
Perasaan Fisya semakin tidak terkendali rasa khawatir terhadap ayahnya semakin bertambah ketika sampai di tempat ayahnya dirawat karena di ruangan itu tidak ada orang, kekhawatirannya semakin bertambah hingga membuat hatinya terasa sesak. Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang. "Sya kamu nggak papa kan, oh iya katanya ayah kamu dirawat disini mana aku mau ketemu." Fisya tidak menjawab dan hanya berbalik menatap seseorang yang telah menepuk bahunya yang ternyata adalah Raka.
Karena merasa sedih Fisya memeluk Raka dan meletakkan kepalanya di bahu Raka dengan air mata yang terus mengalir hingga membasahi bahu Raka. Raka hanya terdiam dan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, namun ia tidak menolak pelukan itu, baginya dapat menenangkan seseorang yang ia sayangi itu adalah kewajibannya. Suasana menjadi sunyi dan hanya terdengar suara tangis dari Fisya. Hingga Fisya melepaskan pelukannya dan mulai mengangkat kepalanya dari bahu Raka. "Maaf aku udah lancang peluk kamu tanpa izin." Sambil menyeka air mata yang telah membasahi pipinya.
"Enggak kok Sya nggak papa, aku ngerti kamu pasti lagi khawatir sama keadaan ayah kamu. Kalau gitu gimana kalo kita segera keruangan ayah kamu aja..." ucap Raka yang ingin menenangkan Fisya pun merangkul bahunya dan mencoba menguwatkannya.
Fisya yang memang sangat khawatir mulai bisa tenang dan mulai menceritakan kekhawatirannya sambil menundukkan kepalanya dan mencoba menahan air matanya agar tidak keluar lagi. "Sebenarnya ini ruangan ayahku dirawat, tapi sekarang ini ruangan ini kosong, entah kemana ayahku dipindahkan."
Raka yang sekarang mengerti penyebab kekhawatiran Fisya. "Kalo gitu gimana kalo kita tanya suster atau petugas resepsionis aja."
Tanpa berfikir panjang Fisya bertindak secepat mungkin dan menanyakannya pada salah satu suster yang ia ketahui telah memberikan suntikan pada ayahnya kemarin. "Sus saya mau nanya ,suster ingat saya kan? saya adalah salah satu keluarga dari pasien yang berada di ruangan ini kemarin, Apakah suster tahu dimana ayah saya dipindahkan?"
Sambil menunjuk ruangan rawat inap didepannya.
Suster itu mengangguk, "Iya saya masih ingat anda adalah salah satu keluarga pasien, sekarang sepertinya pasien yang berada di ruangan ini sedang menjalani operasi."
Setelah mendengar perkataan suster Fisya segera berlari menuju ruangan operasi, yang diikuti oleh Raka.
Sesampainya disana Fisya melihat ibunya telah menangis dan memeluk seseorang yang telah ditutupi oleh selembar kain kafan, ini membuat kakinya terasa berat dan sulit dilangkahkan, tubuhnya mulai lemas jantungnya berdetak lebih cepat hingga pandangannya mulai suram dan semakin gelap dan akhirnya ia terjatuh tak sadarkan diri atau pingsan. Raka yang terkejut melihat Fisya, langsung menghampirinya, "Sya kamu kenapa?" Tanpa dikomandoi Raka segera mengangkat Fisya dan memanggilkan doket.
Ibu Fisya yang mendengar seperti suara seseorang yang terdengar panik dan memanggil nama putrinya pun mulai melepaskan pelukannya dari suami tercintanya yang tidak akan dapat ia temui lagi dan membalikkan badannya. Setelah berbalik ia terkejut melihat bahwa putrinya sedang pingsan dan langsung menghampirinya. "Sya kamu kenapa nak...?" Dari suaranya Raka mengerti bahwa wanita parubaya ini adalah ibu Fisya yang cemas akan keadaan anaknya.
