
*****
Hari ini adalah waktu yang benar-benar ditunggu oleh anak-anak tim basket sekolahku, setelah berlatih hari ini adalah waktunya mereka membuktikan setelah tahun kemarin kalah dari salah satu sekolah favorit yang ada di kota ini yang merupakan saingan terberat sekaligus musuh bebuyutan sekolahku.
Jadi karena fisya memang tidak ingin telat atau tertinggal pertandingan dan tidak mendapatkan tempat duduk ia memutuskan untuk berangkat lebih awal dari sebelumnya.
"Bu, Fisya berangkat dulu ya!" Ucap Fisya sambil bersalaman dan mencium pipi ibunya.
"Ada apa kak? buru-buru banget kelihatannya..." Sahut Clarissa yang sedang duduk dimeja makan sambil menyantap sarapannya.
"Ada dehhh kepo amat kamu, week..." Ucap Fisya dengan nada meledek dengan senyum.
"Oh iya, ibu kemarin udah dapet kerja? Terus nanti ibu udah mulai kerja? Fisya minta maaf karena ibu harus cari kerja cuman buat pendidikan Fisya sama Clarissa," Ucap Fisya.
Wanita paruh baya itu mengangguk dan mulai berkata dengan nada yang lembut, "Iya nggak papa nak, pendidikan kalian adalah tanggung jawab ibu. Fisya katanya tadi kamu mau berangkat lebih awal, ayok cepet berangkat..."
*****
Sesampainya disekolah Fisya melihat sekitar lapangan basket yang telah tertata rapi bahkan semua anak dari tim basket sekolahnya juga telah berkumpul di sana, tanpa sengaja ia melihat Kelvin yang sedang fokus mengatur strategi permainan untuk lawan, ia terus memandang lelaki yang terlihat keren dan bijaksana itu hingga Sarah dan Raya mengagetkannya dari belakang. "Dorrr..., ngelihatin siapa Sya fokus banget."
"Bukan siapa...siapa kok," Fisya menjawab dengan gugup dan langsung mengalihkan pandangannya.
"Udahlah Sya nggak usah ditutupi kalo emang suka salah satu dari mereka ngomong aja, lagi pula mereka juga suka sama kamu!" Ucap Raya dengan ketus dan perkataannya secara tidak langsung menyindir Fisya.
"Kamu juga ikut-ikutan kayak yang lain gosipin aku, padahal kamu kan udah kenal lama sama aku, seharusnya kamu juga tau kalo aku sama Kelvin itu sahabatan aku juga udah pernahkah jelasin itu, kalo untuk Raka kita juga cuman temenan walau aku tau dia suka sama aku tapi bukan berarti kita punya hubungan khusus." Ucap Fisya.
Karena hari ini ada pertandingan besar yang digelar setiap tahunya oleh sekolah jadi hari ini semua kelas tidak diberi materi yang biasa disebut jamkos. Tanpa adanya komando semua murid langsung berlari menuju lapangan dengan membawa tas sekolah mereka masing-masing dan mulai memadati lapangan bola basket walau dapat dibilang pertandingan masih cukup lama, melihat ini Raya tidak lagi berdebat denganku ia langsung meraih tangan Sarah dan mengajaknya duduk disalah satu kursi penonton yang terletak dibarisan paling depan.
"Eh Ray kita nggak ngajak Fisya? Kasihan nanti dia sendiri cari tempat duduk..." Ucap Sarah yang merasa tidak tega dengan Fisya.
"Udahlah Sar Fisya aja nggak pernah mikirin perasaan sahabatnya sendiri!" Ucap Raya sambil memandang ke lapangan basket yang sebentar lagi pertandingan akan dimulai.
