The Sun Will Rise Again

The Sun Will Rise Again
part 21



Kelvin mencoba menenangkan Fisya dan meraih kedua tangannya yang sebari tadi memukul-mukul dadanya, tindakan itu dia ambil bukan karena kesakitan melainkan malu akan dirinya sendiri yang tidak mampu mengungkapkan perasaannya dari dulu.


"Sya aku minta maaf... aku sangat mencintaimu sampai bibirku serasa bisu dan lidahku kelu karna perasaan yang tidak dapat ku ucapkan yang terhalang oleh persahabatan kita. Apakah kamu tau aku merasakan sakit di hati ketika melihatmu dengan yang lain entah apakah itu cemburu. Aku benci pada setiap orang yang menyakitimu entah apa itu yang dinamakan sayang. Aku khawatir saat kamu dalam masalah dan rasanya aku benar-benar ingin membantumu apa itu dapat dikatakan peduli. Aku juga tidak pernah menyangka dan mengundang perasaan ini untuk hadir di hatiku, tapi perasaan itu ada dan aku tidak dapat menyangkalnya." ucap Kelvin entah darimana ia mendapat keberanian untuk mengungkapkan isi hatinya.


Kata demi kata, kalimat demi kalimat yang di ucapkan dari bibir Kelvin terasa sangat dalam dan begitu menyentuh hati, entah dari kapan Kelvin menjadi seorang yang pintar dalam merangkai kata. Entah sejak kapan ia berani untuk mengungkapkan isi hatinya.


Fisya terdiam ia tidak menyangka sahabat sekaligus cinta pertamanya ini bisa mengatakan itu semua. Fisya dapat merasakan kata-kata yang di ucapkan Kelvin berasal dari lubuk hatinya, namun apa daya dirinya ini sudah terlambat untuk menerima dan memberi tahu isi hatinya pada Kelvin.


"Sya aku tanya sama kamu apa aku salah udah jatuh cinta sama kamu? Apa aku nggak pantas untuk ada di samping kamu? Walau aku terlambat mengungkapkan isi hatiku setidaknya berikan aku kesempatan lagi, aku mohon. Aku tau kamu tidak benar-benar mencintai Raka kan?"


Fisya yang dari tadi hanya diam dan tenggelam dalam lamunannya kini tersadar akibat lontaran pertanyaan yang diberikan Kelvin padanya. Ia mulai menyeka air matanya dan melepaskan tangannya dari Kelvin.


"Maaf tapi kamu udah salah memprediksi isi hati aku! Aku nggak punya perasaan sama kamu dan saat aku dekat sama kamu aku juga nggak ngerasain apa-apa. Aku nggak bisa denger detak jantung kamu yang semakin cepat saat bersamaku. Aku juga nggak tau kalau tingkah kamu selama ini menandakan kamu menyukaiku!" ucap Fisya tanpa melihat Kelvin, ia sebenarnya juga tidak tega mengucapkannya namun ini demi kebaikan. Fisya mencoba untuk tetap tegar dan tidak emosional lagi, ia menggigit bibir bagian bawahnya karna melihat ekspresi Kelvin yang begitu kecewa.


Suasana hening seketika setelah Fisya berkata tiakan lagi suara sampai beberapa detik berikutnya Fisya mencairkan suasana. "Vin aku tau kamu nggak salah karena udah jatuh cinta sama aku. Kamu juga pantas ada di sampingku namun hanya sebagai sahabatku karena aku tidak mencintaimu. Walau pahit inilah kebenarannya, toh kamu juga tau kan aku udah jadian sama Raka dan aku nggak main-main."


Fisya mulai melangkahkan kakinya dan pergi menjauh dari Kelvin, ia benar-benar sudah tidak sanggup menyakiti Kelvin dengan kata-katanya dan membohongi perasaannya sendiri.


Kelvin terus menatap kepergian Fisya ia tidak menyangka bahwa gadis yang ia cintai akan mengatakan itu semua. Walau Fisya mengatakan itu semua dengan nada yang lembut namun tetap saja kata-katanya begitu menancap di hati Kelvin.


