
Entah kenapa tapi ekspresi malas Kelvin membuat Fisya tidak enak dan merasa bahwa dirinya telah bersalah. Suasana menjadi canggung tidak ada yang berbicara lagi hingga tiba-tiba bel masuk berbunyi.
Raya yang tau bahwa memang Kelvin memiliki perasaan yang terpendam, bahkan mungkin Kelvin sendiri tidak menyadarinya. Membuatnya mengerti betapa sakitnya perasaan Kelvin saat ini, ia mencoba mencairkan suasana canggung diantara mereka. "Eh bel masukknya udah bunyi nih...gimana kalo kita masuk kelas."
Sarah yang juga memiliki pendapat sama dengan Raya juga memiliki untuk mendukung pendapat sahabatnya itu agar suasana tidak semakin canggung. "Iya ayuk balik ke kelas..."
Fisya yang masih merasa tidak enak dengan Kelvin pun hanya mengangguk dan mulai berjalan menuju kelas yang diikuti oleh para sahabatnya begitu juga dengan Raka.
Namun Kelvin tidak beranjak dari kursi yang masih ia duduki di kantin dan hanya memandangi kepergian sahabat-sahabatnya yang mulai menghilang, yang membuatnya mulai mengalihkan pandangannya dan menundukkan kepalanya.
Tiba-tiba seseorang menggebrak meja yang berada di depan Kelvin. "Prak....." Hingga membut Kelvin mengangkat kepalannya karena merasa terkejut dan langsung memandang seseorang yang telah melakukan itu yang tak lain adalah Dio salah satu adik kelasnya yang merupakan anggota OSIS.
" Apan, mau nanya soal program OSIS? Ngak usah pakek ngebrak-ngebrak meja kali!"
Mendengar suara Kelvin membuat Dio diam sesaat, karena menurutnya saat ini suasana hati kakak kelasnya itu sedang tidak dalam keadaan baik. Namun ia berusaha berbicara dengan Kelvin walau dalam keadaan yang agak ketakutan dan membuat suaranya terdengar bergetar. "Kak aku sebagai adik kelas yang baik, aku kesini cuman mau beritahu kakak kalau kakak ditawari masuk dalam tim basket sekolah kita..."
Suaranya terhenti sebentar karena kehabisan nafas di depan kakak kelasnya itu. "Jadi kakak mau nggak, ini semata-mata cuman buat memenangkan lomba yang akan dilaksanakan sebentar lagi dan sekolah kita berharap bahwa kak Kelvin dapat ikut serta. Kami percaya dengan adanya kakak sekolah kita akan memiliki kesempatan besar dalam memenangkan lomba ini." Dio dan satu sekolah memang mengetahui bahwa Kelvin handal dalam hal basket, dulu Kelvin juga adalah mantan dari tim basket namun karena tanggung jawabnya semakin besar di dalam organisasi OSIS membuatnya memilih untuk memundurkan diri dalam tim basket.
Kelvin tidak mengatakan apapun sampai beberapa saat lalu ia mulai membuka bibirnya. "Kamu tahu kan apa alasannya aku mengundurkan diri dari tim basket, aku nggak ingin mengecewakan kalian tapi akan sulit bagiku harus membagi waktu untuk menjadi ketua OSIS dan pemain tim basket."
Walau didalam hati Kelvin ia memang ingin bisa ikut dalam tim basket lagi.
"Aku tahu kak tapi coba kakak pikirkan lagi, kakak itu adalah siswa yang berprestasi dalam pelajaran dan juga berbakat dalam bermain basket. Jadi nggak menutup kemungkinan kak Kelvin bisa membagi waktu."
"Baiklah akan aku pikirkan lagi, udah sana kamu juga kembali ke kelas jangan mbolos jam pelajaran." ucap Kelvin yang sambil beranjak dari kursi dan menuju ke kelas. Dio hanya mengangguk dan tersenyum pada Kelvin karena senang dengan keputusan Kelvin yang akan mempertimbangkannya kembali.
*****
Sesampainya di kelas Kelvin mengucapkan salam dan berjabat tangan pada guru yang sedang mengajar di kelasnya. "Maaf pak saya telat, tadi..." Sebelum selesai memberikan penjelasan guru itu langsung menyuruhnya duduk.
