
Siang itu, disebuah restoran menengah di pinggir jalan utama.
Mereka semua makan siang bersama di restoran milik paman Audrey lalu mulai membicarakan suatu hal, tak lain dan tak bukan adalah mengenai keputusan Audrey sendiri.
"Kita bertemu lagi Paman." Ucap Hendry
"Owh… kalian berdua yang waktu itu."
"Jadi gimana, apa Audrey mau ?"
Jadi benar dugaan ku, ternyata pamanku sendiri, mulut embernya yang seenaknya membocorkan informasi tentangku ke orang yang baru pertama ia temui. Untung aja mereka bukan orang jahat ataupun bandit yang menyamar, gimana kalau sampai di telinga bandit pasti kelar sudah kehidupanku yang damai. Yang dipikirkan Audrey ketika mereka bercakap-cakap
Mereka berdua menjelaskan situasinya secara rinci kepada Paman, hingga akhirnya.
“Kenapa kamu tidak langsung menerimanya saja Audrey ?”
“hahhh…”
Sebenarnya Audrey sempat berfikir untuk menolak, namun ia tidak enak menolak secara langsung .jadi ia menggunakan dalih berunding lebih lanjut dengan pamannya dulu agar bisa menolak lebih baik, sopan dan tidak menyakiti perasaan mereka berdua, namun ternyata yang dikatakan mereka bahwa pamannya mendukungnya untuk menjadi petualang itu benar. Situasi telah berbalik, yang dikiranya 2 lawan 2 telah berubah menjadi 3 lawan 1, sehingga semakin kecil kesempatan Audrey untuk menolak. Walau seharusnya dia juga akan jadi seperti ini namun tak ada salahnya mencoba.
“Ta tapi paman…”
“Sudahlah terima saja, lagipula kasihan mereka sudah jauh-jauh berkelana untuk cari anggota party namun tak ketemu-ketemu.”
“Tapi bagaimana dengan Baksonya, Bukankah Paman sendiri yang mewariskan resepnya padaku.”
“Resep ?”
“Ah itu cuma resep yang sangat umum, hampir semua orang mengetahuinya.”
“Cuma saja kamu menambah bahan utamanya dengan daging Minotaur, yang mungkin hanya kamu seorang yang melakukanya.”
“Hanya karena hal itu rasanya bisa berubah sepenuhnya, juga efek samping memulihkan energi sihir dalam tubuh.”
Audrey sangat terkejut dia bahkan baru tau hal yang mencengangkan bahkan ketika 3 tahun telah berlalu, karena selama ini dia mengira bahwa resep ini adalah resep khusus yang hanya diturunkan turun-temurun.
“Pantas saja ketika kami memakannya kami merasa lebih. bertenaga dari sebelumnya.” Hendry menyela
“Sudahlah Audrey, Terima saja.” paman menegaskan kembali.
Mata Hendry dan Eliana berkaca kaca, wajahnya tersenyum, dan kepalanya mengangguk-angguk memberi isyarat kepada Audrey untuk segera menerimanya. Setelah memikirkan lebih lanjut Audrey mengeluarkan Senjata pamungkasnya.
“Tapi gimana dengan pelanggan, bukankah mereka menurutmu akan kecewa paman ?”
“Kenapa ?”
“Karena mungkin setelah aku menjadi petualang aku akan jarang sekali berjualan, atau mungkin malah berhenti dan bisa saja aku pergi keluar kerajaan bahkan kekaisaran”
“Tidak akan ada yang kecewa Audrey, aku mengerti, aku sudah hidup puluhan tahun.”
“Mereka juga mengerti, bahwa tak mungkin ada seorang penyihir sepertimu yang selamanya menjadi pedagang.”
“Mereka lebih suka kamu menggunakan kekuatanmu untuk hal hal yang lebih berguna.”
“Apalagi untuk orang berbakat seperti dirimu.”
“Ta.. tapi…”
“Setelah kau menjadi petualang pun kau bebas memilih apakah mau berhenti atau tetap berdagang.”
“Audrey… Kau sudah mempunyai banyak Pelanggan, Tapi kau belum punya satupun teman.”
“Jadi sebaiknya kau menerimanya, aku tak mau melihatmu terus-terusan mengurung diri di hutan.”
“Lagipula masih ada banyak hal yang belum kau lihat di negeri ini.”
Ketika Audrey sedang merenung memikirkan jalan mana yang harus ia pilih. Paman mulai mengobrol dengan Hendry dan Eliana.
“Lagipula dulu aku sudah pernah menjadi petualang dan kesatria kerajaan, jadi aku tau hal itu.”
“Apaaaaa!!!...” mereka semua berteriak kaget.
Bahkan Audrey juga terkejut, tak menyangka bahwa pamannya adalah orang yang sangat hebat. Ksatria kerajaan sendiri berbeda dari prajurit penjaga dan tentara pada umumnya, mereka adalah orang-orang elite yang dipilih khusus. Bahkan untuk seleksinya saja seorang petualang minimal berperingkat B senior atau mendekati A.
Memang benar selama ini Audrey tak pernah melihatnya menggunakan sihir tempur ataupun teknik berpedangnya jadi dia sama sekali tidak menyangka nya.
"Kalian tau Tragedi di istana sekitar 4 Tahun yang lalu ?"