*****


"Sebenarnya apa yang dikatakan mereka berdua sampai selama ini!" ucap Sarah yang mulai bosan menunggu Kelvin dan Fisya yang tidak kunjung datang.


Raya dan Raka tidak menanggapi perkataan Sarah dan terus terfokus pada pintu kelas dan berharap bahwa tidak akan terjadi apa-apa pada kedua sahabatnya.


Namun sampai jam pulang tiba Kelvin dan Fisya tidak terlihat entah kemana mereka bahkan tas mereka masih berada di dalam kelas. Raka pun bergegas membereskan bukunya dan buku Fisya yang langsung dimasukkan kedalam tas dan membawanya, Raka pun meninggalkan kelas dengan raut wajah cemas.


Sya kamu kemana? Jangan buat aku khawatir... apa Kelvin telah menyakitimu? ucapnya dalam hati sambil trus berkeliling sekolah dan mencari Fisya.


Akhirnya setelah hampir setengah jam lebih Raka mencari ia pun menemukannya di mushola sekolah dengan membawa sebuah buku yang tak lain adalah kitab suci al-qur'an.


Raka mendekati Fisya, "Sya dari tadi kamu disini? Kenapa nggak balik ke kelas kalo udah selesai bicara sama Kelvin? Terus tadi Kelvin nggak nyakitin kamu kan?" tanya Raka yang memang sedang khawatir.


Namun alih-alih menjawab Fisya malah menangis tersedu-sedu. Raka yang menyadari bahwa mungkin pertanyaan terlalu brutal.


"Sya... kamu nggak papa?"


"Kamu habis ngaji?"


"Iya..." ucap Fisya sambil menghapus air matanya.


"Subhanallah ternyata kamu taat sama agama."


"Enggak malah sebaliknya, aku tadi ke perpus setelah selesai bicara dengan Kelvin karna aku belum siap untuk menerima pelajaran di kelas. Disana aku baca-baca buku islami terus aku dapat hidayah dan ilmu baru bahwa dengan lebih mendekatkan diri pada Allah hati kita akan lebih tenang. Aku juga sadar selama ini aku telah melupakan agama."


"Umm... gitu, kalo kamu aja bisa nenangin hati dengan mengaji dan mendekatkan diri pada Allah aku juga akan lakukan itu. Selama ini aku juga lupa akan agama Sya, bisa dibilang islam KTP."


Fisya tersenyum dengan pengakuan terang-terangan Raka.


"Sya kamu tadi kenapa nangis?"


"Aku cuman inget perkataan aku sama Kelvin tadi, itu semua sebenarnya bukan kata-kata yang ingin aku katakan namun ini demi kebaikan Kelvin dan juga aku udah bilang sama Raya." ucap Fisya kembali, "Aku mau balikin al-qur'an dulu di mushola, makasih udah bawain tas aku. Maaf udah buat kamu repot Ka."


"Kayak sama siapa aja Sya udah nggak papa aku ikhlas kok."


*****


Sesampainya di rumah Fisya segera mengganti bajunya lalu melaksanakan sholat dhuhur di dalam kamarnya karena ini telah tiba waktunya. Ia sadar hanya Allah yang dapat membuat hatinya lebih tenang.


"Sya... kamu nggak makan nak? Pulang-pulang kok masuk kamar nggak keluar-keluar. Ayo cepet turun, udah ibu masakin enak lo." teriak seseorang yang suaranya terdengar familiar di telinga Fisya yang tak lain ibunya.


"Iya bu... sebentar lagi Fisya turun." sahutnya.


Fisya pun segera melipat mukkenanya dan ia menggulungnya dalam sajadahnya.


*****


Setelah turun Fisya memandang meja makan yang sekarang telah penuh dengan beberapa menu makanan yang telah dimasak ibunya. Fisya duduk di kursi yang biasa ia duduki yang berada di antara tiga kursi yang masih kosong yang biasanya menjadi tempat ayah, kakak, serta kakak iparnya.


Walau sulit ia mencoba untuk tetap kuat dan mengikhlaskan semua yang telah terjadi. Ibu dan adiknya masih menatap ketiga kursi kosong itu sampai tidak tau akan kehadiran Fisya.