
"Sya kenapa kamu berhenti? Terusin ceritanya biar kita bisa cari jalan keluar buat kamu dan ngebuat orang yang udah gosipin kamu bungkam." ucap Raka.
"Enggak kok cerita aku udah selesai, kalian nggak perlu susah-susah ngebalikin nama baik aku di sekolah ini lagi pula gosip itu pasti akan hilang dengan seiring waktu." ucap Fisya sambil tersenyum.
"Wihh ada yang lagi njelasin kejadian kemarin nih nggak mau beritahu kita berdua ceritanya? Padahal kita kan juga sahabat kamu Sya. Kamu masih marah sama kita ya... gara-gara kemarin kita ninggalin kamu." ucap Raya dengan senyum yang terlihat mengejek.
"enggak aku udah maafin kalian lagipula marah terlalu lama sama sahabatkan nggak baik." ucap Fisya sambil memandang Raya dan Sarah dengan senyuman.
Jam pertama pun dimulai semua murid telah berada di kelas dan mempersiapkan pelajaran. Begitu juga dengan Fisya walau satu kelas bergantian memandangnya lalu berbisik-bisik menggosipkannya ia berusaha untuk tidak menggubris mereka.
Tak lama kemudian guru pun tiba dikelas ia menyampaikan bahwa ujian yang akan menentukan kelulusan dan nasib setiap murid akan dilangsungkan pada bulan ini, jadi setiap murid dihimbau untuk mempersiapkan semua dengan baik agar tidak akan ada penyesalan dikemudian hari. Walau nasib telah ditentukan tapi setidaknya kita hurus berudaha sebaik mungkin agar dapat memperbaiki nasib.
Setelah menyampaikan hal tersebut beliau hanya memberikan tugas dan pergi karena sedang ada rapat yang membahas tentang ujian yang akan dilaksanakan dalam bulan ini.
Karena guru tidak ada dikelas keadaan kelas pun tidak terkendali para murid bergosip, tidur, bikin video, kejar-kejaran dan main bola di dalam kelas. Tentu hal ini sudah biasa terjadi saat tidak ada guru yang mengendalikan keadaan kelas walau ada ketua kelas itu tidak berpengaruh bagi murid yang ada dikelas.
Mungkin hal seperti ini yang akan dirindukan oleh setiap murid, ini adalah kenangan dengan seragam putih abu-abu yang tidak akan dapat diulang. Suatu saat nanti momen seperti ini akan benar-benar menjadi sebuah cerita yang akan terus dikenang oleh setiap muridnya.
Jam istirahat tiba semua murid berhamburan menuju kantin untuk mengisi perut yang mulai terasa lapar. Berbeda dengan Fisya ia tidak pergi ke kantin begitu juga dengan Raka dan Kelvin yang memutuskan untuk tetap di kelas menemani Fisya.
Berbeda dengan Raya dan Sarah mereka seakan telah memutus tali persahabatan dan tidak memperdulikan Fisya, mereka hanya berpura-pura masih menganggap Fisya adalah sahabat mereka. Ketika Raya akan pergi dari kelas dan mulai melangkahkan kakinya keluar Fisya menarik lengannya.
"Ray aku ingin bicara sama kamu bisa? Sepertinya ada kesalah pahaman diantara kita,..." ucap Fisya sebelum ia dapat melanjutkan perkataannya Raya tiba-tiba membungkam mulut Fisya yang membuatnya terbelalak melihat tingkah Raya padanya.
Mereka berhenti di teras atas yang berada di lantai tiga, Fisya tidak tau apa yang akan dikatakan oleh Raya sampai mengajaknya berbicara empat mata disini.
Raya membuka pembicaraan, "Sya kita udah sahabatan lama dari kelas VII (tujuh) SMP, tapi kayaknya kamu nggak benar-benar kenal sama sahabat-sahabat kamu. Kamu itu nggak peka dan kamu itu egois, kamu nggak pernah kan mikirin perasaan sahabat kamu!"
"Apa maksudmu Ray aku nggak ngerti," ucap Fisya yang langsung disahut oleh Raya.
"Udahlah Sya nggak usah sok lugu, selama ini kamu emang nggak nyadar udah nyakitin hati ketiga sahabat kamu? Pasti kamu nggak nyadar, kamu udah beri harapan sama Kelvin dan Raka. Dan dengan itu kamu juga udah nyakitin aku! Selama ini aku mencintai Kelvin tanpa sepengetahuan kalian aku memendam perasaanku sejak dulu sebelum Riska mengisi hati Kelvin. Aku juga pernah mencoba misahin Riska sama Kelvin tapi gagal dan akhirnya aku memutuskan untuk memendam dalam-dalam perasaan ini, tapi eh nggak taunya Riska sendiri yang bikin ulah terus ngebuat hubungan mereka hancur dan hal itu membuat hatiku mulai berharap kembali pada Kelvin," curhat Raya dengan mata yang berkaca-kaca ia mengambil nafas dan mulai melanjutkan perkataanya. "Dan kamu tau nggak kalo selama ini Kelvin suka sama kamu entah dia menyadarinya atau nggak tapi aku bisa jamin seratus persen kalo dia suka sama kamu, masalahnya sampai saat ini aku masih mencintainya dan itu tidak dapat aku pungkiri. Walau sebenarnya aku rela kalo dia sama kamu tapi semakin kesini aku ngelihatnya kamu malah nyakitin dia yang ngebuat aku nggak tahan dengan sikap kamu Sya!"
Fisya benar-benar tidak menyangka bahwa selama ini dia telah menyakiti hati ketiga sahabatnya itu, ia tidak ingin lebih menyakiti mereka dan ia juga nggak ingin jadi egois. Fisya menahan air matanya dan berusaha mengambil keputusan sebaik mungkin namun entah kenapa hatinya terasa sakit dan ia tidak dapat mengambil keputusan apapun saat ini.
"Ray aku boleh minta waktu untuk mutusin semua ini, aku benar-benar nggak ada niat untuk nyakitin kalian. Aku nggak akan nyakitin kalian lagi aku juga nggak akan egois dalam hal ini." ucap Fisya dengan air mata yang mulai menetes namun ia langsung mengusap air mata itu sambil berlari dan pergi dari sana.
Ketika Fisya sampai dikelas ia melihat Raka dan Kelvin yang masih duduk di bangku mereka dengan santai menunggunya dan mereka menatap Fisya dengan senyuman. Fisya tidak mengatakan apa-apa hanya tersenyum tipis pada mereka dan segera merapikan tasnya karena bel pulang telah berbunyi.
"Sya nanti aku nebeng ya... hari ini aku nggak bawa motor lagipula rumah kita kan nggak jauh-jauh banget." ucap Kelvin sambil berjalan disamping Fisya yang diikuti oleh Raka di belakangnya.
Fisya tidak mengatakan apa-apa untuk beberapa saat dan memandangi Raya yang berada di depanya. Baiklah mungkin ini saat yang tepat untuk mengatakan sesuatu pada Kelvin dan nggak bersikap egois tapi dewasa, ucapnya dalam hati.
"Iya nggak papa kok, sebagai balas budi aku ke kamu karena dulu aku kan pernah nebeng juga sama kamu." ucap Fisya dengan senyum untuk menyembunyikan kebimbangannya.
Kelvin pun meminta kunci motor Fisya dan mengambil motor Fisya dari parkiran, setelah itu mereka melaju dengan kecepatan sedang. Karena terlalu Menikmati segarnya udara membuat Fisya tidak sadar kalau Kelvin membawanya ke pantai bukanya langsung pulang.