The Sun Will Rise Again

The Sun Will Rise Again
part 14



Fisya mengerutkan keningnya saat Kemal menyuruhnya duduk ditempat duduk para pemain tim basket dari sekolah Kemal.


"Eh aku kok kamu bawa ketempat duduk para pemain, terus mereka kayaknya juga tim dari sekolah kamu. Kamu bercanda kan nyuruh aku duduk di sini?" Tanya Fisya. Sebelum Kemal dapat menjawab secara bersamaan beberapa teman setim Kemal bersorak, "cie - cie... ada gebetan baru nih si Kemal."


"Apaan sih kalian ngawur aja, kita cuman temenan lagi pula kita juga baru kenal." Sahut Kemal dengan memandangi teman-teman setimnya, kemudian memandang Fisya


"Sya maaf ya biasa temen gue ya gitulah jangan dibawa hati, mereka sebenarnya baik kok cuman suka bercanda." Fisya pun mengangguk dan menyapa serta berkenalan dengan teman-teman setim Kemal.


Akhirnya setelah berbincang-bincang dengan mereka Fisya memutuskan untuk mengikuti perintah Kemal untuk duduk di tempat timnya duduk.


"Sya lo masih inget nggak pas gue kenalin nama gue lo ketawa, jadi sebenarnya nama gue itu bermakna tau. Kemal artinya kesempurnaan dalam bahasa Turki nama ini dipilih bokap gue karena itu negara asalnya, terus kalo Cokroaminoto itu artinya anak bulan yang saleh dalam bahasa Jawa kalo nggak salah gitu kata nyokap gue yang asli orang Jawa." ucap Kemal.


"Wihhh bagus banget artinya jadi kamu itu punya darah-darah orang Turki juga dong..." ucap Fisya.


"Iya lah gue... oh iya kita mau pemanasan dulu ya, sebentar lagi kita tanding sama tim sekolah kamu." ucap Kemal yang terkesan sombong sambil tersenyum pada Fisya. Fisya hanya mengangguk dan mengerutkan keningnya.


Setelah pertandingan akan segera dimulai dan kesua tim telah berkumpul di lapangan, Fisya terus memandang tim sekolahnya dan pandangannya terfokus pada Kelvin dan Raka entah kenapa ia mulai memikirkan kata-kata yang telah dikatakan Raya padanya tadi.


Fisya menjadi tidak fokus terhadap pertandingan sampai ada dua gadis yang berjalan didepanya dengan membawa makanan ringan untuk cemilan dan berbisik "Lo tau nggak cewek yang duduk itu di bangku pemain tim kita! beruntung banget sih dia bisa duduk di situ terus tadi dia bisa-bisanya di gandeng Kemal. Cowok keren yang jago main basket dari sekolah sebelah itu." walau mereka berbisik Fisya masih dapat mendengarnya karena jarak mereka tidak terlalu jauh, namun Fisya tidak menghiraukannya.


Aku harus nyemangatin siapa ini! Aku udah bilang sama Raka buat nyemangatin dia terus gimana sama Kelvin dia kan sahabatku juga, dan buat Kemal gimana bagaimanapun dia juga udah buat aku bisa dapet tempat duduk. Batinya dalam hati.


Akhirnya Fisya memutuskan untuk menyemangati Kelvin Dan Raka, kalo untuk Kemal baginya tempat duduk ini hanyalah balas budi Kemal jadi ia tidak menyemangati Kemal apalagi Kemal adalah tim lawan.


"Kelvin... Raka... semangat ya..." teriak Fisya keras dengan raut wajah ceria.


Hal itu membuat perhatian kedua pemuda itu beralih pada sumber suara yang tak lain adalah suara Fisya, keduanya sama-sama tersenyum pada Fisya. Walau pemain satu tim mereka malah menganggap Fisya aneh karena telah duduk di kursi pemain lawan.


Babak pertama pun selesai dan hasilnya tim dari sekolah Kemal lebih unggul. Semau pemain diizinkan untuk beristirahat 5 menit, para pemain tim Kemal segera merapat menuju tempat duduk tim mereka untuk beristirahat dan menyusun setrategi.


Ketika Kemal dan timnya sampai Fisya hanya terdiam dan hanya memandang tempat tim sekolahnya sekarang sedang beristirahat.


"Eh lo ngapain bengong? diem muluk kayak belum makan aja, lo mau ketempat tim sekolah lo ya?" ucap Kemal.


Setelah mendengar perkataan Kemal Fisya hanya memandang Kemal hingga beberapa waktu sampai dia mulai berbicara, "Emang boleh? Nanti kalo aku kesana malah buat mereka keganggu, lagipula aku juga nggak dibutuhin disana dan kalo aku tetep disini pasti nanti jadi gosip satu sekolahan karena dikira aku akrab sama kamu terus lebih ndukung kamu!"


"Bolehlah, orang kayaknya lo punya hubungan khusus sama kedua pemain yang tadi lo semangatin. Halah nggak usah mikirin kata orang, yang ngejalanin kan kita terus yang tau sebenarnya juga kita kan! Kalo masalah lo dibutuhin nggak disana kan itu juga tim lo orang dari sekolah lo masak mereka mau ngusir lo nggak mungkin kan, orang disini sebenernya lo kan juga nggak dibutuhin tapi lo juga nggak gue usirkan." ucap Kemal.


"Mereka cuman sahabat aku kok nggak lebih, aku juga nggak ngubris omongan orang kalo emang aku jadi gosip tapi kalo yang gosipin sahabat sendiri itu rasanya nggak enak banget. Aku emang nggak dibutuhin disini yaudah makasih aku mau pulang aja!" ucap Fisya lembut sambil membawa tasnya dan bergegas untuk pulang.


Namun tiba-tiba Fisya merasa ada yang telah menggenggam tangannya yang membuatnya berhenti dan berbalik dan ternyata yang itu adalah Kemal.


"Eh siapa nama lo tadi Fisya kan? Gue minta maaf kalo udah nyinggung peraan lo Sya, abis tadi gue kira diantara kedua sahabat lo itu ada yang jadi pacar lo. Jadi gue kira dengan gue bilang gitu ke lo, lo bisa sama pacar lo dan gue nggak jadi penghalang terus gue cuman ingin lo tau gue nggak maksa kok lo duduk disini." ucap Kemal. yang membuat Kelvin dan Raka terbelalak dengan tingkah Kemal.


Bukan hanya Kelvin dan Raka tadi juga hampir semua penonton memandangi mereka, Fisya yang mengetahui hal itu segera melepaskan tanganya namun genggaman pria itu terlalu kuat hingga ia tidak dapat melepaskannya.


"Kemal lepasin tangan aku! lihat gara-gara tingkah kamu semua jadi merhatiin kita! Mereka pasti mikir macem-macem tentang aku, aku mohon sama kamu lepasin aku..." ucap Fisya yang terus mencoba melepaskan genggaman pria itu hingga tanganya yang lain menggenggam jari-jari Kemal yang menyengkramnya kemudia tak lama Kemal melepaskan gengamanya.


Disisi lain Kelvin dan Raka yang memang tidak dapat mendengar percakapan Fisya dan Kemal berfikir bahwa Fisya memiliki hubungan dekat dengan Kemal apalagi ketika adegan tangan Fisya yang lain juga berusaha melepaskan jari-jari pria itu yang malah terlihat seperti saling menggenggam dari pandangan kedua pemuda itu begitu juga dengan para penonton.


Fisya tidak berkata apa-apa lagi dan langsung berlari pulang tanpa memandang siapapun karena malu, pipinya memerah dan matanya berkaca-kaca.