
Sepasang pria dan wanita itu perlahan mulai membuka matanya
Mata mereka sudah terbuka, namun sepertinya mereka belum sadar sepenuhnya.
Wanita yang tampaknya adalah elf itu perlahan duduk. Dia melihat-lihat sekitar, lalu pandangannya berhenti tepat di Elisa
"Elisa....?"
Wanita itu berbicara dengan nada yang lemah
Pria yang ada di sampingnya juga tampaknya sudah sadar.
Elisa langsung memeluk mereka berdua
"Ayah.... Ibu.. "
Sambil meneteskan air mata, dia memeluk mereka berdua dengan erat
" Elisa..? Apa yang terjadi?"
"Bukankah kami seharusnya sudah mati?"
Elisa berhenti memeluk mereka lalu kembali berdiri sambil mengusap air matanya
"Ini... Tuan raja iblis yang telah menghidupkan kalian bedua kembali"
Mata keduanya langsung melebar
"Apa!? Iblis!?"
"Apa yang kau lakukan Elisa? Apa kau membuat perjanjian dengan iblis?"
"Itu... Aku berjanji padanya kalau dia bisa menghidupkan ayah dan ibu maka aku akan tunduk padanya dan juga.. "
Ibunya Elisa langsung berdiri dan mencengkram kedua bahunya Elisa
" Dan juga apa!? Kau tidak boleh membuat kesepakatan dengan iblis, Elisa!! "
Desperado maju ke depan dan masuk ke percakapan mereka
" Sayangnya dia sudah membuat kesepakatan denganku, jadi dia tidak bisa membatalkannya"
Kedua orang tua Elisa langsung bergerak menuju Desperado dan bersujud di depannya
"Tuan Raja Iblis yang terhormat, tolong buatlah kami mati kembali lalu biarkanlah Elisa hidup dengan bebas"
Keduanya mengatakan hal yang sama secara bersamaan
Apa? Kebebasan? Aku sama sekali tidak merebut kebebasannya, aku hanya ingin mengambil busurnya
Albert tampaknya menjadi sedikit marah
"Dasar K- "
Desperado langsung menghentikannya
" Jangan Albert! Sepertinya ada salah paham disini. Kalian berdua berdirilah dulu"
"Maafkan saya tuan"
"Tidak masalah"
Kedua orang tua Elisa segera berdiri seperti perintah Raja Iblis
"Baik mari kita luruskan masalah ini. Pertama, aku sama sekali tidak meminta dia tunduk padaku apalagi merenggut kebebasannya"
"Eh? Tapi tadi dia bilang.. "
" Tidak tidak, aku sama sekali tidak memintanya, dia sendirilah yang menawarkan hal itu. Hal yang sebenarnya aku inginkan adalah busur miliknya"
"Apa? Jadi itu tentang busurnya. Duhh Elisa harusnya kau mengatakan hal itu daritadi"
"Aku belum menyelesaikan kalimatku tapi ibu sudah menghentikanku"
"I-Itu benar... Tadi aku hanya panik saja hahaha"
"Jadi tuan raja iblis hanya menginginkan busurnya saja ya?"
"Umu.. Itu benar sekali"
"Kalau begitu, Elisa berikanlah busurnya"
"Itu tidak perlu, karena busurnya sudah ada padaku"
"Kalau begitu kami mohon maaf karena tiba-tiba saja memohon pada anda padahal belum mendengar ucapan Elisa sampai selesai"
"Yah... Itu tidak masalah sama sekali"
"Itu tidak bisa, aku sudah berjanji maka aku harus menepatinya"
"Elisa, apa yang kau pikirkan!?"
"Tapi.... "
" Padahal kami baru saja dihidupkan kembali, namun kau ingin meninggalkan kami begitu saja? "
"Hei kalian berdua, jangan seperti itu. Tidak sopan di depan tuan raja iblis"
"Ah, maafkan kami tuan raja iblis"
"Hahaha... Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Yah... Aku juga tidak melarangnya untuk menjadi pengikutku, karena nantinya dunia ini hanya akan ada 1 penguasa dan orang itu adalah aku"
"Saya pasti akan membantu tuan untuk meraih hal itu secepat mungkin."
"Saya juga~"
"Umu.. Aku mengandalkan kalian"
"Kalau begitu saya juga, karena saya sudah berjanji saya pasti akan menepatinya."
"Elisa! Apa kau benar-benar mau meninggalkan kami?"
Hehh... Sepertinya ini tidak akan segera selesai
"Kalau begitu, bagaimana kalau kalian saja yang ikut dengannya?"