"Tante ibunya Fisya ya, sepertinya Fisya pingsan karena syok setelah melihat sesuatu. Tapi tante tenang saja dokter sudah memeriksanya dan katanya Fisya akan segera sadar." Raka yang mencoba menjelaskan keadaan Fisya.
Ibu Fisya mengangguk dan mulai memandang Raka yang baginya masih terlihat asing. "Terimakasih nak sudah mau membantu Fisya, kamu pasti teman barunya Fisya?"
Hingga suara telepon ibu Fisya berbunyi dan memecah kesunyian, tanpa menunggu lama ia langsung mengangkat telepon itu. "Ada apa nak...? Apa kalian sudah sampai."
namun tidak terdengar balasan suara hingga suara yang asing baginya terdengar, "Apakah ini dengan ibu Anta Pradana dan Kirana Sintia? Saya dari pihak rumah sakit ingin memberitahu bahwa anak anda sekarang sedang dirawat di rumah sakit Teratai karena mengalami kecelakaan dan keadaannya sekarang kritis."
Tubuh wanita parubaya itu seketika menjadi lemas seakan sudah tidak memiliki tenaga setelah mengetahui berita yang baru ia dapatkan tentang keadaan anak dan menantunya itu, hingga ia terjatuh di sebuah kursi dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.
Raka yang masih merasa bingung karena ia tidak mengerti apa yang terjadi dengan ibu Fisya mulai mendekatinya dan duduk di sebelahnya. "Tante ada apa? Kalo soal Fisya tante tenang saja dia pasti akan segera sadar." Perkataan lembut yang terdengar dari Raka membuat wanita parubaya itu mulai tenang dan mencoba menghapus air mata yang telah membasahi pipinya, namun air mata itu tidak bisa berhenti mengalir.
Clarissa yang melihat ibunya yang sedang terduduk dengan air mata yang telah membasahi pipinya langsung menghampiri ibunya. "Ibu kenapa ibu menangis? Apa yang terjadi? Kenapa kakak terbaring disini!" Suaranya terdengar sangat cemas dan kebingungan.
Wanita parubaya itu mencoba menghentikan air mata yang terus mengalir dari matanya dan mencoba mengatakan semua hal yang membuatnya merasa benar-benar hancur, "Fisya tidak apa-apa dia hanya pingsan namun ayah sudah tiada dan kak Anta dan kakak ipar kalian mengalami kecelakaan dan sekarang keadaannya kritis."
"Ibu pasti bercanda mana mungkin ini semua terjadi ..." Clarissa masih merasa tidak percaya akan semua hal yang dikatakan ibunya dan mencoba menahan air matanya.
Fisya yang mulai sadar sudah mendengar perkataan ibunya namun tidak jelas. "Ibu tadi ibu berkata apa sama Clarissa? Apa benar ayah sudah tidak ada dan apa yang terjdi dengan kakak serta kakak ipar?"
Semua pertanyaan yang dilontarkannya membuat ibunya menitipkan air mata kembali, bagi Fisya tangisan ibunya telah mengatakan segalanya. Fisya langsung bangkit dan menemui ayahnya untuk ter akhir kalinya, setelah melihat ayahnya berbaring dan telah ditutupi kain putih. Tanpa pikir panjang Fisya menghampiri ayahnya dan memeluknya. Raka yang melihat kejadian di keluarga Fisya yang baginya merupakan mimpi buruk bagi keluarga Fisya membuat matanya berkaca-kaca.
"Ibu kakak dan kakak ipar sekarang dirawat dimana?" ucap Clarissa yang tidak ingin kehilangan keluarganya kembali.
"Mereka dirawat di rumah sakit Teratai yang tidak jauh dari rumah sakit ini." ucap Wanita parubaya itu segera bangkit dari duduknya dan menghampiri Fisya yang diikuti oleh Clarissa dan Raka.
Tangis pun tidak dapat dibendung oleh ke tiga wanita itu, mereka merasa sangat kehilangan. Tiba-tiba suara telepon wanita parubaya itu berdering kembali, dan setelah selesai mengangkat teleponnya raut wajahnya semakin cemas dan tak berdaya.