
Setelah pertandingan usai dan pelatih telah menentukan ketua tim basket ini adalah Kelvin, semua sorakan terdengar dan berbagai pujian pada Kelvin terus berdatangan.
Bagi Kelvin sorakan dan pujian yang sangat ingin ia dengar adalah sorakan dan pujian dari Fisya. Kelvin terus memandangi tempat yang diduduki Fisya, namun entah kenapa dia tidak segera beranjak dari tempatnya seperti sahabatnya Raya dan Sarah yang segera menghampiri dirinya.
"Vin selamat ya..., aku lihat kamu dari tadi merhatiin Fisya muluk, kamu ingin dia ngucapin selamat sama kamu? Kalo iya biar aku panggil si Fisya!" Sarah yang memperhatikan arah pandangan Kelvin. Kelvin pun segera mengalihkan pandangannya dan mulai memandang kedua sahabatnya itu. Raya menyodorkan minum pada Kelvin dengan berkata, "Udahlah, nggak usah ngarep Fisya ngucapin selamat! Tuh dia aja sekarang lagi berdua-duaan sama Raka."
Kelvin langsung pergi ke toilet tanpa mengambil minuman yang Raya sodorkan dan tidak menanggapi omongannya. Pandanga Kelvin sempat terhenti pada Fisya dan Raka yang sedang berbicara, namun ia mencoba tidak memperdulikannya dan segera melanjutkan langkahnya.
Flash Back
Ketika Fisya ingin beranjak dari tempat duduknya dan segera menghampiri Kelvin untuk mengucapkan selamat seperti kedua sahabatnya, tiba-tiba Raka menghampirinya dan duduk di sebelahnya. Aduh Raka ngapain ke sini padahal aku ingin ngucapin selamat sama Kelvin, kalo aku nggak ngucapin selamat nanti dikiranya aku masih marah lagi sama dia. Gimana ini..., ucap Fisya di dalam hati.
"Eh Sya dari pagi aku ingin cerita nih sama kamu..., kemarin bunda aku seneng banget lo sama hadiah pilihan kamu," Ucap Raka sambil meminum sebotol air mineral yang telah ia pegang. "Ya syukurlah kalo bunda kamu suka, lagipula apapun hadiah dari anaknya ibu itu pasti bakal suka kok." Sahut Fisya. "Bener juga sih, oh iya kemarin ibu aku nyuruh biar aku ngajak temen sekaligus seseorang yang telah mencuri hatiku yang kemarin ikut nemenin aku beli kado. Hahahah," Ucap Raka menggoda.
Ucapan Raka telah membuatnya mematung dan terus memandangi Raka. "Kamu beneran? Udah bilang kalo yang nemenin kamu beli kado itu seseorang yang udah nyuri hati kamu?" Tanya Fisya. Raka Tersenyum dan berkata, "Enggaklah Sya aku bercanda tadi, masak aku bilang sama bunda kalo hati aku udah dicuri seseorang terus kalo ditanya belum ada hubungan..., hahah."
Pipi Fisya mulai memerah, ketika Kelvin melewati mereka dengan langkah yang cepat. Ia teringat bahwa tadi ia belum mengucapkan selamat pada Kelvin. "Ka nanti aja deh kita lanjutin ngobrolnya." Ucap Fisya dengan berlari mengikuti Kelvin.
Flash Back End
Kelvin tidak menyadari bahwa Fisya sedang mengikutinya. Ketika Kelvin sampai di depan pintu toilet laki-laki ia baru menyadari bahwa Fisya telah mengikutinya saat ia melihat Fisya bedara di belakangnya. "Ngapain kamu ikutin aku kesini? Bukanya kamu lagi sama temen baru kamu kalo nggak pacar kamu itu ya... sampek nggak ngucapin apa-apa ke aku!" Ketus Kelvin. Fisya hanya memandangi Kelvin dan terdiam untuk beberapa waktu, hingga ia mula menjawab dengan suara yang lembut, karena ia tahu Kelvin sedang marah padanya. "Aku minta maaf, biar aku jelaskan semuanya tapi nggak disini. Tempat ini ramai aku nggak ingin anak-anak yang lain ngiranya kita berantem, udah ayuk ikut aku!"