"Eh? Apa itu tidak apa-apa? "
" Ya itu tidak masalah, lagipula nanti juga akan banyak manusia dan berbagai ras lainnya yang akan bergabung"
"Sepertinya anda tidak terlihat seperti orang jahat, justru anda baik sekali... Baiklah kami akan ikut"
"Umu... Albert, tolong ya"
"Baik tuan. Nanti aku lah yang akan mengurus hal ini, dan juga tolong panggil tuanku dengan sebutan Yang Mulia"
"Baiklah, kami mengerti"
Desperado berbalik dan memberi kepada semua orang
Semua orang perlahan melayang di udara, kemudian terbang semakin tinggi
Mereka semua terbang kembali ke wilayah kastil iblis.
Setelah sampai, mereka mendarat di daerah pemukiman penduduk
Ini pertama kalinya aku kesini, sekalian saja aku jalan-jalan
"Tuan, anda tidak perlu repot-repot ikut mengantar mereka"
"Tidak apa-apa, sekalian aku ingin jalan-jalan"
"Baik tuan. Lalu, kenapa kau ikut juga Olivia?"
"Weeek.. Biar saja, aku mau ikut Yang Mulia"
"Oh begitu"
Albert melanjutkan perjalanannya
Di tengah jalan ada anak-anak ras iblis yang sedang bermain bersama-sama
Mereka melihat Albert dan menghampirinya
"Wah..Ada tuan Albert dan nona Olivia."
"Halo anak-anak~"
"Apa kalian sedang bermain"
"Iya"
Albert sepertinya sangat ramah dengan mereka. Aku kira dia akan bersikap dingin kepada semua orang
"Apa yang kalian lakukan disini?"
"Ah, kami mengantar 3 orang ini menuju tempat tinggal baru mereka"
"Jadi begitu"
"Lalu, apakah orang yang berpakaian hitam itu juga?"
"Tidak, yang berpakaian hitam itu adalah tuan raja iblis"
"EH!? YANG MULIA!?"
Suara anak-anak itu terdengar oleh semua iblis yang ada di sekitar. Mereka dengan cepat mengambil sikap berlutut
"Salam, Yang Mulia"
Desperado sebenarnya agak terkejut dengan hal itu, tapi dia langsung bertindak cepat
"Umu... Kalian berdirilah. Aku hanya sedang berjalan-jalan"
Para iblis termasuk anak-anak tadi kembali berdiri
Desperado berjalan ke arah anak-anak itu
"Halo anak-anak"
Anak-anak itu terlihat sedikit takut ketika Desperado memanggil mereka
"Ha-Halo, Yang Mulia"
Apa aku terlihat menakutkan?
"Tidak perlu takut, aku hanya ingin bertanya. Jika ada anak-anak dari ras lain seperti manusia, elf, orc, dan ras lainnya. Apakah kalian mau bermain bersama mereka"
"Uhm, tentu saja kami mau bermain bersama"
"Itu bagus, itu bagus"
Desperado mengelus kepala 2 orang dari anak-anak itu
"Wah, Yang Mulia mengelu kepalaku, aku tidak akan mencucinya"
"Aku juga hehehe"
"Wah, kalian curang! kami juga mau"
Heheh mereka menyukainya
"Hahahah... Kalau begitu kalian berempat majulah, aku juga akan mengelus kepala kalian"
"Baik, Yang Mulia ~"
4 anak yang tersisa maju menggantikan 2 anak yang sebelumnya untuk dielus kepalanya oleh Desperado
"Yey! Kepalaku juga dielus oleh Yang Mulia"
Anak-anak itu tertawa dengan ceria. Membuat Desperado tersenyum di balik topengnya itu.
"Tuan, bagaimana dengan saya?"
"Eh?"
"Saya juga, saya juga mau~"
"Eh?"
Yaampun, apa yang mereka bicarakan?
"Sigh... Kalian ini bukan lagi anak-anak"
Desperado berkata begitu namun dia tetap bergerak ke arah Albert dan Olivia
Pertama, Desperado mengelus kepala Albert. Karena perbedaan tinggi badan, Desperado tidak bisa mengelus mereka berdua sekaligus
"Kerja bagus Albert, aku suka dengan kinerjamu, tetaplah bekerja keras"
"Mengerti, tuan"
Setelah selesai, Desperado mengelus Olivia
"Tetaplah lucu dan imut seperti ini Olivia"
"Hehehe... Baik Yang Mulia"
Acara elus kepala sudah selesai
"Baiklah sekarang mari kita lanjutkan perjalanannya"
"Baik tuan"
Albert kembali memimpin jalannya, kemudian sampailah mereka di depan rumah berwarna putih
"Disini tempatnya"
Tampaknya seperti rumah yang normal
Albert membuka rumah itu, lalu mereka masuk ke dalamnya
"Wah rumah ini bagus sekali jika dibandingkan rumah lama kami."
"Terima kasih karena telah mengizinkan kami tinggal disini, Yang Mulia"
"Umu.. Nyamankanlah diri kalian. Kalau begitu aku akan pergi"
"Baiklah, sekali lagi kami ucapkan terima kasih "
Desperado bersama Albert dan Olivia pergi meninggalkan rumah itu
Mereka bertiga kembali ke kastil bersama-sama