Fisya yang masih merasa nggak enak sama Kelvin menjadi tidak fokus terhadap pelajaran dan membuatnya terlihat sangat gelisah. Ternyata tingkah Fisya yang tidak seperti biasanya di ketahui oleh gurunya. "Fisya... kamu sakit? Kalau sakit mending ke UKS aja!" Yang membuat satu kelas memandangi Fisya.
Fisya pun terkejut, "Eh enggak, enggak pak saya cuman lagi agak kecapekan aja kok." Kelvin yang dari tadi tidak memperhatikan Fisya kini melirik Fisya secara diam-diam untuk memastikan bahwa sahabatnya itu baik-baik saja. Entah kenapa hati aku ngerasa gelisah dan khawatir kalo setiap aku tahu Fisya sedang sakit atau dalam kesulitan. Batinnya.
Raka langsung memegang jidat Fisya dan memastikan bahwa gadis yang ia cintai tidak apa-apa. Fisya hanya diam saat mengetahui tindakan Raka padanya, karena baginya mungkin ini hanya perhatian sebagai seorang teman yang dibalas senyuman manis Fisya pada Raka. "Udah nggak usah khawatir aku nggak papa kok." Namun keadaan ini malah membuat Kelvin semakin sebal dengan tingkah Raka pada Fisya yang seakan adalah teman dekat bahkan malah lebih kayak pacarnya aja.
Saat waktu pulang tiba Fisya segera menuju ke parkiran dan mengambil motornya untuk segera bergegas pulang, namun ketika ia mencoba menyalakannya motornya nggak nyala. "Ya ampun ngapain sih nih motor pakek nggak nyala lagi, padahal aku mau segera jenguk ayah. Mau bareng siapa... Raya sama Sarah udah pulang duluan terus Kelvin juga masih marah sama aku deh kayaknya, jadi pasti dia udah pulang duluan."
Raka yang melihat Fisya sedang berusaha menyalakan motornya sejak tadi mulai menghampiri Fisya. "Sya motor kamu mogok ya? Sini biar aku benerin, aku ngerti kok sedikit-sedikit tentang mesin jadi kamu tenang aja."
"Aduh nggak usah di perbaiki sekarang masalahnya aku mau segera mengunjungi ayah karena entah kenapa perasaan aku nggak enak. Boleh nggak kalo aku nebeng anterin ke rumah sakit yang ada di dekat rumahku?" Perasaan Fisya yang mulai nggak enak dan khawatir dengan keadaan ayahnya.
"Ya udah ayok, eh tapi tunggu dulu deh aku kan nggak tau rumah kamu apalagi rumah sakit yang berada di dekat rumah kamu Sya." ucap Raka.
"Iya maaf aku lupa belum kasih tau kamu rumah aku, kalau gitu nanti aja sama perjalanan." ucap Fisya yang langsung mecabut kunci motornya dan menaiki motor Raka.
Di sisi lain ternyata Kelvin belum pulang dan dari tadi masih memperhatikan Fisya dari kejauhan tanpa diketahui oleh Fisya. Saat melihat kejadian tadi Kelvin mengira bahwa Fisya memiliki perasaan dengan Raka dan mungkin mereka udah jadian tapi diam-diam, karena tadi Kelvin tidak dapat mendengar pembicaraan mereka. Kini Kelvin bergegas pulang dengan wajah yang terlihat suram, tanpa dia sadari matanya mulai berkaca-kaca. Dia mulai mengingat kembali masa-masa dimana dirinya dan Fisya selalu bersama.
*****
Ketika telah sampai di rumah sakit Fisya turun dari motor Raka. "Makasih ya, udah mau nganterin aku, Kapan-kapan aku bals deh kebaikan kamu ini."
Raka tersenyum jahil dan berkata, "Udah nggak papa sebagai seorang teman ini udah kewajiban kok, gimana kalo pas lomba basket nanti kamu lihat dan jangan lupa beri aku semangat hahaha..."
Sebelum dapat menjawab Raka Fisya berlari masuk ke dalam rumah sakit dan meninggalkan Raka. Air matanya mulai menetes tanpa ia sadari yang telah membasahi pipinya.