The Sun Will Rise Again

The Sun Will Rise Again
part 19



*****


Fisya kali ini berangkat lebih cepat dari biasanya, namun dia sendiri tidak menyadari kalau dirinya kali ini berangkat terlalu awal bahkan ketika ia memasuki gerbang sekolah masih sangat jarang sekali murid yang berkeliaran disana apalagi dengan kelasnya disana malah belum ada murid satu pun.


Fisya berjalan pelan menuju bangkunya dan duduk disana. Ia terus menatap bangku yang berada di depannya yang tak lain adalah bangku dari Raya, ia benar-benar bimbang harus bagaimana. Namun ia harus bisa melakukan apa yang telah ia putuskan kemarin sebelum dirinya menutup mata dan tertidur, ini adalah yang terbaik.


Sesaat setelah ia sadar dari lamunanya Raka tiba disana dan duduk di bangkunya yang berada di samping Fisya. Keheningan melanda mereka berdua sampai akhirnya Fisya membuka pembicaraan, "Ka aku mau ngomong sama kamu, sebenarnya aku... aku,"


Sebelum menyelesaikan ucapanya Raka memotongnya. "Udah nggak usah ragu-ragu kayak sama siapa aja, aku pasti bantu kok kalo kamu butuh."


Fisya mulai melanjutkan perkataanya setelah meresa lebih yakin kalau Raka akan dapat membantunya, ia menceritakan semuanya pada Raka tapi tidak tentang perasaanya dan ia meminta bantuan pada Raka. "Jadi aku ingin kita pura-pura udah jadian, maksud aku kita pura-pura pacaran di depan Kelvin. Aku ingin agar Raya mendapatkan kesempatan untuk bersama Kelvin."


Raka mendengarkan dengan seksama dan memikirkannya dengan hati-hati karena baginya ini tidak mudah untuk berpura-pura di depan Kelvin dan menyakiti hatinya. Raka tau kalau sebenarnya Kelvin sangat mencintai Fisya karena dirinya juga seorang laki-laki dan ia juga mencintai Fisya jadi dia paham betul tentang perasaan yang di pendam Kelvin.


"Ka gimana kamu mau nggak? Aku nggak maksa kok kalo kamu nggak mau, nggak papa pasti ini sulit buat kamu apalagi kalian sekarang udah akur." ucap Fisya sambil menundukkan kepalanya.


"Sya aku siap bantu kamu, tapi aku boleh tanya sesuatu sama kamu?"


Fisya mengangguk dengan senyum.


Raka pun melanjutkan ucapanya, "Kamu nggak suka kan sama Kelvin? Kalau kamu punya perasaan sama dia mending kamu jangan ambil langkah ini, ini bisa nyakitin hati kamu." Fisya terdiam sesaat dan memejamkan matanya ia mulai mengingat Raya kembali yang membuatnya menggelengkan kepalanya, walau sebenarnya apa yang dikatakan Raka benar adanya.


Akhirnya Raka setuju untuk menolong Fisya yang berarti menjadi pacar pura-pura nya.


Saat hampir semua murid di kelas telah datang dan memadati kelas Raka dan Fisya berdiri di depan papan tulis dengan berpegangan tangan yang membuat heboh satu kelas, namun keadaan dapat kembali kondusif ketika Kelvin menggebrak mejanya dan semua pandangan pun beralih padanya untuk sesaat.


"Ka Sya apa maksudnya kalian berdiri disitu terus gandengan lagi?" tanya Raya. Fisya langsung memandang Raya sambil tersenyum.


Raya mengerti berarti Fisya telah memutuskan untuk menjauh dari Kelvin dan memilih Raka. Hatinya begitu senang sampai rasanya ia benar-benar ingin terbang, kini dirinya tidak memiliki penghalang dan dengan leluasa ia dapat mendekati Kelvin.


Raka mulai berbicara karena ia tidak ingin ada kekacauan di kelas. "Begini semuanya sebenarnya kami berdua ingin memberikan kabar bahagia bahwa mulai hari ini kami resmi telah menjalin hubungan sebagai seorang pasangan kekasih atau lebih tepatnya pacar." ucap Raka menambahkan, "Jadi kalian tidak perlu bergosip lagi tentang Fisya yang memiliki setatus tidak jelas mengenai asmaranya!"


