The Sun Will Rise Again

The Sun Will Rise Again
part 11



*****


Hari ini ibu Fisya sudah mulai menjalankan aktivitasnya seperti biasa dan berusaha untuk tetap tegar. Ketika Fisya telah turun dari kamarnya ia melihat ibunya telah berpakaian dengan rapi seakan akan menghadiri suatu acara atau untuk melamar kerja.


"Ibu mau kemana? pagi-pagi begini kok udah rapi tumben kayak mau kekondangan aja." Kata Fisya sambil memandangi ibunya dari atas sampai bawah. "Emang ibu nggak boleh berpakaian rapi? Oh iya ibu udah buatin nasi goreng di meja makan, nanti kamu makan sama adik kamu. Ibu mau keluar dulu!" Ucap sang ibu agar Fisya tidak bertanya lebih lanjut.


Namun perkiraan wanita paruh baya itu salah, jawabannya telah membuat Fisya curiga begitu juga dengan Clarissa yang telah mendengar jawabn ibunya tadi saat dia mulai turun dari tangga. "Ibu jangan mengalihkan pembicaraan," Ucap Fisya sambil menarik tangan kanan ibunya. "Iya bu kakak benar! kami sudah mengenal ibu dengan baik, jadi kami tau ibu telah menyembunyikan sesuatu dari kami." Sahut Clarissa yang membuat Fisya dan wanita paruh baya itu sontak memandangnya.


Fisya mengabaikan kedatangan adiknya itu dan berusaha menunggu jawaban dari ibunya, hingga 30 detik barulah wanita paruh baya itu menjawabnya. "Sebenarnya ibu ingin mencari pekerjaan, kalian pasti tau bahwa ayah kalian kini sudah tidak ada begitu juga dengan kakak kalian. Walau ibu memiliki sedikit tabungan tapi itu tidak akan cukup untuk biasa hidup dan pendidikan kalian. Ibu mohon agar kalian mengerti dan mengizinkan ibu untuk mencari pekerjaan, sekarang tulang punggung keluarga ini ada pada ibu!"


Kakak adik itu terdiam untuk beberapa saat, kemudin mereka mulai mendekati ibunya dan memeluknya. "Ibu jangan seperti ini, kami akan merasa telah membebani ibu. Aku sebagai anak tertua ibu sekarang benar-benar tidak rela bila ibu harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan kami, biarkan aku saja yang bekerja bu!" Fisya menentang keputusan ibunya, dan berkata dengan lembut agar tidak membuat ibunya tersinggung dengan mata yang telah berkaca-kaca. Clarissa tidak berkata apa-apa, ia hanya memerlukan ibunya dengan lebih erat.


Wanita paruh baya itu berusaha meyakinkan anak-anaknya agar mengizinkan dirinya mencari pekerjaan dan hal itu dapat ia lakukan apabila ia menahan air matanya agar tidak terlihat sedih. Dan ternyata dengan menahan air matanya, berpura-pura kuat di depan para putrinya dan senyuman tulus yang ia perlihatkan pada putrinya telah dapat meyakinkan mereka untuk mengizinkan dirinya mencari pekerjaan. Namun Fisya memberikan persyaratan pada ibunya, "Ibu boleh cari kerja dan mulai bekerja tetapi jika terjadi sesuatu pada ibu aku tidak akan membiarkan ibu bekerja lagi, dan aku yang akan menggantikan ibu."


Clarissa juga berangan sama dan menganggukan kepalanya. "Tenang aja ibu ngerti kalian nggak ingin terjadi apa-apa pada ibu. Ibu akan selalu jaga diri baik-baik, kalian jangan khawatir!" Ucap wanita paruh baya itu dengan menepuk bahu kedua putrinya.


"Kalian ayoh cepat udah hampir jam 7 nanti kalian telat, biar ibu masukin ke tempat makan kalian ya sarapanya! Nanti jangan lupa dimakan saat disekolah." Fisya dan Clarissa hanya mengangguk dan segera berpamitan pada ibunya setelah bekal mereka siap.


