
"Tenang aja Sya walau bundaku sering pergi ke luar negeri dia suka kok sama produk-produk lokal, bundaku juga nggak pernah membeda-bedakan barang atau orang melalui harganya atau setarusnya." Kata Raka sambil menghentikan langkahnya di tempat tas yang ditunjukkan Fisya tadi. Setelah mendengar perkataan Raka dia merasa kagum dengan sikap bunda Raka yang tidak pemilih.
Karena Raka berhenti dia pun juga ikut berhenti. Raka mulai melangkah dan mendekati tas berwarna gold dengan permata kecil berwarna putih yang terlihat sangat menawan dan ditambah dengan bentuk tas yang terlihat praktis yang membuat tas ini semakin terlihat elegan dan berkelas, pilihan cewek ini ternyata bagus juga, batin Raka.
"Sya tas yang kamu tunjuk ini boleh juga, bundaku pasti suka." Ucap Raka sambil memandang Fisya, dan tatapan mereka akhirnya bertemu ketika Fisya tidak sengaja juga memandangnya. Tak lama Fisya mengalihkan pandangannya pada tas tadi dan mulai mengambilnya, "Aku yakin bunda kamu pasti suka hadiah dari kamu ini, setelah mendengar penjelasan kamu tadi." Raka pun tersenyum, "Semoga saja yang kamu katakan akan terjadi, semoga bundaku menyukai hadiah ini."
Raka menarik tangan Fisya dan berjalan menuju kasir. "Mbak ini tasnya, bisa sekalian di bungkus kertas kado?" Tanya Raka pada mbak kasir. Kasir itu mengangguk dan segera membungkus tas itu dengan sangat ahli seperti sudah terbiasa membungkusnya. Setelah selesai kasir itu memberikan tas yang telah dibungkus dengan rapi dan indah pada Raka sambil berkata, " Ini mas udah selesai, jadi total semuanya 3.350.000,00 (tiga juta tiga ratus lima puluh ribu rupiah)."
Raka langsung mengeluarkan dan menyodorkan kartu kreditnya yang ternyata memang sudah ia persiapkan dan telah ia pegang di gengaman tanganya, tanpa berkata apa-apa. "Mas ini kado buat mertua ya? Kalian berdua emang kelihatan serasi kok. Mesra banget lagi kelihatannya, sampek-sampek gandengan gak di lepas-lepas." Ucap kasir itu sambil menyodorkan kembali kartu kredit pada Raka dan memandangi kami.
Fisya hanya mematung dan terpaku akan perkataan kasir itu, bola matanya melirik kearah Raka yang berdiri di depannya dan masih menggenggam tangannya. Karena refleks Fisya menarik tangannya dari genggaman Raka. Raka yang mengetahui penyebab Fisya melepaskan tangannya, nih cewek bisa malu juga? batin Raka sambil mengambil kartu kreditnya.
"Emang bener ya mbak kita ini serasi?" Tanya Raka pada mbak kasir. Sebelum mbak kasirnya bisa njawab Fisya langsung mengambil tas yang sudah terbungkus rapi yang berada di meja kasir dan segera pergi dengan memandang Raka dengan berkedip, seakan mengisyaratkan untuk segera pergi.
Raka yang paham dengan isyarat Fisya langsung bergegas mengikuti Fisya. Bagi Raka mengikuti Fisya itu adalah hal yang mudah, setelah beberapa langkah saja ia dapat berjalan berdampingan di samping Fisya, dan mulai bertanya. "Sya kamu marah tadi aku tanya gitu ke mbak kasirnya?" Fisya menggelengkan kepalanya.
"Kita mampir ke cafe yang ada di depan mall ini yuk! Enak-enak tauk masakan disana, pokoknya mantul deh." Ajak Raka. Fisya tidak menolak, karena memang cacing-cacing yang ada dipertnya ini kayak demo ingin segera makan.
Sesampainya di cafe itu Raka mengambil kertas menu dan bertanya pada Fisya, "Kamu mau minum aja atau sekalian makan juga? Udah tenang aja aku yang traktir kok itung-itung buat terimakasih aku ke kamu karena udah nemenin aku cari kado." Fisya terdiam dan tidak menjawab Raka dan hanya terfokus pada buku menu yang ia lihat satu persatu menunya dan akhirnya ia bicara, " Aku minum aja deh nggak usah makan, aku mau pesen smoothie ya." Sambil menunjuk menu itu dan menunjukkannya pada Raka. Walau sebenarnya Fisya ingin makan sekalian tapi kan malu masak di traktir mintanya banyak banget.