*****


Setelah guru tiba seisi kelas segera merapikan pakaian dan mengambil buku mereka agar guru tidak curiga serta memarahi mereka.


Kelvin masih enggan berbicara dia benar-benar tidak percaya bahwa Fisya kini telah menjadi pacar Raka apalagi kemarin mereka baru saja menghabiskan beberapa waktu ditempat favorit mereka. Ia menganggap ini adalah mimpi karena baginya tidak mungkin Fisya mengambil langkah ini tanpa mengatakanya terlebih dahulu pada dirinya. Kelvin terus memikirkan itu sampai terlarut dalam fikiranya hingga ia tidak menyadari bahwa guru telah tiba.


Fisya juga bingung dengan Kelvin ia tidak menunjukkan ekspresi apapun atau lebih tepatnya ekspresinya datar dan terlihat begitu dingin. Ia khawatir namun ia berusaha tidak menunjukkan perhatiannya, karena jika ia menunjukkannya pasti Kelvin tidak akan percaya bahwa dirinya telah menjalin hubungan dengan Raka.


"Kelvin dari tadi saya memperhatikan kamu, tapi kamu tetap tidak menunjukkan perhatian pada pelajaran dan materi yang saya terangkan saat ini! Kenapa pandanga kamu terlihat kosong?" ucap bu Ana.


Kelvin masih tetap tidak menunjukkan perhatiannya bahkan ia tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh bu Ana. Hal ini membuat bu Ana menghampirinya sambil menggebrak meja Kelvin, saat itulah Kelvin tersadar dari lamunannya.


"Eh ibu udah datang... apa ada yang bisa saya bantu bu?"


Bu Ana terlihat begitu marah sampai ia mengepalkan jari-jarinya dan menatap Kelvin dengan tajam, murid yang lain tidak berani melihat. "Ibu udah datang dari tadi dan udah menerangkan materi! Saya tidak habis Fikis kamu tidak fokus saat pelajaran saya! Kemana sebenarnya fokus kamu? Sampai-sampai kamu tidak menyadari keadatangan saya. Kamu dulu tidak pernah begini di jam pelajaran saya, apa setelah kamu tidak menjabat sebagai ketua OSIS kamu bisa bertindak semau kamu? Sekolah itu ada aturanya! Tapi baiklah saya akan memaafkan kamu kali ini." ucap bu Ana.


Kelvin hanya menunduk dan mulai memperhatikan materi yang sedang diterangkan oleh bu Ana.


*****


Jam istirahat tiba bu Ana juga telah keluar dari kelas namun murid yang ada di kelas masih belum keluar hanya beberapa dari mereka yang telah keluar dari kelas, sisanya merapat di bangku Fisya dan Raka. Mereka mengucapkan selamat dan memanjatkan berbagai pujian serta doa sampai semuanya keluar dari kelas dan hanya tinggal para sahabat Fisya.


Raya dan Sarah mulai menoleh kebelakang ke bangku Fisya dengan senyum lebar di wajah Raya.


"Sya selamat ya kapan kalian jadian terus nembaknya kok diam-diam sih Ka, jadinya kita sebagai sahabatnya nggak tau memon itu." ucap Raya sambil memanyunkan bibirnya. Raka yang menanggapi Raya sedangkan Fisya menghampiri Kelvin ia tidak ingin Kelvin membencinya, ia hanya ingin Kelvin sedikit menjauh darinya dan dengan begitu Kelvin akan dapat dekat dengan Raya.


"Vin maaf ya aku nggak cerita dulu sebelum ngambil keputusan ini, soalnya aku udah terlanjur cocok sama Raka jadi ketika Raka nembak aku yang kedua kalinya aku mutusin untuk nerima." ucap Fisya sambil menyatukan telapak tangannya di depan dadanya sebagai tanda permintaan maaf.


Kelvin tidak langsung menatap Fisya namun setelah Fisya selesai berbicara ia baru menatapnya. Namun ia masih tetap tidak mengatakan apa-apa dan langsung pergi begitu saja, itu memang kebiasaan Kelvin ketika ia marah ia pasti memilih untuk pergi dari masalah.