
Fisya yang mempercepat langkahnya untuk mengikuti Kelvin akhirnya berhenti di sebuah taman yang berada di belakang kelas mereka, disana sudah terlihat Kelvin yang sedang duduk sendirian di salah satu kursi yang berada di sana.
"Vin kamu nggak papa? maaf jika mungkin tadi aku udah menyinggung perasaan kamu atau mengkin aku udah terlihat lebih membela Raka, oh iya kamu nggak akan melakukan sesuatu yang akan merugikan kamu sendiri kan Vin?" Permintaan maaf Fisya sekaligus perasaan bersalah dan cemas akan sahabatnya itu.
"Tenang aja aku nggak sebodoh itu Sya, sampe - sampe mau menyakiti atau melakukan sesuatu yang dapat merugikan diriku sendiri hanya karena perempuan yang udah mengkhianati aku!" Penjelasan Kelvin dengan suara malas. Fisya pun berjalan mendekati kursi yang sedang di duduk i oleh Kelvin dan duduk di sampingnya.
"Iya, emang Riska nggak pantes sama kamu Vin kamu berhak mendapatkan perempuan lain yang lebih baik dan lebih pantas sama kamu." ucap Fisya yang mencoba membenarkan pernyataan Kelvin sambil menepuk-nepuk bahunya untuk menenangkannya.
"Hmmm, makasih ya Sya kamu emang sahabat ku yang paling baik deh." ucap Kelvin yang sambil mencubit pipi Fisya karena menrasa gemas dengan Fisya.
"Kita sebaiknya balik ke kelas aja yuk, sebentar lagi masuk nih." Ajak Fisya yang menggenggam tangan Kelvin lalu membawanya ke dalam kelas.
Saat pelajaran tengah dimulai Fisya masih melihat pandangan Kelvin yang terlihat sinis pada Raka namun tidak dihiraukan oleh Raka, hingga bel pulang berbunyi Raka pun juga pulang bersamaan dengan murid-murid lain dan yang tersisa di kelas hanya Kelvin dan Fisya.
"Sya pulang yuk kayaknya di parkiran udah sepi nih jadi nggak perlu susah - susah ngeluarin motornya, hahaha...." Kelvin yang sambil tertawa kecil, dan di balas senyuman oleh Fisya. Fisya tidak berkata apa pun sampai mereka telah berada di depat gerbang rumah Fisya.
*****
Pagi ini Fisya bangun agak terlambat jadi ia tidak dapat sarapan seperti biasanya dan langsung berpamitan dengan keluarganya dan segera berangkat menaiki motornya yang telah selesai direparasi dengan kecepatan tinggi karena Fisya nggak pernah berangkat terlambat.
"Sstttt" Suara rem motor Fisya karena hampir menabrak seekor kucing.
"Huhhhh, untung nggak kenak hampir aja." Ocehan Fisya sendiri sambil mengerutkan keningnya.
Sesampainya di kelas Fisya langsung duduk di bangkunya dengan menghembuskan nafas lega karena nggak telat.
"Kamu nggak papa kan Sya, kayak orang abis dikejar rentenir aja." Raka yang meledek Fisya.
"Ngaco ya kalik aku di kejar rentenir, aku itu lega aja karena nggak telat."Jawab Fisya yang seakan tidak terima dengan perkataan Raka.
"Iya, aku cuman bercanda kok nggak usah di anggap serius." Raka .
Kelvin yang melihat bahwa sahabatnya itu ternyata sudah mulai akrab dengan Raka seseorang yang telah pernah merebut cinta pertamanya, seakan tidak terima .
"Sya, nanti pulang sekolah kamu ada acara nggak?Aku mau main ke rumah kamu." Tanya Kelvin yang mengerti bahwa sahabatnya tidak akan mengabaikan pertanyaannya.
"Yaelah pakek nanya segalak, kadang juga kamu datang nggak bilang - bilang gitu." Fisya yang mulai mengalihkan pandangannya pada Kelvin.
"Kan kadang, kali ini aku nanya mungkin aja kamu keluar nanti." Kelvin.
"Ngapain juga kelompoknya harus satu bangku kan jadi Raka yang satu kelompok sama Fisya." Ocehan Kelvin pelan.