Kelvin mengerti maksud Fisya, jadi ia tidak menolak. Langkah mereka berhenti di depan ruangan laboratorium yang sudah kosong dan sepi.
Dengan mendengar perkataan Fisya bahwa Raka tidak lebih penting dari dirinya membuat suasana hatinya lebih baik dari sebelumnya.
"Sya aku juga benar-benar minta maaf untuk kejadian kemarin, nggak sepantasnya aku protektif sama sahabat aku sendiri," Ucap Kelvin sambil memegang kedua lengan Fisya. Seketika jantung Fisya menjadi berdetak lebih cepat dari sebelumnya dan pipinya mulai memerah, Fisya mencoba untuk tidak salah tingkah dang mengangguk.
Kelvin tersenyum, "Kita ke kelas yuk..., takutnya nanti gurunya udah sampek." Ucap Kelvin dengan melepaskan satu lengan Fisya dan menarik lengan yang lainya. "Vin kamu nggak salah kita ke kelas sekarang? Kamu masih makek baju tim basket, yang ada nanti kamu nggak boleh ikut pelajaran!" Ucap Fisya sambil melontarkan senyuman pada Kelvin yang dibalas oleh Kelvin.
"Iya sampek lupa, kalo aku masih pakek baju basket. Hahahah, gimana kalo kamu nganterin aku ke toilet dulu." Ucap Kelvin yang dibarengi dengan tawa lepas. Fisya mengangguk.
Saat sampai di toilet Fisya menunggu Kelvin dengan duduk di salah satu kursi yang terdapat tidak jauh dari toilet. Suasana terasa sunyi saat Fisya menunggu Kelvin.
Setelah Kelvin keluar dari toilet dengan seragam yang rapi kami segera berjalan menuju kelas. Saat berjalan kami mendengar suara cewek yang kelihatannya sedang bergosip, "Eh kalian udah denger berita tentang Kelvin, Fisya sama Raka belum? lagi jadi trending topik nih... disekolah kita."
"Oww yang katanya cinta segitiga itu? jelas aja jadi trending topik orang mereka bertiga kan termasuk murid populer di sekolah ini!" Sahut cewek yang lain.
Kelvin yang mendengar gosip itu ingin sekali menjelaskan semua pada mereka dan membuat mereka bungkam, tapi dia tau kalo dia melakukan itu pasti malah akan dijadikan gosip baru. Jadi Kelvin tetap berjalan di hadapan mereka dengan santai sambil menggenggam lengan Fisya.
Sesampainya dikelas, Kelvin yang masih menggenggam lengan Fisya membuat perhatian satu kelas tertuju pada mereka, namun tidak ada satupun yang berani bicara karena tidak lama guru pun datang. Fisya yang menyadarinya buru-buru melepaskannya. Untung aja gurunya baru dateng! kalo udah dateng dari tadi bisa malu ketahuan lengan aku digenggam Kelvin, batin Fisya.
Raka juga memperhatikan mereka, mungkin mereka biasa kayak gitu, apalagi hari ini Kelvin berhasil jadi ketua tim basket, fikir Raka. Namun walau bagaimanapun Raka tetap merasakan kecemburuan di dalam hatinya dan karena ia tidak ingin ada orang yang mengetahuinya, ia memilih untuk tidak berbicara.
Ketika jam pelajaran usai Fisya segera bergegas pulang, sesampainya di depan gerbang sekolah Raka meraih tangannya dari belakang yang membuatnya terkejut hingga hampir jatuh ke belakang, namun Raka menahan tubuh Fisya yang membuatnya berada di pelukan Raka. Pandangan mereka bertemu namun hanya sebentar karena Fisya segera bangkit. "Thanks, ya Ka." Ucap Fisya dengan senyum malu. "Iya sama-sama, ini aku cuman mau ngembalikin pulpen kamu yang ketinggalan. Maaf karena itu kamu hampir jatuh." Ucap Raka.