
Fisya sebenarnya ingin menyusul Kelvin karena ia khawatir dengan sahabat sekaligus pria yang ia cintai itu, namun ketika Fisya mulai melangkahkan kakinya Raya mencegahnya.
"Biar aku aja Sya yang nyusul Kelvin, kamu disini aja sama Raka dan Sarah. Lagipula dengan begini aku akan lebih dekat dengannya." ucap Raya sambil langsung berlari menyusul Kelvin. Fisya pun berhenti dan mematung sesaat setelah menganggukkan kepala pada Raya.
*****
Ketika Raya telah menemukan Kelvin dan melihatnya sedang menggenggam sebuah pot plastik kecil yang berada di dekat perpustakaan, Raya sontak saja menarik lengan Kelvin karena ia tidak mau ada kekacauan apalagi itu akan melibatkan Kelvin seseorang yang menjadi dambakan hatinya.
"Apa yang mau kamu lakukan! Jangan banting pot itu nanti bisa panjang masalahnya kalo tau guru! Saran aku kamu harusnya mencoba ngelupain Fisya, dia nggak pastes buat kamu! Apalagi sebagai sahabatnya kamu juga harus berusaha bahagia dengan kebahagiaan Fisya.
Aku bukannya sok tau, tapi aku emang tau kalo sebenarnya kamu punya perasaan kan sama Fisya walau kamu tutup-tutupi itu terlihat jelas dengan prilaku kamu sama Fisya." ucap Raya sambil langsung menarik lengan Kelvin dan membawanya ke dekat Kamar mandi dimana tempat itu sepi saat jam-jam akan masuk seperti saat ini.
Kelvin hanya terdiam dia benar-benar tidak menyangka kalau ada sahabatnya yang mengetahui perasaannya pada Fisya padahal Fisya sendiri tidak mengetahui itu.
"Kalau kamu aja bisa ngerti isi perasaan aku kenapa Fisya enggak? Apa selama ini aku kurang perhatian sama dia? Kenapa Fisya lebih pilih Raka padahal mereka baru kenal, menurut kamu apa yang nggak aku miliki dari Raka samapai Fisya lebih milih dia! Apa Ray apa..." ucap Kelvin yang mengeluarkan unek-uneknya.
Raya hanya menggelengkan kepala lalu menunjukkan ponselnya pada Kelvin dimana disana ada dua foto yang terlihat kemesraan antara Raka dan Fisya. Foto itu sebenarnya adalah foto yang ia ambil ketika Fisya akan terjatuh dan Raka menangkapnya yang tak lain berlokasi di dekat gerbang sekolah, di dalam foto-foto itu memang terlihat jelas dimana Raka memeluk Fisya yang terlihat sedang menikmati waktu bersama.
"Vin mereka itu emang saling suka deh kayaknya dari dulu... mungkin pas Fisya nolak Raka waktu itu cuman gara-gara dia gengsi kalo nggak tuh buktinya mereka sekarang jadian. Sebenarnya aku juga turut senang tapi di sisi lain aku juga sedih ketika ngelihat kamu yang selama ini memendam perasaan sama Fisya harus mundur dan kalah begitu saja." ucap Raya yng berusaha memprovokasi Kelvin agar ia membenci Fisya dan dengan begitu Kelvin tidak akan mendekati Fisya lagi. Maaf Sya aku ngelakuin ini biar tujuan kita berhasil, terima kasih Sya ini semua juga berkat kamu! Batin Raya.
Kelvin pun terbelalak saat memandang foto-foto itu apalagi dengan ditambah penjelasan dari Raya yang membuat hatinya semakin sesak dan sakit. Ia mengepalkan telapak tangannya untuk menahan semua amarahnya dan menggigit bagian bawah bibirnya agar ia tidak mengatakan perkataan yang tidak pantas ia ucapkan apalagi saat ini ada Raya.
"Ini ponsel kamu, makasih udah beri tahu aku. Tapi bagaimanapun aku sudah menjalin persahabatan dengan Fisya sejak lama jadi akan lebih baik aku menanyakan ini semua padanya." ucap Kelvin meninggalkan Raya dengan langkah panjangnya yang membuat Raya tidak dapat menyamakan langkahnya apalagi mengikutinya.