"Sya kita kan jadi satu kelompok kira - kira kapan kamu bisa kelompoknya, gimana kalo nanti setelah pulang sekolah aja." Raka yang menekankan perkataannya pada kata pulang sekolah.
"Tapi gimana ya, sebenernya kalo aku sih nggak ada acara tapi hari ini Kelvin mau main ke rumahku,emang kamu nggak papa kalo harus kelompok tapi ada Kelvin." Fisya yang melirik Kelvin.
"Nggak papa kok, aku sama Kelvin kan nggak ada apa-apa kita cuman salah paham aja, iya kan Vin?" Raka sambil memandang Kelvin.
"Hmmm, iya nggak papa kok lagian yang salah kan bukan dia." Kelvin yang berfikir pas banget ini, jadi aku bisa ngawasin mereka biar si Raka nggak deket-deket sama Fisya. Karena sebenarnya Kelvin memiliki perasaan pada Fisya yang tidak pernah ia katakan pada siapa pun.
Raya dan Sarah yang bangkunya berada di depan bangku Fisya pun mulai memperhatikan tingkah Kelvin yang seakan sangat senang dapat mengawasi Fisya yang akan kelompok dengan Raka.
"Hmmm, aroma-aromanya bakal ada cinta segitiga nih di kelas." Sarah yang meledek ke dua sahabatnya itu.
"Apaan sih Sar nggak ada yang kayak gitu-gitu kali. Kelvin mana mungkin suka sama aku kita kan udah sahabatan lama. Cinta akan mengubah persahabatan kita yang nggak akan bisa seperti ini lagi." Fisya sambil memandang Kelvin. Perkataan yang dilontarkan Fisya semata-mata hanya ia gunakan untuk menutupi perasaan yang ia pendam selama ini.
"Ya udah kalo gitu sama aku aja gimana? Aku kan bukan sahabat kamu Sya." Raka yang membuat Kelvin, Fisya, Sarah dan Raya terdiam.
"Apa maksud kamu?" Fisya yang masih bingung.
"Kamu nggak usah bercanda Raka! Kami nggak mau ngelihat sahabat kami terluka." Raya yang juga di dukung dengan anggukan Sarah.
"Aku nggak bercanda Sya, dan aku akan berusaha menjadi yang terbaik buat kamu, kalian sebagai sahabatnya tenang aja aku nggak akan menyakiti hati sahabat kalian ini." Raka yang sambil memegang tangan Fisya.
"Eh apaan sih pakek acara pegang-pegang tangan lagi." ketus Kelvin yang langsung melepaskan tangan Raka dan Fisya. Fisya yang hanya diam membeku karena semua ini tidak pernah ia bayangkan.
"Gimana bisa kamu suka sama Fisya, kenal juga baru kemarin." ucap Kelvin yang meragukan perasaan Raka.
"Cukup nggak usah di terusin, buat kamu Raka maaf aku belum bisa nerima kamu saat ini, Karena memang aku nggak ada perasaan apa-apa sama kamu dan menurut aku ini terlalu cepat." tegas Fisya yang langsung pergi meninggalkan mereka.
"Sya kamu mau kemana?" Pertanyaan Raya yang tidak dihiraukan oleh Fisya,dan membuatnya merasa khawatir. Ia ingin mengikuti Fisya namun dicegah oleh Sarah.
"Udah biarin Fisya sendiri dulu aja mungkin dengan cara itu dapat membuatnya lebih tenang." ucap Sarah.
Fisya masuk ke dalam kamar mandi dan menatap dirinya di cermin." Kenapa aku dihadapkan dalam situasi yang membuatku bimbang, aku sebenarnya mencintai Kelvin sejak kelas 10 namun aku tau saat itu ia mencintai Riska. Walau sampai sekarang perasaan itu masih tetap ada tapi aku nggak mau menghancurkan persahabatan yang telah terjalin sejak lama ini. Kenapa Raka datang di waktu yang nggak tepat, dia nembak pas aku belum mencintainya." Gumamnya.
Tiba-tiba ponsel Fisya bergetar, lalu ia mengangkatnya kemudia setelah mendengar berita itu tanpa Fisya sadari ponselnya terlepas dari genggamanya. Fisya langsung mengambil ponselnya dan berlari ke kelas, ia mengambil tasnya dengan terburu buru lalu segera meminta izin dan menaiki motornya dengan kecepatan yang cukup tinggi.