berwarna jingga yang indah, namun hal itu tidak mengurai sakit yang ia rasakan. Lalu ia berjalan menghampiri cermin yang ada di kamarnya dan menatap bayangan di cermin itu yang tidak lain adalah bayangannya.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan ku, kenapa ketika aku melihat Fisya dekat dengan Raka hatiku terasa sakit bahkan ketika aku mengingat kejadian tadi rasanya aku ingin menjauhkan mereka. Apa selama ini aku mulai menaruh hati pada sahabatku sendiri? Tidak ini tidak mungkin terjadi!" Teriaknya dengan menggedor-gedor cermin itu, lalu ia menghela nafas, "Jika semua ini terjadi, perasaanku akan menghancurkan persahabatanku, aku tidak ingin ini terjadi. Aku harus berusaha melupakan perasaanku demi persahabatan."


*****


Suasana dirumah sakit terasa dingin yang disertai tangis pilu keluarga Fisya karena kematian ayahnya. Namun Clarissa yang mengamatai ibunya paham akan raut wajah ibunya yang terlihat cemas, seakan telah terjadi sesuatu yang buruk pada keluarganya. "Ada apa ibu? Apakah kakak dan kakak ipar baik-baik saja?"


"Tidak nak kakak dan kakak ipar kalian," Wanita parubaya itu berhenti berbicara dan menghela nafas panjang lalu melanjutkannya, "Mereka tidak dapat diselamatkan, tadi ibu mendapatkan telfon dari salah satu suster di rumah sakit itu yang mengabarkan bahwa mereka telah tiada." Fisya yang masih tidak terima dengan kematian ayahnya menjadi syok setelah mendengar perkataan ibunya, ia berlari keluar dari rumah sakit. Raka yang khawatir dengan Fisya langsung mengikutinya.


Fisya berhenti di taman rumah sakit dan segera duduk di salah satu bangku disana. Raka yang mengikutinya tiba-tiba duduk di sampingnya dan merangkul Fisya, yang seakan tau bahwa sebenarnya Fisya memang benar-benar membutuhkan tempat untuk bersandar dan menuangkan keluh kesah yang ia alami saat ini. Fisya langsung menitihkan air matanya dan secara perlahan menyandarkan kepalanya di bahu Raka.


"Kenapa semua terjadi bersamaan, kenapa keluarga yang ku sayangi mulai meninggalkan ku saat aku masih membutuhkan mereka, kenapa Ka kenapa!" Fisya yang masih merasakan duka yang mendalam mengepalkan tanganya dan mendaratkan pukulan pada bangku yang ia duduk i berkali-kali hingga darah mulai keluar dari tangannya. "Cukup Sya jangan lukai dirimu sendiri, aku mohon. Aku tahu kamu sangat terpukul dan merasakan duka yang mendalam karena kematian ayah, kakak, dan kakak iparmu, jika kamu seperti ini mereka tidak akan tenang disana malah mereka akan merasa sedih." Raka langsung meraih dan membersihkan luka yang berada di tangan Fisya dan mencoba menghentikan darah yang keluar dengan memberikan tisu dan menekan lukanya.


Fisya hanya terdiam dan hanya ada kesunyian di antara mereka, sampai Clarissa datang, " Kak sebaiknya kakak pulang saja biar aku dan ibu yang mengurus jenazah ayah ,kakak dan kakak ipar. Kakak persiapkan saja semua keperluannya di rumah, oh iya kak Raka aku mohon antarkan kak Fisya pulang dan temanu dia untuk sementara waktu ini." Clarissa mencoba tidak memperlihatkan kerapuhannya dan mencoba tidak menambah beban kakaknya, ia langsung pergi mengambil motornya dan bergegas mengurus administrasi di rumah sakit Teratai dimana kakak dan kakak iparnya menghembuskan nafas terakhir.


Raka juga mencoba mengajak Fisya pulang,


"Sya ayok kita pulang, gimana tangan kamu udah enakan belum kalo belum kita periksa dulu gimana?"


"Enggak perlu Ka tangan aku udah enakkan dan kita sebaiknya segera pulang seperti apa yang sudah diberitahukan Clarissa." Suaranya terdengar sangat tak berdaya dan rapuh. Fisya langsung naik motor Raka dengan mengusap sisa air mata yang telah membasahi pipinya.


*****


Sontak setelah mendengar hal itu Kelvin segera membuka pintun kamarnya dengan raut wajah cemas dan syok. "Ibu pasti bercanda kan? Apakah benar bahwa ayah,kakak dan kakak ipar Fisya telah meninggal? bagaimana ini dapat terjadi, setahuku hanya ayah Fisya yang sakit itupun katanya keadaannya semakin membaik!"


"Setahu ibu ayah Fisya tadi kondisinya memburuk kalo soal kakak dan kakak iparnya mereka meninggalkan karena kecelakaan dan ibu dengar mereka sempat dirawat di rumah sakit Teratai." Setelah mendengar itu ia langsung bersiap-siap secepat mungkin dan dapat segera bertemu dengan Fisya, karena baginya mungkin sekarang ini Fisya sedang mengalami duka yang mendalam dan tidak ada tempat untuknya bersandar dan menceritakan keluh kesahnya.


*****


Setelah sampai di gerbang rumah Fisya telfon Raka berdering, yang tidak lain adalah nomor bundanya, "Sya sebentar ya bunda ku telfon," Fisya mengangguk sebagai jawaban iya.


Beberapa saat kemudian Kelvin datang dan menghampiri mereka, sebelum Kelvin dapat berbicara Raka berbicara terlebih dahulu. "Sya aku pulang duluan ya maaf ngak bisa nemenin kamu sampai pemakaman, eh ada Kelvin aku titip Fisya dulu ya. Bunda ku minta dijemput di airport." Fisya yang masih berduka hanya mengangguk.


"Sya , aku turut berdukacita ya atas kepergian ayah,kakak dan kakak iparmu. Maaf sebagai seorang sahabat aku terlambat mengetahui berita ini dan maaf aku terlambat datang disaat kamu sedang membutuhkan ku."


Fisya tersenyum tipis, "Udahlah Vin nggak papa kok bagiku kamu tetap sahabat terdekatku." Kelvin tau senyum Fisya itu hanya palsu, ini hanya dilakukan Fisya untuk menutupi kerapuhan dan kesedihannya dari sahabatnya.


"Ya udah kalo gitu kita masuh ke dalam aja, takutnya nanti jenazah ayah,kakak dan kakakipar ku datang tapi kita belum siapin semuanya. Kamu mau kan bantu-bantu aku?"


"Bukan cuma Kelvin Sya yang bantuin kamu tapi kita juga bakal bantu kamu kok," Fisya dan Kelvin menoleh ke arah suara itu, yang tak lain adalah suara Raya dan Sarah. "Kalian ini aku kira siapa, datang-datang ngak salam ngak nyapa tiba-tiba ikut ngobrol." Kelvin yang sambil melihat kedua sahabatnya itu.


"Iya-iya Vin kita salah, maaf deh oh iya Sya kita turut berdukacita atas meninggalnya ayah,kakak dan kakak ipar kamu." Fisya mengangguk, "Iya, sekarang ayo kita masuk dan persiapkan semuannya, katanya mau pada bantu aku kan?" Fisya membuka pintu gerbangnya dan mempersilahkan teman-temannya untuk masuk ke dalam rumahnya.