The Sun Will Rise Again

The Sun Will Rise Again
part 24



Sorakan dikelas mulai terdengar, tentu saja mereka menyoraki Fisya yang terang-terangan mengungkapkan perasaannya di depan kelas melalui tulisan itu. Walau mereka telah resmi berpacaran namun tetap saja ini adalah hal baru.


"Wih..., Fisya sekarang udah terang-terangan gitu."


"Hmmm ya iya lah orang cowoknya nyaris sempurna kok. Jelas aja berani terang-terangan gitu!"


"Duhhh kalo menurut gue Raka beruntung punya Fisya yang sejak dulu keliatan cuek sama cowok kecuali Kelvin."


"Wah gimana ya Kelvin..."


"Pasti Kelvin cemburu banget nih,"


"Enggak lah secara mereka cuman sahabat!"


"Nggak ada kali persahabatan yang murni diantara cewek sama cowok."


Setelah berbagai pendapat dan ocehan terlontar dari bibir para murid di kelas Raya dan sarah berjalan mendekati Fisya yang masih berdiri di dekat papan tulis.


Fisya mencoba terus tersenyum dan menyembunyikan semua isi hatinya yang sebenarnya, namun ketika melihat wajah bahagia yang di pancarkan Raya dan Raka hatinya merasa lebih baik. Dia tau kalau hal ini akan menyakiti Kelvin namun apa daya ini demi kebaikan bersama.


"Sya ini the best babget tau nggak, apa yang kamu lakukan pasti akan sedikit mempengaruhi Kelvin. Sya tapi aku takut jika dia akan membencimu! Dengan semua tindakan yang kamu lakukan atau akan kamu lakukan itu pasti akan menyakitinya." bisik Raya di telinga Fisya.


"Nggak papa kok Ray aku siap jika harus dibenci sama Kelvin tapi aku nggak akan siap buat seseorang menderita di atas kebahagiaanku. Aku yakin Kelvin akan lebih bahagia denganmu. Suatu saat nanti dia pasti akan lebih mencintaimu dibandingkan aku." penjelasan sekaligus penegasannya.


Raya tersenyum lega juga haru dia tidak menyangka bahwa sahabatnya ini begitu baik padanya. Hal ini membuat tekatnya semakin kuat untuk dapat meluluhkan hati pria yang ia kagumi selama ini.


"Makasih ya Say kamu baik benget sama aku." ucap Raya pelan.


Fisya mengangguk dengan senyum yang masih ia pertahankan dari tadi sambil berkata "Iya nggak papa kamu juga jangan putus asa terus usaha ya... kamu jangan kecepetan terima kasih orang ini baru dimulai juga. Kelvin belum sepenuhnya percaya sama hubunganku."


"Kalian ngobrol apaan sih? Pakek bisik-bisik segalak, emang aku bukan sahabat kalian lagi?" keluh Sarah yang dari tadi tidak diajak bicara bahkan ia tidak tau apa topik pembicaraan mereka.


"Udah nanti aku beri tau!" ucap Raya sambil menarik tangan Sarah.


Raya dan Sarah berdiri tepat di depan Raka dan Kelvin.


"Woy... jangan bengong aja ngapak. Tuh lihat cewek kamu aja udah nulis gituan di papan masak nggak di jawab kek atau di peluk gitu..." ucap Raya yang mengira bahwa mungkin Fisya juga mencintai Raka seperti Raka mencintai Fisya.


Mendengar itu satu kelas riuh dan berteriak-teriak.


"Bales ngapak!"


"Kasihan tuh ceweknya di anggurin padahal udah susah-susah nulis."


"Peluk aja sono mumpung gurunya belum dateng nih..."


"Peluk, peluk, peluk..."


Kelvin yang sudah tidak tahan untuk menahan emosinya dan rasa cemburunya kali ini berteriak di dalam kelas dengan wajah datar. "Udah deh siapin aja mapel berikutnya. Ini tuh sekolah bukan tempat pacaran!"


"Apaan sih... tu bocah, kalo nggak suka diam aja ngapak. Orang yang teriak kita kok, sono cemburu... ya." teriak salah satu cewek yang ada di kelas.