“iya, bahkan hampir semua orang di penjuru negeri tau tentang kejadian itu.”
“Itu merupakan hari terakhir sebelum aku pensiun dan menemukan Audrey yang pingsan sendirian pada malam yang mengerikan itu.”
Selama Audrey tengah berfikir, Paman menceritakan masa mudanya kepada mereka berdua, seperti kesulitan mendapatkan party saat ingin mendaftar jadi petualang, misi yang diambil dari guild sehari-hari, hingga misi sulit untuk menaikkan peringkat sampai menjadi petualang peringkat A, menjadi Ksatria kerajaan dan lain-lain. diceritakan dengan cukup singkat dan hanya mengambil poin-poin pentingnya saja, sehingga mereka berdua sangat bersemangat sementara Audrey sendiri tengah sibuk memutar roda yang ada di kepalanya.
Dan yang paling diceritakan mendetail tentu saja Tragedi itu, Tragedi di istana kerajaan sekitar 4 tahun yang lalu. Sebenarnya Puncak dari tragedi itu bukanlah saat Audrey menghancurkan sepertiga istana dan membuat semua orang lupa, namun beberapa hari setelahnya.
Karena semua orang lupa kejadian yang sebenarnya kecurigaan pun mulai muncul. Kebetulan bagian istana yang hancur saat itu baru dibangun sekitar satu tahun sebelumnya, padahal bagian lain yang dibangun sejak puluhan tahun yang lalu masih kokoh berdiri.
Tentu saja hal itu menimbulkan kecurigaan publik, baik dari rakyat dan yang mulia raja sendiri. Bahkan Kaisar yang sebelumnya dipandang baik hati dan tidak suka ikut campur urusan internal kerajaan yang berada dibawahnya melakukan tindakan.
Kaisar mengirim surat kepada Raja Mahendra Jayanaria, Raja di kerajaan ini untuk mengusut tuntas akar masalah yang ada, akar masalah yang dimaksud tentu saja korupsi atas pembangunan bagian istana itu sendiri.
Setelah penyelidikan lebih lanjut tertangkaplah sekitar 20 Oknum Bangsawan yang terlibat korupsi di berbagai bidang, namun anehnya tidak ada satupun bukti yang menunjukkan korupsi pembangunan istana.
Karena mereka sudah tertangkap, tentu tidak dilepaskan begitu saja. Mereka akan diberi hukuman setimpal. Semua aset dan kekayaan mereka disita, gelar kebangsawanan mereka dicabut, dan mereka semua dieksekusi.
Empat dari mereka yang korupsi terbanyak di eksekusi publik, sementara sisanya dieksekusi secara tertutup.
Empat orang tersebut dieksekusi di alun-alun kota sehingga semua orang bisa melihatnya. Tidak ada kewajiban untuk melihat eksekusi tersebut namun tetap saja banyak sekali yang ingin menonton nya, meski begitu bagi yang dibawah umur 12 tahun dilarang melihat nya, bahkan mendekati alun-alun saja tidak boleh.
Walaupun mereka berempat sudah mati dan kepala sudah terpisah dari badan tapi masih ada penonton yang belum puas, para penonton tersebut rata-rata dari rakyat jelata yang menderita akibat ulah keempat orang itu.
Mereka semua menerobos barisan prajurit penjaga hingga tak ada yang mampu menahannya, merampas empat kepala yang penuh darah itu lalu menendang-nendangnya seperti bermain bola.
Kondisi alun-alun saat itu sangat berantakan, kaca dan keramik pecah, sampah dimana-mana, darah terciprat di segala tempat, isi perut dan organ dalam manusia berserakan, bau busuk semakin menyebar, tingkah laku penonton yang semakin lama semakin menggila, dan para penjaga tampak pasrah disana-sini.
"Itulah tragedi yang terjadi sebenarnya."
Mereka bertiga merinding ketakutan saat diceritakan kejadian yang sebenarnya, mereka sudah tau kalau pasca kejadian itu memang ada eksekusi publik namun tak pernah tau apa yang terjadi setelahnya.
Untunglah setelah tragedi itu terjadi kondisi kerajaan semakin membaik, walaupun masih tetap ada pihak yang menyimpan dendam dan mereka yang sembunyi-sembunyi melakukan korupsi.
"Jadi Audrey… gimana keputusan mu ?" Tanya Eliana
"Ah itu..."
Audrey mengambil nafas dengan panjang
Setelah memikirkan lebih lanjut, Audrey memutuskan untuk bergabung seperti yang diinginkan paman dan mereka berdua. Lagi pula mereka tidak benar benar terlihat Pemula, Sebelum bertemu Audrey pun mereka sudah berkelana mencari anggota jadi kemampuan mereka sudah terjamin dan tidak akan menjadi beban. Audrey juga sudah tak terlalu khawatir kekuatannya yang meledak seperti dulu karena sekarang dia sudah berlatih mengendalikannya.
"Baiklah aku menerima nya, mulai sekarang aku anggota party kalian."
"Sungguh ?" Mereka berdua sangat senang karena akhirnya Audrey menerimanya.
"Iya."
"Baiklah besok kita langsung ke guild…" Ucap Hendry dengan semangat dan tak sabar hari esok akan terjadi.