The Sun Will Rise Again

The Sun Will Rise Again
part 18



Entah kenapa Kelvin membawa Fisya ke pantai ini. Pantai dimana dulu dirinya dan Kelvin sering bermain disini untuk menghilangkan lelah meraka dan saling mencurahkan isi hati masing-masing bahkan ketika berada disini mereka sering lupa waktu.


Pantai ini adalah tempat pertama aku bertemu dan Mengenal Kelvin, itu sebelum kita masuk SMP atau lebih tepatnya ketika kita masih berada di sekolah dasar. Ketika keluargaku dan Kelvin sama-sama berlibur di pantai ini, namun kami mulai akrab dan menjadi sahabat saat kami sudah berada di SMP.


Kami memiliki selera yang tidak jauh berbeda, kami sama-sama menyukai pantai ini karena disini kami dapat melihat sunset yang begitu indah dan mempesona. Sebenarnya tempat ini juga yang telah membuatku mulai tertarik pada Kelvin sampai aku memiliki perasaan padanya. Disini juga aku dan Kelvin sering bercanda ria, saling mengejek, dan berbagai kekonyolan lainya pernah kami lakukan di tempat ini. Tempat ini memiliki banyak arti dan kenangan dengan cinta pertamaku yang tak lain adalah sahabat dekatku.


"Sya ayok turun kamu nggak kangen sama tempat ini? Aku ngajak kamu kesini biar kita bisa melihat sunset bersama seperti yang dulu kita lakukan, kan udah lama juga kita nggak kesini." ucap Kelvin sambil langsung menarik lengan Fisya.


Fisya masih enggan untuk membuka bibirnya sampai Kelvin menyuruhnya duduk di tempat favorit mereka dulu, karena dari sinilah mereka dapat melihat sunset dengan begitu indah ditambah adanya suara ombak yang begitu menenangkan.


"Sya kamu dari tadi diem muluk, ngomong ngapak aku beliin munim dulu ya..." ucap Kelvin yang langsung pergi untuk membeli minuman.


Ketika melihat Kelvin pergi Fisya teringat dengan perkataan Raya yang seakan terngiang-ngiang di telinganya, apakah aku harus merelakan Kelvin yang tak lain adalah cinta pertamaku sekaligus sahabat dekatku untuk sahabatku yang lain.


Kelvin pun datang dengan membawa dua buah kelapa muda. Fisya masih melamun sampai Kelvin mengagetkanya dari belakang yang membuat Fisya berteriak seketika.


"Ea kaget ya... makanya jangan ngelamun aja, ini minum biar lebih seger." ucap Kelvin.


Fisya tidak menolak ia langsung meminum air dari kelapa muda itu sampai habis. Melihat tingkahnya Kelvin tertawa dan mencubit hidungnya.


Melihat Kelvin ketawa membuat Fisya malu karena pasalnya hari ini ia benar-benar lelah bukan lelah secara fisik namun secara hati dan fikiranya yang bingung untuk mengambil keputusan.


"Vin menurut kamu Raya gimana?" tanya Fisya yang membuat Kelvin mengerutkan keningnya.


"Emang kenapa Sya? Raya kan baik-baik aja setahu aku..."


"Aku juga tau Vin Raya nggak kenapa-napa, maksud aku menurut kamu dia orangnya gimana?"


"Umm... baik, pengertian sama teman, terus nggak pecicilan, tapi kayaknya aku ngerasa sekarang dia agak berubah deh jadi sensitif gitu sama kamu terus pandangannya sama aku jadi tajam banget kayak paku."


Fisya tidak melanjutkan pertanyaanya dan memilih untuk diam karena dia takut kalau Kelvin akan curiga. Keheningan pun melanda diantara mereka sampai Kelvin memandang langit dan mulai membuka pembicaraan. "Sya kamu juga pasti ngerasa gitu kan... udahlah nggak udah terlalu difikirin lagipula sahabat kamu bukan cuma dia."


Fisya mengangguk namun tidak mengatakan apapun mata Fisya terus memandangi langit yang sekarang sudah mulai berubah warna menjadi jingga yang begitu indah bagaikan sebuah kain sutera. Fisya tau seperti halnya slangit yang begitu indah ketika sunset, namun tidak akan bertahan lama dan akan segera berubah menjadi langit malam yang gelap.


Ini sama dengan kehidupan ia percaya bahwa di dalam hidup pasti akan ada momen dimana ia bahagia dan sedih. Setiap kebahagiaan yang ada pasti akan memberi duka setelahnya, dan mungkin akan datang kebahagian baru.


Fisya pun tersenyum melihat tingkah sahabatnya yang terlihat lucu, "Alay banget... ibu aku nggak sekejam itu sampek nggak ngebolehin aku temenan lagi sama kamu gara-gara hal sepela. Udah ayok pulang..."


"Oke aku ambil motor dulu ya..."


Sesampainya dirumah Fisya, Kelvin menurunkan Fisya dan juga ikut turun setelah memarkirkan motor Fisya di teras.


"Kamu mau pulang naik kaki Vin? Terus ngapain ikut turun segalak."


"Nggak papa mau ketemu ibu kamu aja sebebtar, mau jelasin tadi kita pergi kemana daripada nanti kamu kenak marah ibu kamu."


"Enggak ibu aku baik kok, sana pulang udah mau gelap nih nanti bisa-bisa bukan aku yang kenak marah tapi kamu..."


"Ya udah deh kalo gitu aku pulang, titip salam buat ibu sama adek kamu,"


"Eh Vin beneran kamu jalan kaki..." teriak Fisya karena Kelvin sudah mulai berjalan keluar dari herbang rumah Fisya.


"Iya," sahut Kelvin yang masih dapat mendengar perkataan Fisya.


Hari sudah gelap Fisya kini berada di dalam kamarnya setelah mekan dan membantu ibunya mencuci piring.


Ia masih bimbang harus mengambil keputusan apa, ia mempertimbangkannya dengan begitu hati-hati. Ia ingat perkataan Kemal padanya dan menurutnya Kemal benar tapi demi persahabat Fisya kini mengambil keputusan untuk menjauhi Kelvin dan membiarkan Raya yang berada dekat dengannya.


Ini demi persahabatan kalian Sya kamu harus bisa ikhlas, dengan begini ia tidak akan menyakiti hati sahabat-sahabatnya lagi. Kamu pasti bisa lagi pula kamu kan juga nggak tau Kelvin suka atau enggak sama kamu! Udah nggak usah berharap Sya. ucapnya dalam hati


Fisya masih tidak dapat tidur walau sudah membulatkan tekadnya untuk menjauhi Kelvin. Oleh karena itu Fisya meminum satu kaplet obat kapsul yang langsung ia telan dengan air, obat itu tak lain adalah obat tidur.


Butuh beberapa menit barulah obat itu bekerja jadi sambil menunggu reaksi obat Fisya mencoba memikirkan sesuatu yang menyenangkan namaun itu gagal dan malah membuatnya bimbang lagi. Jadi ia menyiapkan buku pelajaran dan membaca beberapa materi yang akan ia pelajari besok di sekolah.


Namun entah kenapa obat itu tidak kunjung bereaksi dan membuatnya mengantuk jadi ia mencoba mencari sesuatu di dapur untuk dimakan karena ayahnya dulu pernah mengatakan bahwa ketika perut kita kenyang maka kita akan mengantuk.


Ia membuka kulkas dan menemukan sepotong roti dan satu gelas susu tanpa berfikir lagi ia langsung meminumnya, setelah habis dan ia juga telah merasa kenyang ia kembali ke kamarnya untuk segera berbaring dan itu berhasil membuatnya tertidur.