*****


Sesampainya di sekolah Fisya melihat Kelvin yang sedang berkumpul dengan anggota tim basket dan membentuk huruf "O"


Saat tiba didepan kelas Raya dan Sarah menarik pergelangan tanganya yang membuatnya berhenti dengan memandangi keduanya, dengan penuh kebingungan. "Ada apa? Ngapain narik tangan aku? Kalo mau ngomong dikelas aja kan bisa! Emang penting banget ya?" Fisya yang ngerasa terkejut sekaligus ingin tahu melontarkan pertanyaan yang bertubi-tubi pada para sahabaynya itu.


"Sebentar dong sabar, tahu aja kamu kalo kita lagi ingin ngomong sesuatu sama kamu." Ucap Sarah yang langsung disahut oleh Raya, "Kamu pasti belum tau kalo Kelvin sekarang jadi anggota tim basket lagi!" Raya terlihat begitu senang sampai mencubit lengan Fisya.


"Aduhh... sakit, tapi seingat aku dia kan udah mutusin untuk fokus ke tugasnya menjadi ketua OSIS dan pelajarannya karena udah kelas 12 apalagi udah semester akhir." Ucap Fisya seakan tidak percaya karena Kelvin selalu meminta pendapat Fisya saat dia ingin memutuskan sesuatu tapi kali ini tidak. "Ya elah Sya kamu udah ketinggalan berita! persis kayak perkiraan kita, makanya kita beri tahu kamu disini biar nggak bingung nanti kalo masuk kelas terus denger anak-anak pada ngomongin ini. Jadi kemarin katanya Kelvin disuruh segera purna tugas sebagai ketua OSIS dan dia diminta untuk ikut serta dalam lomba basket besok." Fisya masih belum dapat percaya akan hal ini, ia hanya mengangguk tanpa ekspresi.


Saat memasuki kelas ia langsung menuju bangkunya dan meletakkan tasnya di sana. Apa Kelvin nggak cerita sama aku karena masih nggak enak sama aku? Padahal ini adalah berita yang menggembirakan. aku tahu dia benar-benar ingin ikut basket lagi dan hari ini keinginanya terkabul, nggak seharusnya berita bahagia ini harus aku dapatkan dari orang lain. Ucap Fisya dalam hati.


Fisya baru menyadari bahwa Raka teman satu bangkunya juga tidak berada di sampingnya yang membuatnya mengerutkan kening, dan ia teringat kalo Raka juga adalah salah satu tim basket. Raya dan Sarah masuk dan tidak lama setelah itu datanglah bu Dini guru yang sangat Fisya sukai, karena dengan diajar bu Dini ia semakin mengerti.


Fisya memperhatikan pelajarannya dengan seksama hingga bel istirahat berbunyi semua siswi perempuan berlari secepat mungkin karena tidak ingin ketinggalan saat-saat latihan basket dan mencari tempat. Begitu juga dengan Raya dan Sarah mereka juga segera pergi menuju lapangan basket dan menarik tangan Fisya.


Sesampainya di sana tempat itu telah dipadati oleh para siswi dari mulai kelas 10 sampai 12, semuanya ingin melihat pemain basket yang terbilang jadi impian setiap gadis di sekolah ini untuk dapat dekat dengan mereka yang tergolong cowok keren, seksi, manis, tampan, tinggi, dan putih bisa dibilang hampir semua pamain basket sekokah ini perfect.


Untung kedua anak kelas kami adalah salah satu pemain basket disini jadi mereka yang mencarika kami tempat duduk yang tak lain adalah Raka dan Kelvin. Permainan hari ini juga akan dijadikan penilaian oleh guru olahraga sekaligus pelatih tim basket ini akan menentukan siapa ketua tim ini. Semua sisiwi yang berada disana begitu menikmati latihan mereka dan selalu memperhatikan seseorang yang mereka kagumi.


Setelah pertandingan usai dan pelatih telah menentukan ketua tim basket ini adalah Kelvin, semua sorakan terdengar dan berbagai pujian pada Kelvin terus berdatangan.