
Setelah persiapan selesai tidak lama dua ambulance datang. Ambulance pertama membawa jenazah ayahnya yang ditemani oleh sang ibu, sedangkan ambulance kedua membawa kakak dan kakak ipar serta Clarissa yang menemani. Tidak sedikit orang yang menghadiri pemakaman ini dan menitihkan air mata.
Acara pemakaman pun selesai semua orang yang menghadirinya mulai beranjak pulang, hingga tersisa keluargaku dan Kelvin saja. Fisya melihat ibunya yang masih menangis dan menggenggam batu nisan ayahnya lalu menggenggam batu nisan kakaknya, "Ibu cukup, mari kita pulang! ikhlaskan kepergian mereka, biarkan mereka tenang di alamnya sekarang." Suara lembut dan jari-jari Fisya yang mengusap bahu ibunya.
Sang ibu tidak berkata apapun dan langsung beranjak dan melepaskan genggamannya pada.
*****
Keesokan harinya duka masih menyelimuti keluarganya, ketika Fisya memandang ke meja makan ia mengingatkan bagaimana keluarga bahagianya dulu menyantap makanan bersama-sama, ketika ia melihat ruang keluarga yang terlihat hangat ketika itu jiga ia mulai mengingat bagaimana keluarganya dulu bercengkrama.
Fisya mulai memperhatikan kamar utama yang berada dirumahnya dan tak lain adalah kamar orang tuanya, dari tangga ia dapat melihat ibunya yang masih memandangi foto lebaran tahun kemarin dimana semua keluarganya masih utuh. Ia mendekati ibunya, wanita parubaya itu sangat mengenal anak-anaknya dia tahu kalo sekarang Fisya pasti sedang menghampirinya, "Nak maaf ibu hari ini tidak membuat sarapan untuk kalian."
Suara lembut dari ibunya menghentikan langkahnya. "Sudahlah bu tidak apa-apa aku dan Clarissa bukanlah anak kecil lagi, kami bisa membuat sarapan sendiri." Ibunya tersenyum dan menoleh ke arah suara anaknya itu, "Tapi ini sudah siang kalian bisa telat jika harus membuat sarapan."
"Baiklah ibu, kalo begitu aku dan kakak tidak akan sarapan dirumah hari ini. Kami bisa membeli sarapan nanti di kantin sekolah, iya kan kak?" Clarissa yang tiba-tiba datang dan menyahut pembicaraan. Fisya akhirnya mengangguk dan merjabat tangan serta menciup ibunya, begitu juga dengan Clarissa.
"Kakak hari ini naik motor sendiri atau dijemput sama kak," Sebelum Clarissa menyelesaikan pertanyaannya, bunyi kelakson pun terdengar. Fisya langsung membuka pintu gerbanya dan ia dikagetkan dengan sebuah mobil mewah berwarna putih yang telah berada di depan pintu gerbangya, Clarissa juga merasa terkejut, "Hmmm, pagi-pagi kayak gini udah ada mobil mewah di depan gerbang rumah kita, emang siapa yang parkir disini!"
Kaca mobil itu dibuka sedikit dan suara seorang pria pun terdengar, "Udah ayok naik! Eh ada adek kamu juga nih."
Setelah mendengar suara itu Clarissa memandangi kakaknya, "Kak siapa sih ini, teman kakak ya? Kok udah tau kalo aku adek kakak?" Fisya tidak menjawab dan mulai mengenali suara pria tadi.
Fisya mendekati mobil itu. "Kamu Raka kan?" Akhirnya pintu mobil pun dibuka, dan ternyata dugaan Fisya memanglah benar.
"Iya Sya aku ini Raka, teman sebangku kamu sekaligus pengagummu." Raka yang melontarkan senyum manisnya pada Fisya secara tak sengaja Clarissa mengetahuinya,
"Ehem, ehem, kak Clarissa berangkat dulu ya takut jadi obat nyamuk. Oh iya kak Raka jangan buat kakak aku lecet sedikit pun! Oke."
Fisya hanya mengerutkan jidatnya dan mulai masuk kedalam mobil Raka.
Raka yang memandangi Fisya,"Sya maaf banget ya kemarin aku nggak bisa nemenin kamu sampai pemakamannya selesai."