Raya terus berusaha menyamai langkah Kelvin tapi itu sia-sia, lalu ia berteriak. "Vin tapi Fisya udah ngianatin persahabatan kalian dengan tidak berkata jujur sebelum mengambil langkah ini, ngapain kamu masih mau nanya dan klasifikasi sama Fisya."
"Seburuk-buruknya dia, dia itu sahabat kita! Dia juga nggak sepenuhnya salah." ucap Kelvin mempercepat langkahnya agar Raya tidak mengikutinya lagi.
*****
"Sya apa semua ini kamu lakuin karena Raya? Terus Raka kamu juga tau semua ini?" tanya Sarah yang tidak percaya kalau akhirnya Fisya mengambil keputusan ini, dia semakin yakin bahwa semua ini ada hubungannya dengan Raya apalagi kemarin mereka berbicara empat mata.
"Apa kalian berdua melakukan kesepakatan?" tanya Sarah kembali.
"Sya..."
"Hmmm... iya ada apa Vin?"
"Aku butuh penjelasan dari kamu!"
"Tapi semuanya kan udah jelas, kamu butuh bukti?"
"Udahlah kesini aja ini privasi kita!"
Fisya pun mendekat dan menghampiri Kelvin dengan detak jantung yang semakin cepat, ia benar-benar gugup sampai ia menelan ludahnya dengan susah payah.
Tanpa fikir panjang Kelvin menarik lengan Fisya dan membawanya ke taman yang berada di belakang kelas mereka.
"Sya... aku nggak percaya kamu sejahat ini sama aku! Seharusnya kamu tau apa yang aku rasakan, oke mungkin semua ini bukan sepenuhnya salah kamu tapi salah aku!" ucap Kelvin membuka pembicaraan dan membuat detak jantung Fisya tambah tak karuwan.
"Vin... aku... aku" jawab Fisya gugup.
"Udahlah, kamu nggak perlu bicara!" ucap Kelvin sambil mendekati Fisya dan membungkam bibir Fisya dengan jari telunjuknya.
Fisya mematung seketika disaat Kelvin terang-terangan memeluknya disana. Fisya dapat merasakan detak jantungnya bertambah cepat, oksigen di sekitarnya seakan menipis, dan pipinya memerah di tambah dengan hembusan nafas Kelvin yang sangat terasa di lehernya. Hal ini tidak pernah ia rasakan, Kelvin juga tidak pernah bertindak seperti ini hingga membuatnya tidak bisa berkata-kata.
"Sya... apa kamu nggak ngerasaain sesuatu yang berbeda saat kamu dekat denganku? Apa kamu tidak dapat mendengar detak jantungku yang semakin cepat saat berada di dekatmu? Apa kamu tidak mengerti dengan semua tingkahku padamu selama ini? Kenapa Sya, Kenapa," ucap Kelvin kembali setelah menghirup beberapa oksigen, "Ini memang salahku! Aku tidak mengungkapkan dan mengutarakan apa yang aku rasakan selam ini! Aku memang bodoh... Aku memang pengecut... Ini semua aku lakuin agar tidak ada yang berubah dengan persahabatan kita! Aku udah usaha buang jauh-jauh perasaan ini tapi itu semua sia-sia, semakin aku menjauh semakin besar perasaanku."
Fisya berusaha melepaskan pelukan Kelvin dan mendorong bahu Kelvin yang membuat Kelvin melepaskan pelukanya pada Fisya.
"Cuku Vin! Cukup..." ucap Fisya dengan air mata yang sudah mulai keluar dari pelupuk matanya.
Fisya sangat bahagia akhirnya dia mengetahui bahwa selama ini Kelvin juga memiliki rasa padanya tapi ini sudah terlambat! Kini Fisya sudah tau isi perasaan Raya dan dia telah terlanjur memberikan harapan pada Raya untuk membiarkan Kelvin bisa bersamanya.
"Kenapa kamu baru bilang sekarang! Kenapa..." ucap Fisya sambil memukul-mukul dada Kelvin sebagai ungkapan emosinya.