"Iya sebenarnya aku udah suka sama Kelvin dari kita masih SMP dulu tapi aku nggak bilang siapa-siapa, aku tau kalo dulu Kelvin suka sama Riska terus karena itu aku pernah ngerencaniin sesuatu buat misahin mereka tapi itu gagal, jadi setelah itu aku milih mundur. Tapi aku juga nggak nyangka setelah Riska pergi dari kehidupan Kelvin rasa itu muncul lagi dan perasaan itu menjadi semakin membelenggu tapi aku juga tetep nyoba buat nahan perasaan aku karena aku ngerti sekarang ini Kelvin suka sama Fisya yang tidak lain adalah sahabat aku juga, walau mungkin Kelvin nggak sadar. Ketika aku ngelihat Kelvin kayak diberi harapan palsu sama Fisya terus Fisya seenak-enaknya jalan sama Raka, hati aku sakit Sar ngelihat seseorang yang aku sukai digituin jadi mulai sekarang kalo sampek aku ngelihat Fisya lebih care sama Raka aku akan lakuin sesuatu sama dia, dan itu akan ngebuat Kelvin benci sama dia." Ucap Raya mencurahkan isi hatinya yang telah ia pendam selama ini.
"Kamu emang mau jahatin Fisya? Tapi aku sebagai sahabat kalian juga setuju sama kamu sih Ray menurut aku Fisya emang udah terlalu jahat sama Kelvin walau aku nggak suka Kelvin yah tapi diakan sahabat kita. Aku nggak bisa bayangin jika aku ada diposisi kamu." Ucap Sarah pelan karena beberapa murid duduk disekitar mereka. Jika mereka denger itu akan berakibat buruk bagi dirinya dan Raya, ucapnya dalam hati.
*****
Disisi lain Fisya bingung harus duduk dimana, karena hampir semua kursi penonton telah ditempati dan kursi yang tersisa hanya berada di deretan pendukung lawan. Ia terus berfikir sampai pertandingan pun dimulai untungnya pertandingan itu bukan antara sekolahnya melainkan masih sekolah lain, setelah beberapa saat ia memutuskan untuk duduk di kursi yang tersisa yang berarti duduk diantara pendukung lawan.
Namun langkahnya terhenti ketika ada segerombolan tim basket yang berdiri didepannya, "Lo mau duduk disitu? tapi kayaknya lo bukan salah satu murid sekokah kami, siapa lo?" Ucap salah satu anggota tim itu.
"Udahlah biarin aja dia duduk di situ, lagi pula ini bukan sekolah kita, kayaknya dia murid sekolah ini. Oh iya gue baru pertama main ke sekolah ini lo bisa anterin gue ke toilet pria nggak, nanti gue beri lo tempat duduk deh!" Ucap salah satu anggota yang lain darin tim itu.
Fisya tidak menjawab hingga beberapa waktu sampai pria yang bertanya padanya tadi langsung menarik lengannya dengan kasar,
"Eh sakit, nggak usah pakek narik-narik lengan aku dong... maksa banget, kenal aja enggak!" Keluh Fisya sambil mencoba melepaskan lengannya dari genggaman pria itu namun hal itu tidak berhasil.
"Kamar mandinya mana? Ternyata lo bisa ngomong ya, bagus deh kalo gitu. Ayo cepetan atau mau gue tarik-tarik terus sampek nanti." Ucap pria itu dengan nada yang mengancam. Fisya tidak mengeluh kembali atau nanti dia malah akan direpotkan oleh pria ini dan tidak dapat melihat pertandingan, jadi ia memutuskan untuk mengantarkan pria itu.
Setelah selesai pria itu keluar dari kamar mandi dan mendapati Fisya masih menunggunya yang membuatnya tersenyum samar-samar.
"Oh iya tadi kita belum kenalan, nama aku Kemal Cokroaminoto biasa dipanggil Kemal." Ucap pria itu yang membuat Fisya tertawa.
"Kenapa lo ketawa? Ngeledek gue atau mau ngejek nama gue!" Ketus Kemal.
"Bukan gitu, aku nggak nyangka aja cowok cool kayak kamu berani bilang nama lengkap kamu yang terkesan nggak sekeren kamu gitu sih..." Ucap Fisya yang masih sambil tertawa.
"Hmmm udah nanti aja gue jelasin sambil duduk, lo kan udah nganter gue ke toilet jadi gue juga akan buat lo dapet tempat duduk yang khusus. Ayok," Ucap Kemal sambil menggenggam pergelangan tangan Fisya lagi namun kali ini genggamanya tidak kasar dan tidak membuat Fisya kesakitan.