Sepanjang perjalanan Fisya hanya memandang ke jendela dan melamun. Hingga mobil berhenti di parkiran sekolah, dan Raka membuka pembicaraan. "Sya kamu nggak papa? Kita udah nyampek nih." Sambil mengusap rambut Fisya dengan halus. Hal itu membuat Fisya tersadar dari lamunannya dan mulai memandang seseorang yang telah mengusap rambutnya.
Setelah mereka turun ternyata Kelvin juga baru saja sampai dan memarkirkan motornya dengan memandang ke arah Raka seakan tidak menyukai prilaku Raka. Raka mencoba menghiraukannya, " Oh iya sya kamu inget nggak tugas kelompok kita? Aku udah selesain kok tinggal buat sampul aja, dan besok bisa kita kumpulkan."
"Beneran udah kamu baut? Aduh maaf ya aku nggak bisa bantu, kalo gini kan jadinya aku nggak enak sama kamu Ka." Sambil memandang Raka lalu menundukkan kepalanya.
Raka yang melihat tingkah Fisya pun tertawa, "Udahlah Sya, aku tau kamu pasti ngerasa nggak enak sama aku gimana sebagai gantinya nanti kamu nemenin aku dulu buat beliin kado bundaku, masalahnya aku nggak terlalu tau sama selera perempuan."
Fisya mulai menaikkan pandangannya dan mengangguk dengan senyuman. Raka benar-benar senang karena hari ini dia dapat berbelanja bersama seseorang yang memang ia sayangi.
*****
Di sisi lain Kelvin mengepalkan tangannya dan mencoba menahan seluruh amarahnya, dan terus memandangi Fisya dan Raka hingga mereka tidak terlihat lagi dari pandangan Kelvin. Kelvin mulai berjalan menuju kelas, langkahnya pun terhenti ketiha kepala sekolah mendekatinya. "Kelvin sekarang waktunya kamu sudah purna tugas dari organisasi OSIS, Saya mendengar kamu berbakat dalam bidang olahraga terutama basket. Saya ingin kamu mulai berlatih basket kembali dan dapat membanggakan sekolah ini dalam perlombaan basket tahunan."
"Baik jika bapak menginginkan saya untuk segera purna tugas dari organisasi OSIS dan mengikuti perlombaan basket tahunan ini, saya akan melakukannya. Nanti saya akan mengadakan pertemuan osis dan melakukan voting untuk pemilihan ketua OSIS yang baru." Kelvin sambil menjabat tangan kepala sekolah, dan melanjutkan langkahnya.
Ketika ia memasukki kelas ia melihat Fisya menundukkan kepala dan menahan air matanya. Ia segera mendekatinya, "Kamu masih sedih dan belum dapat mengikhlaskan kepergian mereka? Jika kamu butuh sahabat lama mu ini datanglah! Aku akan selalu setia mendengar keluh kesahmu."
Walau perkataan Kelvin pelan namun Raya yang bangkunya berada di depan Fisya entah kenapa setelah mendengar ucapan Kelvin ia merasa hatinya sakit. "Sar ada Drakor nih disini hahaha," Sarah hanya mengerutkan kening.
Fisya mencoba menutupi semua kesedihannya dan mencoba tersenyum, "Apaan sih ini tadi mata aku kayaknya kemasukkan debu, makanya kelihatan berair."
"Kalo gitu ini pakek aja sapu tangan aku!" Raka yang sambil menyodorkan sapu tangannya pada Fisya. Kelvin tidak tahan dengan hal ini walau sekedar cuman memberikan sapu tangan tapi baginya ini udah kayak sok jadi superhero. "Yaelah sok jadi superhero banget," sambil perlahan duduk dibangkunya.
" Raka cuman minjemin sapu tangan aja kok, AKU NGGAK TAU YA SEKARANG KAMU INI KENAPA!" Seisi kelas memandang Fisya karane jarang-jarang Fisya bisa marah sama sahabat dekatnya itu.
"Sya sekarang kamu mulai bentak aku? Aku nggak nyangka baru sebentar aku nggak sama kamu tapi kelihatannya posisiku udah tergantikan!"