"Nggak papa kok, ya aku nggak nyangka kamu bisa sebaik ini sama aku apalagi aku cuman temen kamu terus aku juga enggak sederajat sama keluarga kamu." Sahut Fisya sambil terus memandangi Raka. Raka tersenyum dan berkata, "Aku bukan tipe pemilih teman melalui derajat ataupun harta tetapi aku milih teman melalui sipak tindakan serta pemikirannya. Lagi pula aku kan emang suka sama kamu jadi ya wajar aku baik sama kamu, tapi kebaikan aku bukan cuman semata-mata biar kamu suka sama aku! Tetapi bagiku baik dan peduli pada orang yang aku sayangi itu kewajiban."
Fisya hanya terdiam dan mematung dengan hati yang kacau, apa aku udah terlalu jahat ya sama Raka? apa aku harus berikan dia kesempatan? tapi aku udah terlanjur naruh hati ke Kelvin. Ya elah ribet banget sih masalah hati, batin Fisya. "Eh itu pesenan kita udah datang!" Ucap Fisya mengalihkan pembicaraan. Raka masih melihat Fisya kemudian baru mulai mengalihkan pandangannya ketika pesanannya telah berada di meja.
Tidak lama bagi mereka untuk menghabiskan minumanya karena memang cuaca hari ini begitu panas jadi rasa haus mereka meningkat dan nafsun untuk minum pun meningkat.
"Kamu mau kemana lagi? mau aku ajak nonton atau pergi kemana gitu nggak?" Ucap Raka sambil berjalanan mendekati Fisya setelah membayar. Fisya menggelengkan kepalanya dan berkata, "Eh nggak perlu, lain kali aja kalo ada waktu lagi. Lebih baik kita segera pulang aja, ibu sama Clarissa pasti udah nunggu aku dirumah."
Akhirnya Raka setuju untuk pulang dan bergegas mengantarkan Fisya pulang. Di perjalnan Fisya hanya memandang keluar jendela sedangkan Raka hanya fokus menyetir. Hal itu membuat suasana sunyi dan terasa begitu canggung hingga Raka menyalakan lagu yang dapat mencairkan suasana dan membuat fikiran menjadu lebih rileks, dan akhirnya membuat Fisya tertidur dan tanpa sengaja kepalanya terjatuh dan bersandar di bahu Raka.
Raka Karena refleks langsung memandang gadis yang telah bersandar di bahunya tanpa izin itu, katika menihatnya Raka seakan tengelam dalam keinginan untuk dapat memiliki Fisya. Wajah polos ini, senyum manis ini dan karakter yang begitu bijaksana yang kau miliki telah dapat menarik perhatianku serta telah dapat mencuri hatiku ini. batin Raka sambil merapikan rambut Fisya yang telah menutupi wajahnya dan menghentikan mobinya di depan pagar rumah Fisya.
Jari-jari ramping yang mengenai pipi Fisya membuatnya terbangun dan membuka mata, seketika ia sangat terkejut melihat Raka yang sangat dekat dengannya apalagi dengan jari-jari yang menyentuh pipinya. Fisya langsung mengangkat kepalanya dan mengusap wajahnya serta merapikan rambutnya, "Maaf tadi aku ketiduran, sampai nggak tau kalo udah sampek rumah. Aku benar-benar minta maaf udah nyenengin kelapa aku di bahu kamu." Ucap Fisya yang terlihat sangat malu dan hatinya kini kembali berdetak semakin kencang, walau ia sudah tidak sedekat tadi dengan Raka.
Raka menggelengkan kepala sambil berkata, "Aku juga udah terlalu lancang nyentuh pipi kamu, walau itu cuman untuk merapikan rambut kamu. Aku minta maaf bila sikapku tapi tidak sopan." Fisya hanya menggelengkan kepalanya dengan tersenyum pada Raka dan segera membuka gerbang rumahnya dan masuk ke dalam rumah.