Kelvin tidak lagi berkata ia berjalan menuju bangkunya tanpa memandang siapapun. Ketika ia sudah duduk di bangkunya ia hanya memfokuskan pandangannya pada Fisya entah kenapa namun rasanya matanya tidak ingin berpaling dari Fisya.


Sya sebenernya kamu tau nggak sih... aku itu suka sama kamu bukan Raya! Aku ngelakuin itu semata-mata cuman ingin buat kamu cemburu dan mengungkapkan isi hatimu padaku. Aku masih belum percaya kalau kamu lebih memilih Raka dibandingkan aku. Kenapa kamu lakuin ini! Sya ini sangat menyakitiku, rasanya hatiku tergores sedikit demi sedikit. Batinya dalam hati.


Fisya memberi isyarat yang di mengerti oleh Raka agar Raka juga membalas apa yang ia tuliskan dihadapan semua murid yang ada di kelas dan yang terpenting Kelvin melihatnya.


Dengan perlahan Raka mulai berjalan mendekati Fisya hingga mereka berdiri berhadapan dengan jarak yang sangat dekat sekitar satu telapak tangan.


Jantung Fisya mulai berdetak dengan cepat ia tidak tau kalau Raka akan mengatakan itu di dekatnya.


"Sya aku juga sangan mencintai kamu. I love you Fisya Kaila. Mungkin aku tidak pandai merangkai kata atau mungkin aku juga tidak pandai dalam meluluhkan hati wanita, tapi aku berjanji padamu bahwa untuk selamanya aku akan membantumu dan selalu mendukungmu. Aku nggak bisa buat puisi atau menyanyikan lagu untuk mengutarakan isi hatiku namun aku hanya dapat mengucapkan kata cinta di bibirku tanpa nada. Kamu adalah gadis yang berbeda dan istimewa di mataku. Aku nggak peduli dengan anggapan orang lain dengan kamu, yang aku tau kamu adalah seorang cewek yang baik hati dan yang udah buat hatiku bergetar saat bersamamu. Aku suka sama kamu sejak kita pertama bertemu, walau sikap kamu begitu cuek denganku itu malah ngebuat aku jadi semakin menyukaimu." ucap Raka yang langsung membuat satu kelas bertepuk tangan.


Raka tidak menyadari kalau dia sudah begitu banyak bicara, namun ia tidak menyesal. Apa yang telah ia katakan adalah yang sesungguhnya, walau mungkin Fisya akan menganggap ini bagian dari rencana.


Fisya masih diam terpaku dengan sosok lelaki yang masih berdiri di depanya itu, dia tidak tau kenapa dan bagaimana namun semua yang di katakan Raka terdengar sangat tulus. Seperti Raka sedang mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya.


Apa Raka masih memiliki perasaan sama aku? Tapi aku udah pernah tolak dia dulu, mana mungkin ada cowok yang mau sama cewek yang udah buat dia kecewa dan nolak dia. Tapi kata-katanya begitu tulus sampai aku merasa bersalah telah membuatnya harus berpura-pura. Jika dia masih mencintaiku pasti semua ini juga menyakitinya! Fikirnya.


Sebelum Fisya mengatakan apapun Raya mendorong Raka dari belakang yang membuat Raka menabrak Fisya untungnya di belakang Fisya ada bangku guru. Namun Raka kini begitu dekat denganya bahkan ini dapat dikatakan seperti berpelukan.


Pandangan mereka saling bertemu ia mulai tenggelam dalam pandangan bola mata Raka yang berwarna cokelat muda besar yang sangat indah itu.


"Raka Fisya apa yang kalian lakukan dikelas! Apa ini..." teriak seseorang yang telah berdiri di depan pintu kelas yang tidak sengaja melihat tragedi itu. Orang itu tak lain adalah guru yang mengajar di jam ini.


Sontak saja Raka bangkit dari dan menjauh dari Fisya, begitu juga dengan Fisya ia segera bangkit dan merapikan pakaiannya.